Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku

Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku
Chapter 10


__ADS_3

Setelah makan malam, aku dan mas Yandri menghabiskan waktu berdua di depan televisi dengan gelas kopi ditangan masing-masing. Mas Yandri memberitahuku jika weekend minggu depan akan ada acara serah terima jabatan dari kepala cabang yang lama. Aku diminta hadir untuk menemaninya dalam acara tersebut.


Selama beberapa saat, kami membahas hal yang random. Sampai akhirnya, aku menceritakan tentang kunjungan bu Jejen.


"Mas percaya kok, Neng bisa dengan gampang menghadapi Bu Jejen," Mas Yandri tertawa saat aku selesai bercerita.


"Neng jaga diri aja selama di rumah. Walaupun konon katanya tetangga adalah keluarga terdekat, tapi tetap hati-hati juga ya."


Aku mengangguk mengiyakan.


***


Ibu-ibu di tukang sayur menatap kedatanganku. Ada yang berbeda dari pandangan mereka. Beberapa yang berdiri agak jauh, melihatku seraya berbisik-bisik. Aku langsung tau, ini pasti ada hubungannya dengan kedatangan bu Jejen kemarin.


Tanpa mempedulikan itu semua, aku tetap bersikap ramah pada mereka. Setelah selesai berbelanja di tukang sayur, aku melangkahkan kakiku menuju warung terdekat untuk membeli stok kopi dan mie instan. Terlihat ada bu Jejen dan gengnya sedang duduk di bangku warung.


Senyumanku diabaikan oleh beberapa ibu-ibu pengunjung warung. Hanya pemilik warung yang tetap bersikap ramah.


"Baru tau saya, anak muda sekarang sombong ya!" suara bu Romlah memasuki gendang telingaku.


Aku tersenyum dalam hati, rupanya mereka ingin main keroyok.


Sebenarnya aku sudah selesai belanja. Namun, rasa penasaran membuatku mengambil gorengan dan ikut duduk berkumpul.


Sekian lama tidak ada yang berbicara, sampai akhirnya bu Mumun membuka suara.


"Rere! Tau ngga kamu itu udah bikin Bu Jejen nangis kemarin! Kamu jahat!"


Oh wow, aku baru saja menikmati satu buah gorengan saat pengeroyokan sudah dimulai.


"Iya nih, kamu kok sama orang tua ngga sopan gitu?!"

__ADS_1


"Bener, pake ngusir segala lagi!"


"Ngatain Bu Jejen miskin juga kan?!"


"Kalau ngga mau bantu, ngga usah menghina!"


"Anak muda sekarang minim moral!"


"Saya kira orangnya ramah, taunya judes!"


Ucapan-ucapan itu keluar dari mulut para pengunjung warung yang notabene masih tetanggaku.


"Emang ibu-ibu tau darimana?" tanyaku. Aku heran karena cerita yang beredar jauh dari kenyataan.


"Di Whatsapp grup lah! Blok kita kan ada WA Grup-nya. Kemarin Bu Jejen curhat kalo udah dikasarin sama kamu, Re!" Bu Mumun menjawab.


Oke, ada sesuatu yang tidak beres. Baiklah, mari kita luruskan.


"Percuma! Kamu masuk grup juga ngga akan bisa baca curhatan Bu Jejen kemarin." Bu Romlah menatapku sinis.


"Kamu pasti mau mengelak ya kan?! Kita udah tau, manusia tipe kaya kamu itu ngga akan mau mengakui kesalahan!"


"Ngga kok Bu Romlah, saya masuk grup untuk memastikan jika Bu Jejen meminta maaf dengan benar," aku tersenyum seraya menatap ke arah bu Jejen.


Wanita itu tertangkap basah sedang mencuri pandang ke arahku. Setelahnya, ia kembali menunduk dan memasang tampang sedih. Sepertinya beliau sedang berekting.


"Mumpung Bu Jejen dan Neng Rere ada di sini. Sebaiknya kita selesaikan masalah yang kemarin beredar di grup." Ibu pemilik warung berkata lembut.


"Maaf ya neng, bukannya ibu mau ikut campur. Kebetulan aja kalian berdua ada di sini, jadi daripada berita yang menyebar makin ngga karuan, kita tuntaskan sampai di sini."


Aku mengangguk mengerti. "Tolong dijelaskan Bu, memang ada cerita apa?" Aku bertanya pada ibu pemilik warung.

__ADS_1


"Kemarin sore Bu Jejen curhat di grup warga. Katanya, beliau datang ke rumah Neng Rere untuk meminjam uang. Tapi, Neng Rere selain menolak juga memaki dan mengusir Bu Jejen. Bahkan, saat menyuruh Bu Jejen keluar dari rumah, Neng juga mendorong beliau hingga terjatuh." Ibu warung menjelaskan dengan hati-hati.


Aku melongo sampai beberapa saat hingga akhirnya tertawa. Jadi begini cara mainnya. Baiklah!


Aku berdiri dan pindah duduk tepat di hadapan bu Jejen. Mataku masih melihat wajahnya yang menunduk.


"Bu Jejen," panggilku.


Wanita itu masih diam dan mengabaikan panggilanku


"Bu Jejen serius ngelakuin ini sama saya? Kita berdua tau persis loh bagaimana kejadian kemarin. Kenapa cerita yang beredar jadi beda gini ya?"


Sosok di hadapanku seolah tidak mendengar apa yang kukatakan.


"Udah dong Re, kamu jangan neken Bu Jejen! Kasian dia, kamu jahatin terus!"


"Bu Mumun tau kejadian pastinya seperti apa?" Aku menolehkan wajah pada sumber suara yang barusan bertanya.


"Kayanya kalau ibu ngga tau, sebaiknya ibu diem deh. Daripada nanti malu. Yakan?" Ucapanku tersebut rupanya mematik amarah anggota geng bu Jejen tersebut.


"Benar yang Bu Jejen bilang! Kamu ngga sopan sama yang lebih tua!"


Aku bernafas pelan berulang kali untuk meredakan amarah. Tubuhku kembali menghadap bu Jejen.


"Bu Jejen, di rumah saya ada CCTV loh."


Ucapanku sontak membuat bu Jejen mengangkat wajahnya. Begitu juga dengan wajah ibu-ibu yang lain.


"Di rumah saya ada CCTV. Saya tunggu klarifikasi cerita yang sebenarnya dari ibu, sekaligus permintaan maaf. Jika tidak, hanya ada dua hal yang akan saya lakukan. Memberitahukan video asli dari CCTV kepada warga atau langsung ke kantor polisi. Ibu punya waktu 1 X 24 Jam sebelum saya bertindak. Saya tunggu itikad baik ibu."


Aku terdiam beberapa saat untuk mengamati reaksi dari bu Jejen. Aku berbohong. Sebenar-benarnya adalah, aku sedang memancingnya untuk membuka mulut. Bisa kupastikan, tidak ada satupun CCTV di rumahku. Tidak ada.

__ADS_1


Aku bangkit berdiri bermaksud untuk pulang. Malas rasanya jika harus menjelaskan sendiri. Biarkan saja bu Jejen menyelesaikan apa yang sudah dia mulai. Setelah membayar gorengan yang kumakan pada ibu warung, aku berpamitan pada semua yang hadir di situ dan melangkah pergi.


__ADS_2