Ujian Cinta Kita

Ujian Cinta Kita
Kelahiran bayi Ira.


__ADS_3

Ira mulai menjelaskan semua kebohongannya kepada Adam, dimulai dari awal pernikahan mereka hingga akhirnya Ira dinyatakan mengandung.


"Lalu, malam itu? Apa bener kita ngelakuin hal itu?" tanya Adam.


"Enggak mas, itu juga bohong, malam itu kamu enggak sadar setelah aku campur susu hangat dengan obat tidur, aku harap kamu lupa sama istri kamu, tapi nyatanya kamu terus manggil-manggil nama dia, tapi hubungan itu enggak pernah terjadi sekalipun,"


Adam memejamkan matanya saat mendengar penjelasan Ira, dia benar-benar tidak menyangka kalau Ira bisa melakukan kebohongan sampai sejauh itu.


"Mas, aku udah terlanjur cinta sama kamu, aku enggak mau kehilangan kamu," bujuk Ira.


"Aku juga enggak mau kehilangan Rayya," jawab Adam.


"Tapi mas, kalian udah cerai, sekarang kamu cuma milik aku,"


"Hah, siapa bilang? Aku enggak pernah men-talak Rayya sekalipun, dan asal kamu tahu, semua ini rencana aku dan Rayya buat cari tahu semua kebohongan kamu,"


"Maksud kamu apa mas? Kalian udah tanda tangan surat cerai itu, itu artinya kalian udah cerai tinggal tunggu keputusan pengadilan,"


"Itu bukan surat cerai, itu cuma sertifikat pengalihan pesantren,"


"Jadi, kalian berdua bohongan aku? kalian tega sama aku, kalian jahat!!"


Setelah mengetahui kebenaran tentang kebohongan Adam, Ira benar-benar marah, dia bahkan sampai memukul Adam tapi Adam tidak melakukan perlawanan.


Saat Ira hendak menamparnya, Adam lebih dulu memegang tangannya, Ira terus memberontak sampai akhirnya dia merasa kesakitan pada perutnya.


"Kenapa kamu? jangan bohong lagi," ucap Adam.


Ira terus meringis kesakitan sambil memegang perutnya, karena tidak kuat menahan sakit, Ira jatuh pingsan tidak sadarkan diri.


Adam yang merasa khawatir, langsung membawanya menuju rumah sakit, dr.Tania pun sudah dihubunginya hingga dia langsung menyiapkan ruangan untuk Ira.


Adam merasa cemas melihat kondisi Ira, Tidak lama kemudian, Rayya tiba dirumah sakit bersama Amir, Rayya segera mendekati Adam yang sedang duduk termenung diruang tunggu.


"Mas, apa yang terjadi?" tanya Rayya.


"Rayya, Ira pingsan, dia kesakitan," jawab Adam.


"Tenang mas, jangan cemas, kita serahkan semua sama Allah,"

__ADS_1


***


Setelah beberapa menit menunggu, dr.Tania keluar dari ruangan dan mengatakan harus melakukan operasi pada Ira karena kandungannya yang cukup lemah, Adam menandatangani surat persetujuan operasi supaya dokter segera melakukan tindakan.


"Kalo dr.Tania bilang yang sebenarnya, terus, kenapa dokter yang kemarin itu bilang usia kandungan Ira baru 6 bulan," gumam Rayya.


"Ira membayar dokter itu supaya berbohong, dokter itu teman lama Ira waktu di Semarang," jawab Adam.


"Apa? darimana kamu tahu mas?"


"Aku udah cari tahu semuanya Rayya, beruntung waktu itu aku bicara baik-baik sama kamu, hingga akhirnya kita buat rencana ini, biar kita tahu sifat dan keburukan Ira," jawab Adam.


"Mungkin ini jalan yang Allah kasih buat kita mas, aku seneng kamu percaya sama semua ucapan aku,"


"Aku selalu percaya kamu Rayya,"


"Tapi, bukannya kamu udah cinta sama dia mas? itu enggak mungkin kebohongan kan?"


"Itu bukan cinta Rayya, itu cuma hawa ***** yang dateng sesaat, aku merasa Ira nampak cantik, tapi buat jatuh cinta, kecantikan rupa bukan segalanya,"


Rayya tersenyum tipis, hatinya merasa tenang saat mendengar jawaban Adam, dia tahu kalau Adam tidak akan semudah itu jatuh cinta pada perempuan lain, jika sifat Adam seperti itu, mungkin dulu dia sudah terjebak cintanya Mayra.


