Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku

Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku
Episode 16


__ADS_3

Sepulang dari dokter, aku dan Mas Yandri duduk berdua dan mulai mencari di mesin pencarian internet beberapa kemungkinan penyebab sakit yang kuderita. Penyakit autoimun yang tadi dijelaskan dokter pun bisa kutemukan penjelasannya. Namun menurut penelitian, kasus tersebut jarang sekali terjadi. Beberapa ciri yang ku rasakan merujuk pada kondisi syaraf terjepit. Aku bahkan menemukan juga iklan pengobatan alternatif.


"Mas, ini ada pengobatan alternatif pijat refleksi buat syaraf terjepit." Aku memberitahu Mas Yandri.


"Emang kamu mau nyoba kesana Neng?


"Ya nyoba aja kan, siapa tau emang syaraf kejepit. Kalau ke spesialis syaraf terus ternyata disuruh MRI gimana? Biaya MRI mahal banget loh mas. "


Mas Yandri menatapku, "Ya ngga masalah mahal juga, berapapun akan Mas usahakan asal kamu sehat lagi."


"Iya tau, tapi Neng takut. Nyobain ke alternatif dulu ya Mas," bujukku.


"Nyobain aja, kali memang syaraf kejepit. Soalnya, Neng sebelum sakit emang angkat-angkat barang terus nyapu-nyapu, ngepel-ngepel."


Mas Yandri menghela nafas perlahan.


"Ya udah kita cobain ke alternatif dulu, nanti kalau ga ada perubahan, baru kita ke spesialis syaraf ya. Kamu ngga boleh nolak."


Aku nyengir dan mengangguk.


***


Lokasi pengobatan alternatif tujuanku ternyata cukup jauh. Letaknya di pinggir kota. Karena hal itu juga Mas Yandri ijin tidak masuk kerja. Pengobatan alternatif ini sepertinya cukup terkenal. Terbukti saat kami menanyakan jalan pada penduduk sekitar, mereka dengan cepat langsung menunjukkan lokasinya.


Tempat tersebut juga cukup ramai. Aku mengambil nomor antrian dan duduk menunggu bersama dengan pasien lainnya. Saat giliranku tiba, aku disuruh duduk. Bapak yang menanganiku memijat beberapa titik di punggung. Setelah itu ia memijit telapak kakiku.


"Ini kurang minum," sahut bapak itu.


"Kurang minum?" aku bergumam pelan.


"Iya kurang minum. Efek kurang minum itu bisa menjalar kemana-mana. Bisa ke ginjal, bisa ke darah. Kalau ini sepertinya ke darah. Darah jadi kental dan otomatis pasokan oksigen dalam aliran darah ke tubuh berkurang. Ini salah satu efeknya. "

__ADS_1


Aku mengucap Hamdalah dalam hati. Ternyata malah bukan syaraf terjepit seperti dugaanku. Hanya kurang minum.


***


Sekembalinya dari pengobatan alternatif, aku menjadwalkan waktu untuk minum air putih. Setiap 10 menit sekali alarm ponselku berbunyi. Efeknya pun langsung terasa. Badanku terasa lebih ringan dan nyeri di paha mulai jauh berkurang. Terrnyata sesimpel itu.


***


Sakit di badanku sudah menghilang, tapi digantikan oleh demam tinggi. Demam terjadi dari sore sampai menjelang magrib. Dan ini sudah terjadi 3 hari terakhir.


"Bangun Neng, kita ke rumah sakit." pukul 5 lewat Mas Yandri sudah tiba dirumah.


Tanpa banyak membantah, aku pun menurut. Mas Yandri membantuku mengganti baju dan bersiap-siap.


Perawat di rumah sakit terdekat dari rumah kami mengarahkan kami ke IGD karena poliklinik sudah tutup. Aku menceritakan keluhanku pada dokter yang berjaga. Sebagai prosedur, perawat akan mengambil darahku untuk diperiksa.


"Ibu, ada mual ngga Bu?" tanya dokter.


Dokter mengangguk mengerti dan mengatakan jika ada kemungkinan aku terserang demam tifoid.


"Tapi nanti kita liat hasil tes darahnya ya Bu. Sekalian setelah ini saya mau periksa urine Ibu. Nanti ada suster yang akan membantu."


Aku mengangguk mengerti.


***


Aku masih berbaring saat melihat jika jam sudah menunjukkan pukul 7 malam.


"Mas, cari makan dulu sana," ucapku pada Mas Yandri


"Ngga Neng, nanti aja nunggu hasil pemeriksaan Neng beres. Mas juga ngga tenang ninggalin Neng disini."

__ADS_1


Kami berdua kembali menunggu selama hampir setengah jam ketika dokter dan suster memasuki ruangan bersekat tempatku berbaring.


"Ibu Rere, hasil pemeriksaan darahnya normal ya. Cuma ini Leukosit agak sedikit tinggi, tanda ada infeksi. Bisa jadi itu penyebab demamnya. Saya akan resepkan antibiotik ya. Selain itu selamat, dari hasil urine menunjukkan kalau Ibu Rere positif hamil."


Aku dan Mas Yandri sangat terkejut sampai-sampai kami hanya bisa diam.


"Saya resepkan juga beberapa vitamin dan Asam Folat ya Bu. Makannya dijaga, jangan terlalu banyak beraktifitas."


Aku menatap dokter dan masih tidak mempercayai pendengaranku.


"Terima kasih banyak dokter atas bantuannya." ucapku lirih.


Dokter tersebut tersenyum dan pergi meninggalkan tempat tidurku.


"Ibu Rere sudah bisa pulang ya Pak, silakan ke bagian administrasi." Ucapan suster membuat Mas Yandri langsung bergerak.


Aku menangis sepeninggal suster. Rasa haru dan syukur bercampur menjadi satu.


***


"Neng pelan-pelan," ucap Mas Yandri seraya memegang tanganku untuk membantu turun dari tempat tidur ruang IGD.


"Mas apa sih? Neng bisa sendiri kok. Neng ga sakit. Neng cuma hamil" ucapku santai.


Mas Yandri tiba-tiba memelukku erat dan aku mendengar ucapan Hamdalah dari mulutnya. Ia merangkulku hingga kami keluar rumah sakit.


"Neng mau makan apa?" tanyanya tersenyum.


"Neng mau makan nasi padang. Dua porsi!" ucapku spontan.


Kami berdua tertawa pelan seraya berjalan menuju tempat mobil diparkir.

__ADS_1


__ADS_2