
"Maafin aku sayang, kalo selama ini aku udah enggak adil sama kalian berdua, tapi kecemburuan kamu itu udah berlebihan," ucap Adam.
"Cemburu? berlebihan? maksud kamu apa mas?"
"Kamu boleh cemburu, tapi jangan sampai ngomong hal-hal yang bisa buat dosa untuk diri kamu sendiri,"
"Tapi mas, aku enggak bohong, Ira udah ngaku sama aku, kalo bayi itu bukan anak kamu, tapi anaknya mendiang Ilham,"
Adam menatap Rayya dengan tatapan lembut, Adam menyentuh pipinya dan mengecup keningnya, Mata Rayya memancarkan amarah yang dalam, Menyadari hal itu, Adam langsung memeluknya, Rayya berusaha memberontak tapi Adam tidak ingin melepaskan pelukannya.
"Jangan berfikir buruk istri sholehahku, buang fikiran burukmu jauh-jauh, aku enggak mau kamu terjerumus kedalam lubang fitnah," bisik Adam.
Rayya memejamkan matanya, tanpa terasa air matanya mengalir, Rayya membalas pelukan Adam dengan erat, malam itu Rayya benar-benar merasa takut akan kehilangan Adam.
***
Pagi sudah tiba, seperti biasa, keluarga kecil itu sarapan bersama. Setelah selesai sarapan, Adam berangkat menuju kantornya bersama Amir yang kebetulan sudah bersekolah di sekolah yang cukup dekat dengan kantornya.
Setelah kepergian Adam, Rayya dan Ira membersihkan piring dan membawanya kedapur, Rayya mencuci piring itu dengan dibantu Ira, tapi saat itu mereka tidak saling bicara satu sama lain, hingga akhirnya Ira membuka suara.
"Mbak, maafin aku,"
"Buat apa?"
"Aku belum bisa jujur sama mas Adam,"
"Aku akan tetap nunggu kamu ngomong jujur,"
"Tapi, semalem aku denger, mbak udah cerita sama mas Adam, tapi sayangnya mas Adam enggak percaya, bener kan?"
Rayya menghentikan pekerjaannya dan berbalik menatap Ira yang masih berdiri disampingnya.
"Kamu selain bohong, udah jadi penguping juga?"
"Aku enggak nguping, aku cuma kebetulan lewat, tapi mbak, sampe kapanpun mas Adam enggak akan percaya sama mbak kalo mbak enggak punya bukti apa-apa," Ira tersenyum sinis dan pergi meninggalkan Rayya.
Rayya menatap kepergian Ira, Rayya merasa sangat kesal atas ucapan Ira yang ternyata masih tidak berubah setelah kebohongannya terbongkar.
Setelah pekerjaannya selesai, Rayya duduk dikursi yang berada dihalaman belakang rumahnya, Rayya menelephon Aisyah dan mengatakan dia tidak bisa ke TPA.
Setelah diam beberapa waktu, Akhirnya Rayya ingat sesuatu, dia mencoba menghubungi dokter yang memeriksa Ira beberapa hari yang lalu, tapi sayang dokter itu sedang pergi keluar negeri.
***
Sore sudah tiba, Adam pulang bersama Amir dengan disambut Rayya dan Ira, Setelah makan, Rayya menyarankan kepada Adam supaya membawa Ira melakukan usg agar mereka tahu kondisi bayinya.
__ADS_1
Mendengar saran itu, Adam menyetujuinya, merekapun segera berangkat kerumah sakit menemui dokter kandungan yang lain, Ira benar-benar cemas saat itu, tapi dia tidak bisa menolak permintaan Adam.
Setelah sampai dirumah sakit, Mereka segera masuk keruang pemeriksaan, Adam yang tidak sabar menunggu hasilnya terus setia menunggu.
Dertt... dertt...
Ponsel Adam bergetar didalam sakunya, dilihatnya panggilan dari Ali, Adam keluar ruangan untuk menjawab panggilan itu.
"Bu, aku mau pipis," ucap Amir.
"Aduh, gimana ya, mana mas Adam lagi keluar,"
Melihat Amir yang sangat gelisah, Akhirnya Rayya mengantarnya ke toilet, Tidak lama setelah itu, Adam kembali keruangan dimana Ira sedang melakukan usg.
"Gimana bayinya dok, sehat?" tanya Adam.
"Berapa usia kandungannya dok?" sahut Rayya yang tiba-tiba muncul.
"Bayinya sehat, usia kandungannya sudah 6 bulan, tolong dijaga baik-baik ya, jangan sampai nyonya Ira kelelahan," jawab dokter itu.
