Ujian Cinta Kita

Ujian Cinta Kita
Penjelasan Ira.


__ADS_3

Setelah semua itu, Ira berpamitan kepada Adam dan Amir, mereka segera pulang kerumah tanpa bertemu Rayya terlebih dahulu.


Sesampainya dirumah, Ira menyuruh Rezi mengemas semua barang-barangnya, Rezi terlihat bingung tapi dia tidak bertanya apa-apa dan menuruti perintah mamanya itu.


Belum sempat Rezi mengemas barang-barangnya, Dia melihat sebuah berita ditelevisi yang mengatakan sebuah pesawat penerbangan dari inggris menuju indonesia jatuh dan terbakar disebuah hutan.


"Ma, itu pesawat papa kan? papa ada didalem pesawat itu?" ucap Rezi.


Ira benar-benar syok melihat berita itu, dia terduduk lemah diatas sofa sampai akhirnya pihak dari penerbangan menghubunginya dan memintanya untuk datang.


***


Ira dan Rezi berangkat menuju tempat yang sudah diberitahu sebelumnya, disana dia melihat jenazah suaminya yang sudah terbujur kaku dengan sebagian tubuhnya penuh luka bakar.


Ira menangis sejadi-jadinya, Rezi yang berusaha tegar mencoba menenangkan mamanya itu, walaupun hatinya juga merasa sangat kehilangan.


Ira sangat mencintai suaminya, walaupun suaminya hanya ayah sambung bagi Rezi, tapi dia sangat menyayangi Rezi seperti anaknya sendiri, Rezi tidak pernah kekurangan apapun, dia selalu mendapat apa yang dia inginkan.


***


Saat akan melakukan pemakaman, tiba-tiba ponsel Rezi berbunyi, dilihatnya sebuah panggilan dari Amir.


"Jangan dijawab," ucap Ira.


"Tapi ma, ini mas Amir," jawab Rezi.


"Mama bilang jangan, jangan kasih tau mereka tentang semua ini, mama enggak mau mereka semakin khawatir,"


Rezi memahami apa maksud dari mamanya itu, dia merijek panggilan Amir dan menonaktifkan ponselnya, dia hanya fokus pada pemakaman papanya.


***


Sudah berhari-hari berlalu, Ira dan Rezi tidak juga bisa dihubungi, Rayya terus meminta Amir untuk menghubungi mereka tapi ponsel mereka tidak ada yang aktif.


"Mereka kaburlah, karena rencananya udah ketahuan, kraukk.." ucap Zidan sambil menggigit apel ditangannya.


"Zidan, bisa diem enggak?" ucap Adam kesal.


"Udah jangan ribut, sebaiknya kita siap-siap, ibu kan mau pulang dari rumah sakit," ucap Amir.


Mereka menyiapkan semua yang akan dibawa, Kondisi Rayya kini sudah semakin baik walaupun terkadang dadanya masih terasa sakit dan sesak tapi dokter sudah memberinya obat.


Sesampainya dirumah, mereka disambut oleh Laksmi dan Ilyas juga Kiara, mereka terus berusaha menghibur Rayya supaya tidak terlalu memikirkan banyak hal yang dapat mengganggu kesehatannya.


"Mbak, aku pengen ketemu Akmal," ucap Rayya.


"Iya mbak tau, yang penting kamu sehat dulu sekarang, nanti kita cari dia ya," jawab Laksmi.

__ADS_1


"Ibu ngapain sih pengen ketemu dia? ibu lebih sayang dia daripada aku? Oh iya juga sih, dia kan anak pertama ibu ya? yang ibu gendong waktu bayi?" sahut Zidan.


"Astagfirullah, Zidan, bisa jaga ucapan kamu? ibu kamu baru pulang dari rumah sakit, liat kondisinya!" bentak Adam.


"Ayah, jangan emosi, sabar, istigfar ayah," ucap Amir menenangkan Adam.


"Astagfirullahal adzim,"


"Halahh, emang kalian itu enggak pernah sayang sama aku," ucap Zidan kesal sambil pergi begitu saja meninggalkan mereka.


Amir berusaha mengejar Zidan, tapi Ilyas melarangnya dan memintanya untuk tetap fokus pada kesehatan Rayya.


"Biarin aja Mir, mungkin dia butuh waktu sendirian, nanti kalo dia pulang, kita omongin baik-baik," ucap Ilyas, Amir mengangguk mengerti.


***


Hari sudah larut, Laksmi dan Kiara yang masih berada disana sedang menyiapkan makan malam diatas meja setelah semua orang melaksanakan sholat isya berjamaah.


Mereka makan bersama, tapi makan malam itu terasa tidak enak karena suasana hati mereka pun sedang tidak baik, Terutama Rayya dan Adam yang terus memikirkan Zidan yang masih belum juga kembali.


"Mir, abis makan tolong cari Zidan ya, ajak Ilyas juga buat nemenin kamu," ucap Adam.


