Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku

Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku
Episode 49


__ADS_3

Bu rt dan pak rt menjenguk Dre pada saat jam besuk sore. Mas Yandri menemani pak rt di ruang tunggu lantai perawatan anak, sedangkan bu rt menemaniku di kamar.


"Bu Rere, maaf kalau saya lancang. Apa betul kalau sekarang Pak Yandri sudah ngga bekerja?"


Aku mengangguk mengiyakan, "Iya bu, Mas Yandri kena PHK dari kantornya. Dan kami juga akan pindah dari rumah yang sekarang kami tempati jika sewanya sudah habis. Rumah itu fasilitas dari kantor soalnya."


"Bu Rere sudah ada bayangan, bagaimana untuk ke depannya?"


"Belum bu, saya tadinya berniat untuk membuka usaha kecil-kecilan, tapi saya juga masih belum tau mau usaha apa. Ditambah lagi, saya ngga punya keterampilan.


"Kalau Bu Rere jualan makanan tertarik ngga?" Mata Bu rt lekat menatapku.


"Saya mah apa aja sih Bu rt. Dalam kondisi yang sekarang, saya ngga akan pilih-pilih. Yang terpenting ada yang bisa kami andalkan untuk menutup biaya hidup sehari-hari."


"Kalau misalnya Bu Rere tertarik, bagaimana kalau jualan ayam bakar bumbu banten? Saya dulu membantu orang tua saya berjualan. Peminatnya banyak, tapi sayangnya harus tutup karena tidak ada yang melanjutkan. Saya sendiri setelah menikah ikut bapak pindah-pindah dan fokus mengurus anak. Kalau Bu Rere mau, nanti saya akan ajarkan cara membuatnya beserta resep rahasianya."


Mataku mengembun. Sungguh, harapan baru terbit dihatiku.


"Kalau memang begitu, nanti setelah Dre sehat, saya akan ngajarin ibu."


Aku tersenyum mengiyakan. Kesempatan akan datang dari siapa saja dan kapan saja. Saat satu pintu rejeki tertutup, pintu-pintu lainnya terbuka. Rejeki juga gaib, akan datang sewaktu-waktu. Intinya balik lagi ke manusianya sendiri. Untuk mendapatkan rejeki, tidak cukup hanya dengan doa. Diperlukan usaha yang nyata. Kasarnya, mintalah pada Allah dengan doa dan ambillah dengan usaha.


***


Sepulangnya bu rt, ibu dan Lita datang. Aku dan Mas Yandri memberitahukan keadaan kami yang sebenarnya. Tadinya kami bermaksud akan merahasiakan hal ini karena tidak mau beliau kepikiran. Namun disatu sisi, kami tidak mau ibu mengira jika kami tidak menghargainya dengan menyembunyikan keadaan kami.

__ADS_1


"Ya Allah, jadi gimana kalian hidup untuk ke depannya?" Mata ibu dan Lita berkaca-kaca.


"Insya Allah akan ada jalan Bu. Barusan Bu rt juga nawarin Neng buat usaha." Aku menceritakan dengan detail percakapanku dengan bu rt.


"Semoga lancar ya Re. Oh iya, stop memberi Ibu uang bulanan mulai dari sekarang. Kalian lebih membutuhkan."


Mas Yandri menggeleng, "Ngga Bu, jatah bulanan untuk Ibu akan tetap kami berikan. Walaupun mungkin tidak sebesar biasanya."


"Kamu! Jangan membantah ucapan ibu, Yandri! Kalian lebih butuh! Ibu tau kalian selalu mengutamakan ibu daripada diri kalian sendiri. Tapi kalian salah menempatkan posisi. Urutannya adalah utamakan dulu diri sendiri dan keluarga kalian, baru Ibu! Kalau kalian masih nekat, Ibu bisa marah!"


"Iya Bu, iya. Yandri nurut deh sama Ibu." Akhirnya Mas Yandri mengalah karena tau, dia tidak akan menang melawan perkataan ibu.


***


Jika kalian mengira aku akan dengan mudah mempelajari resep orang tua bu rt ini, kalian salah. Aku butuh berkali-kali gagal dan kembali mencoba sampai hasilnya sesuai dengan rasa aslinya. Bukan hal yang mudah. Untuk membuat bumbu banten aku harus rela berdiri kepanasan di depan kompor selama dua jam penuh.


Belum lagi membuat sambal yang terdiri dari berbagai macam jenis cabai. Setiap usaha tidak akan selalu mulus dan lancar. Tapi disitulah manusia diuji. Akan terus maju atau berhenti yang tandanya kalah.


***


"Nah, ini udah pas nih Bu Rere. Rasanya sama persis," Bu rt terdengar senang. Bukan tanpa sebab, tidak mudah memang urusan masak memasak, apalagi jika harus berkali-kali gagal.


"Alhamdulillah, bener Bu? Rasanya sama?" tanyaku penasaran.


"Sama persis. Duh saya jadi nostalgia. Dulu waktu saya gadis, saya sering banget ngerasain rasa ini. Sekarang baru bisa nyobain lagi." Bu rt termenung. Mungkin beliau teringat pada orang tuanya.

__ADS_1


"Rasa yang pernah ada ya Bu," aku menimpali.


Bu rt mengangguk dan tertawa.


***


"Untuk pemasarannya, nanti Neng akan umumin di grup warga. Bu rt dan beberapa ibu-ibu lain juga bilang akan ngebantuin promo ke temen-temen mereka Mas. Jadi kita buka di rumah aja. Dan sistemnya delivery. Nah, untuk nyebarin nomor delivery, harus pake brosur gitu."


Mas Yandri mengangguk mengerti. Kami baru saja selesai membeli beberapa peralatan untuk menunjang usaha kami. Dari kompor pemanggangan, hingga dus dan kertas nasi untuk mengemas jualan.


"Ya udah Neng, nanti biar Mas yang nyebarin brosur. Deket-deket sini aja kan?"


Aku mengangguk. "Iya deket-deket sini aja. Neng juga udh bikin brosurnya, tinggal di cetak."


"Tapi Neng, ngeprint di warnet kan lumayan harganya. Apalagi kalau berwarna."


Aku tertawa. "Mas itu sarjana ekonomi kok ga bisa berpikir ekonomis sih. Print aja satu lembar. Satu lembar kertas 'kan bisa buat 2 brosur. Print satu, sisanya fotokopi. Lebih murah."


"Oh, iya ya, difotokopi aja," Mas Yandri terkekeh.


"Ya itu lah Mas, kita terbiasa hidup enak selama ini. Uang ada, jadi apa-apa kita selalu ngambil jalan yang mudah walaupun harus keluar uang. Kalau sekarang kita harus berpikir cermat, apa yang bisa dihemat, dihemat." Aku berkata panjang lebar.


"Iya deh iya, istri sarjana ekonomi pinter juga," Mas Yandri meledekku.


Aku hanya tertawa mendengar perkataannya.

__ADS_1


__ADS_2