"Apa? 6 bulan? anda pasti salah dokter, coba periksa lagi, usia kandungannya itu 8 bulan,"
"Nyonya, saya sudah bertahun-tahun menjadi dokter, saya tidak pernah salah,"
"Tapi dokter, dia..."
"Tapi mas..."
Adam menuntun Rayya menuju mobil, Sementara Ira berjalan dibelakang bersama Amir.
Setelah sampai dirumah, Rayya yang masih tidak percaya dengan hasil pemeriksaan itu kembali membuat keributan.
"Cukup Rayya, cukup! Stop! jangan ngomong gitu lagi, aku enggak nyangka sama kamu, kamu kasih saran buat Ira usg ternyata cuma buat cari tahu usia kehamilan dia? kamu masih mau bilang itu bukan anak aku? Iya?!" bentak Adam.
"Tapi mas, perempuan ini penipu, dia udah bohongin kita semua, bahkan Mayra juga tahu tentang ini, kamu bisa tanya dia,"
Rayya memberikan ponselnya kepada Adam dan memintanya untuk menghubungi Mayra, setelah cukup lama, akhirnya telephon itu tersambung.
"Assalamualaikum Mayra," ucap Adam.
"Waalaikumsalam, maaf ini siapa?"
"Ini Adam, tapi ini siapa?"
"Saya asisten rumah tangga disini, tapi maaf tuan, nyonya Mayra dan tuan Rizal sedang tidak dirumah,"
__ADS_1
"Mereka kemana?"
"Mereka pergi ke Paris tadi sore,"
"Oh ya sudah, Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
Adam mematikan ponselnya dan meletakkannya diatas meja, Rayya yang sejak tadi duduk disampingnya menunggu Adam untuk bicara.
"Mayra pergi ke Paris," ucap Adam.
"Ya Allah, kenapa begini, kalo gitu kita periksa Ira ke dokter lain mas,"
Rayya memegang tangan Adam mencoba mengajaknya, tapi Adam menghentikan langkahnya, membuat Rayya bingung.
"Cukup Rayya, cukup, aku minta sama kamu, buang fikiran buruk itu, aku mohon sama kamu," ucap Adam.
"Iya mbak, kalo mbak enggak bisa terima anak ini, aku lebih baik pergi dari sini," sahut Ira.
"Diam kamu perempuan jahat!" bentak Rayya.
"Cukup Rayya! Diam! Aku udah enggak tahan sama semua ini, kenapa tiba-tiba kamu berubah, kenapa kamu jadi pemarah dan penuduh sekarang?"
"Mas, aku enggak bohong, aku akan cari bukti yang lain,"
"Diam! aku udah enggak mau bahas ini lagi, kita lupain masalah ini, dan kamu Rayya, jangan sesekali ungkit masalah ini lagi, ngerti kamu?" Adam berjalan pergi.
"Mas, aku enggak bohong mas, mas..."
Adam terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun, Rayya berusaha mengejarnya tapi Ira memegang lengannya membuat langkah Rayya terhenti.
"Udah mbak, percuma mbak berusaha, mbak enggak akan berhasil, Oh iya, aku mau ingetin, kalo mbak masih mau tinggal disini sama mas Adam, lebih baik mbak berenti buat buktiin kebohongan aku, kalo enggak, aku terpaksa buat mbak pergi dari sini,"
Ira tersenyum sinis, dia melepaskan genggamannya kepada Rayya, dan pergi begitu saja, Rayya hanya terdiam, dia bingung harus bagaimana lagi supaya Adam percaya semua perkataannya.
"Bu,"
Rayya menoleh kesamping, dilihatnya Amir yang sedang menatapnya, Rupanya sejak tadi Amir menyaksikan keributan itu, tentu itu bukan hal yang baik untuk disaksikan seorang anak berusia 4 tahun.
Rayya memeluk Amir sambil menangis, Amir juga membalas pelukannya, Amir yang masih sangat kecil sepertinya mengerti perasaan Rayya.
"Bu, jangan nangis, kata ibu Amir, kalo kita lagi sedih, lebih baik kita sholat, supaya Allah beri jalan buat kita,"
Rayya menatap mata Amir yang polos itu, hatinya kembali tenang saat mendengar ucapan Amir yang bahkan bersikap lebih dewasa dari usianya.
__ADS_1
Rayya dan Amir melaksanakan sholat bersama, Rayya berdoa didalam hatinya supaya Allah memberinya jalan atas masalahnya dan membuka pintu hati Adam.
"Ya Allah, lindungilah ibu Amir, jangan buat ibu sedih lagi, buatlah ayah supaya enggak marah lagi sama ibu, Amir enggak mau liat ibu dan ayah berantem lagi, Aamiin," ucap Amir dalam doanya.