"Iya ayah, ayah tenang aja," jawab Amir.


Setelah makan malam, Amir dan Ilyas segera pergi untuk mencari keberadaan Zidan, baru saja beberapa meter mobil mereka melaju, mereka sudah melihat Zidan mengendarai motornya hendak pulang.


"Iya, ya udah, kita puter balik,"


Amir kembali kerumah dan disana mereka melihat Zidan yang sedang sibuk dengan semua pakaiannya dan juga perdebatan yang terjadi antara Zidan dan Adam.


"Kamu mau kemana Zidan?" tanya Amir.


"Gue mau pergi dari rumah ini," jawab Zidan.


"Mau pergi kemana?"


"Entahlah, buka urusan loe, semua orang dirumah ini kan lebih suka sama loe dan Rezi, ketimbang gue,"


"Jangan bilang gitu Dan, ayuk kita ngomong baik-baik,"


Amir meminta Zidan untuk duduk bersamanya dan bicara, tapi Zidan terus menolak dan tetap berniat pergi dari rumah.


Disaat bersamaan, tiba-tiba pintu rumah diketuk, Kiara segera membuka pintu dan nampaklah sosok Ira yang sudah berdiri didepannya.


"Assalamualaikum," ucap Ira.


"Waalaikumsalam," jawab Kiara.

__ADS_1


"Siapa yang dateng Kia?" tanya Laksmi yang sedang duduk menenangkan Rayya.


"Aku mbak," ucap Ira.


Semua mata tertuju pada Ira saat itu, Begitu juga dengan Zidan, tapi dimatanya hanya nampak sebuah kebencian yang dalam.


"Kalo boleh, aku mau ngobrol berdua sama Zidan," ucap Ira.


"Mau ngapain? Mau ngerayu gue supaya nerima kalian dikeluarga ini?" sahut Zidan.


"Zidan, jaga ucapan kamu!" teriak Adam.


"Enggak apa-apa mas, kalo boleh, aku bisa ngobrol sama dia sebentar aja," lanjut Ira.


"Gue enggak mau," Zidan berjalan pergi, tapi Ira memegang lengannya dan menahannya.


Semua orang pergi meninggalkan mereka berdua, Kini diruangan itu hanya ada Ira dan Zidan yang duduk disebuah kursi panjang.


"Semingga yang lalu, pesawat yang ditumpangi suami tante mengalami kecelakaan," ucap Ira.


"Dan suami tante meninggal dengan luka bakar, Tante merasa kehilangan, tapi Rezi berusaha buat hibur tante,"


"Udah, ngomong intinya aja," jawab Zidan.


"Rezi bukan anak ayah kamu Zidan, ayah kandung Rezi udah meninggal sebelum tante menikah sama ayah kamu," jelas Ira.


Mendengar perkataan Ira, Zidan kemudian menoleh kearahnya dengan tatapan heran, Menyadari hal itu Ira melanjutkan ceritanya.


Ira menceritakan awal pertemuannya dengan Adam sampai akhirnya mereka menikah.


"Jadi, Rezi bukan anak ayah? Tapi kenapa ayah enggak pernah cerita? Ayah cuma bilang kalo Rezi anaknya?" tanya Zidan.


"Mungkin itu semua ayah kamu lakuin buat nutupin aib tante, yang udah hamil sebelum menikah," lanjut Ira.


Zidan terus menatap Ira yang tertunduk.


"Ini semua kesalahan tante Zidan, Rezi enggak tau apa-apa, yang dia tau, ayah kandungnya udah meninggal, dan bagi dia, Om Malik adalah ayahnya, walaupun cuma sekedar ayah sambung," Ira kembali menjelaskan "Tante harap, kamu dan Rezi bisa berteman lagi kayak dulu, jangan salahkan Rezi atas semua ini, cuma itu yang tante minta dari kamu," lanjut Ira.


Seketika fikiran Zidan melayang kemana-mana, ternyata telah salah menilai Ira dan Rezi, Rezi teman yang baik bahkan selalu bersedia membantunya, tapi dia telah menyakitinya karena sebuah kesalahpahaman.


Zidan hanya seorang anak yang tidak rela jika ibunya disakiti, itu semua dia lakukan karena rasa kecewanya terhadap Adam, Rayya tidak pernah mempermasalahkan semua itu, tapi Zidan tetap tidak rela dan melampiaskan amarahnya.


"Zidan minta maaf tante," ucap Zidan.


"Kenapa kamu minta maaf sama tante? Tante enggak pernah anggep kamu salah, tapi tante minta kamu minta maaf sama ayah dan ibu kamu," jawab Ira.


"Makasih tante,"

__ADS_1


Ira mengelus kepala Zidan dengan lembut seperti apa yang dia lakukan kepada Rezi, Kemudia Ira memeluknya, kini hatinya merasa tenang karena kesalahpahaman itu sudah terselesaikan.


__ADS_2