Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku

Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku
Episode 13


__ADS_3

Ketenangan yang diberikan bu Jejen dan kawan-kawannya rupanya hanya sebentar saja. Dia kembali lagi menyindirku. Entah secara terang-terangan atau secara tersirat di WA grup.


Aku yang sering membaca sindirannya tidak mau ambil pusing dan menghabiskan energiku untuk meladeni omongannya yang tidak berdasar.


Peristiwa dimana ia melihat Mas Yandri dengan wanita lain digunakannya sebagai kartu untuk menyindirku. Berkali-kali ia membahas pentingnya seorang istri menjaga penampilan agar suami betah dirumah.


***


"Walaupun saya di rumah aja, saya tetep gaya. Biar mata suami adem gitu kalo ngeliat saya." Bu jejen berkata keras dan melirikku yang sedang berjalan menghampiri tukang sayur.


Kedua temannya yang juga melihatku menjawab perkataan Bu Jejen dengan suara yang tidak kalah kencang.


"Harus itu Bu Jejen. Kalau dirumah cuma pakai kaos dan celana pendek aja, gimana suami mau betah. Di kantor tuh kan banyak perempuan-perempuan yang modis, yang bikin adem mata. Giliran pulang ke rumah bawaannya eneg."


Dan banyak lagi pembahasan mereka. Aku yang memang sengaja tidak menyimak hanya diam memilih sayuran, sesekali menimpali pertanyaan ibu-ibu lain.


"Rere! Kamu nikah udah berapa lama sih?" tanya bu Jejen tiba-tiba.


Aku menoleh menatapnya. "Hampir setaun Bu."


"Loh, saya kira pengantin baru. Ternyata udah mau setaun toh," ucapnya tersenyum sinis


Aku mengerutkan kening mendengar perkataannya barusan.


"Ada masalah Bu?" tanyaku langsung.


"Oh ngga ada sih. Saya ngga punya masalah apa-apa. Kamu kayanya yang bermasalah. Udah nikah mau setaun belum dikasih anak juga. Udah periksa belum ke dokter? Kali aja kan mandul."


Wow, usia yang lebih tua bukan berarti lebih bijaksana. Hari ini aku melihat dengan kedua mataku langsung.

__ADS_1


"Urusannya sama ibu apa kalau memang saya mandul?" tantangku.


"Ya ngga ada urusannya sama saya sih. Saya kasihan aja kalau ternyata benar kamu mandul. Nanti kamu bisa ditinggalin sama suami kamu, Re."


Cukup sudah. Aku sempat mulai menaruh rasa hormat pada Bu Jejen karena keberaniannya meminta maaf saat melakukan kesalahan. Tapi, melihat sekarang ia kembali menggangguku, menunjukkan permintaan maafnya hanya sekedar ucapan belaka agar ia terbebas dari situasi yang tidak diinginkan, bukan benar-benar tulus seperti dugaanku sebelumnya.


Aku berjalan menuju tepat dimana Bu Jejen berdiri. Dengan menatap langsung ke matanya, aku berkata,


"Kalaupun suami saya sampai meninggalkan saya, itu tandanya sudah tertulis dalam takdir saya. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan ibu. Oh iya, dan masalah hamil, ibu-ibu tau persis kalau saya mandul?"


Bu Jejen dan gengnya dengan kompak menggeleng.


"Hamil itu hak Prerogatif Allah. Kalau ibu penasaran kenapa saya sampai sekarang belum hamil juga, ibu bisa bertanya langsung pada Allah. Mau saya doakan agar secepatnya?"


Bu Jejen hanya melongo mendengar perkataanku. Sudah kuduga, ia masih belum menyadari arti ucapanku.


Aku kembali mengambil belanjaan sayurku dan berbalik menuju ke rumah saat terdengar teriakan murkanya,


"Bagus deh kalo ibu ngerti. Ibu pinter juga walaupun lama mikirnya," seruku sesaat sebelum menutup pagar.


***


Sore ini Mas Yandri pulang dengan membawa banyak bungkusan.


"Mas beli apa?" tanyaku sembari menutup pintu rumah.


"Ngga beli Neng, ini dikasih anak kantor."


Mas Yandri menaruh bungkusan-bungkusan itu di meja makan dan beranjak menuju kamar mandi.

__ADS_1


Aku membuka satu persatu dan menemukan banyak makanan rumahan di dalamnya. Ada juga beberapa kue dan buah.


"Mas mau makan yang ini atau mau makan masakan Neng?" tanyaku saat Mas Yandri sudah duduk di meja makan.


"Yang Neng aja, Mas ngga terlalu suka daging-dagingan 'kan."


Aku mempersiapkan piring dan duduk menemaninya hingga selesai makan.


"Dari siapa ini Mas? banyak banget loh, tau ada yang mau ngirim makanan sebanyak ini kan mending Neng ngga usah masak tadi."


"Itu dari Bagas, anak buah Mas. Katanya kemarin habis ada acara dirumahnya," jawab Mas Yandri


Setelah makan suamiku itu beranjak menuju ke depan televisi.


Aku berniat memindahkan makanan yang dibawa Mas Yandri ke tempat lain agar aku bisa mencuci wadahnya. Besok aku akan mengisinya dengan kue dan meminta Mas Yandri mengembalikannya pada Bagas.


Sekilas aku mencium bau busuk berasal dari makanan yang sudah kupindahkan. Merasa aku yang salah cium, aku menghampiri Mas Yandri dan memintanya memastikan apakah makanan tersebut memang berbau.


"Ngga bau kok Neng, wangi masakan biasa."


Kembali ke dapur dengan kening berkerut, satu pemikiran terbesit di kepala dan membuatku memeriksa makanan lainnya. Semua sama, berbau busuk dan menyengat yang anehnya tidak tercium oleh Mas Yandri.


'So, you wanna play with magic...,' kataku dalam hati dan tersenyum.


***


"Sebisa mungkin jangan sembarangan memakan pemberian orang. Kalaupun memang harus dimakan tapi teteh masih ragu, coba pindahkan ke wadah lain dulu dan bacakan Ayat Kursi. Ayat Kursi dimaksudkan, agar Allah senantiasa melindungi kita. Selanjutnya, jika makanan itu berubah menjadi basi dalam tempo yang cepat, langsung dibuang aja. Tapi kalau makanannya ngga kenapa-kenapa, itu tandanya aman."


"Kenapa bisa basi secepet itu, Mah?"

__ADS_1


"Kalau kata orang tua dulu, itu tandanya ada yang punya niat jelek atau ada keluarga yang mau sakit, Teh. Wallahu a'lam. Ngga ada salahnya waspada 'kan?"


Aku mengingat pembicaraanku dengan mama saat berpamitan pada beliau untuk pindah mengikuti mas Yandri ke kota ini.


__ADS_2