***


Rayya memberitahu keluarganya mengenai Ira dan bayinya melalui telephon, semua orang merasa cukup senang, walaupun mereka sudah tahu kalau itu bukan anak kandung Adam.


"Mas, apa kamu udah cerita sama ibu dan bapak tentang kebohongan Ira?" tanya Rayya.


"Iya, aku harus cepet kasih tau mereka, jadi sebelum aku ungkap kebohongan Ira, aku telephon ibu dan bapak, mas Musa dan Laksmi," jawab Adam.


"Pasti mereka syok mas,"


"Enggak apa-apa syok sebentar, daripada Ira terus-terusan bohong,"


Rayya menghela nafas atas jawaban Adam, tidak terasa adzan isya berkumandang, Adam dan Rayya melaksanakan sholat berjamaah di mushola yang ada dirumah sakit, mereka berdoa untuk kebaikan Ira dan bayinya, juga berharap supaya Ira berubah.


Setelah sholat isya, Adam, Rayya, dan Amir makan malam dikantin rumah sakit, mereka masih belum bisa menjenguk Ira diruangannya karena Ira masih harus istirahat.


"Bu, apa Amir punya adik?" tanya Amir.

__ADS_1


Rayya menatap Adam berharap Adam memiliki jawaban untuk pertanyaan Amir.


"Iya, kamu punya adik," jawab Adam sambil mengusap kepala Amir.


"Horee..."


Adam dan Rayya merasa cukup senang melihat kebahagiaan Amir, Setelah makan malam itu mereka kembali keruangan Rayya, malam itu mereka menginap disana untuk menjaga Ira.


Waktu cepat berlalu, Suara adzan subuh mulai terdengar, Mereka bangun untuk melaksanakan sholat, Adam dan Amir pergi ke mushola, sementara Rayya sholat diruangan dimana Ira dirawat.


Setelah sholat, Rayya membaca al-qur'an, tanpa dia sadari rupanya Ira sudah sadar dan sedang memperhatikannya, Ira meneteskan air mata hatinya merasa tersentuh dengan ketulusan hati Rayya.


Rayya yang mendengar suara isakan itu segera menoleh kearah Ira, Rayya segera mendekatinya saat dia melihat Ira sedang menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Ira, kamu udah siuman?" tanya Rayya.


Ira malah semakin menangis, dia segera duduk dan memeluk Rayya dengan erat.


"Mbak, maafin aku, aku udah bohongin kalian semua, aku malu," ucap Ira.


"Alhamdulillah, kalo kamu udah tahu yang mana yang baik dan buruk, aku cukup lega,"


"Sekarang aku enggak sanggup ketemu mas Adam, aku bener-bener malu mbak,"


"Buat apa malu? biar gimanapun kamu masih istrinya mas Adam kan? biar aku yang jelasin sama dia,"


Saat itu, Adam dan Amir baru kembali dari mushola, tanpa sengaja Adam mendengar semua obrolan antara Rayya dan Ira, Adam meminta kepada Rayya untuk bicara berdua.


"Kenapa kamu bilang gitu Rayya? Semua udah terungkap, mau enggak mau, aku akan ceraikan dia," ucap Adam.


"Jangan ambil keputusan buru-buru mas, kamu fikir dulu baik-baik, Ira enggak punya siapa-siapa, dan sekarang dia juga punya anak, kamu enggak kasian sama anak itu?"


"Tapi Rayya, aku..."


Belum sempat Adam melanjutkan ucapannya, dokter Tania datang untuk memeriksa kondisi Ira, Rayya dan Adam mengikutinya menuju ruangan Ira.


"Kondisi nyonya Ira dan bayinya sudah cukup baik, besok bisa boleh pulang," ucap dokter Tania.


"Alhamdulillah, terima kasih dokter,"

__ADS_1


Dokter Tania meninggalkan mereka, dan seorang perawat membawakan sarapan untuk Ira, Melihat Ira yang belum pulih, Rayya membantunya makan dengan menyuapinya.


Adam yang duduk disana, hanya memperhatikan keakraban kedua istrinya itu, sementara Amir sedang memandang wajah bayi mungil yang sudah dipindahkan keruangan Ira.


__ADS_2