Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku

Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku
Episode 19


__ADS_3

"Neng, gajian bulan ini, jatah kamu dikurangi ya? Jadi satu juta aja, nanti kalau Mas ada rejeki lebih, Mas tambahin lagi." Mas Yandri berucap seraya memberikan slip gaji padaku.


"Kenapa Mas, ada masalah?"


"Ngga, cuma Mas mau ngasi agak banyak buat Ibu. Buat sekolah Ana sama Lita," jawab Mas Yandri.


Aku mulai merasakan perasaan was-was. Mungkin jika saja beberapa hari yang lalu aku tidak mendengar Mas Yandri menelpon seseorang secara bisik-bisik di teras, perasaanku tidak akan seperti ini.


Selain itu juga, aku baru menyadari jika ATM pemberian Mas Yandri tidak ada lagi di dompetku.


Untuk ke warung atau ke tukang sayur, aku menggunakan dompet kecil. Uangnya aku ambil tiap hari dari dompet besar yang selalu tersimpan rapi di tasku. Kemarin pagi, saat aku bermaksud mengambil uang untk belanja, aku tidak menemukan tanda-tanda keberadaan ATM tersebut.


Aku bermaksud untuk bertanya langsung, tapi melihat gelagat yang aneh dari Mas Yandri membuatku mengurungkan niat. Seperti biasa, aku akan memantau selama beberapa hari. Jika terlihat ia tidak kembali seperti semula, aku akan langsung bertanya padanya.


***


"Neng, kamu udah mulai beli perlengkapan bayi belum?" tanya Mas Yandri.


Aku yang sedang menonton drama kesukaanku seperti mendapat kesempatan yang bagus.


"Belum Mas, Neng tadinya mau nyicil beli satu-satu di online. Tapi pas Neng mau ngambil uang di tabungan, atmnya ngga ada. Mas yang ambil lagi?"


"Oh itu," Mas Yandri terlihat salah tingkah.


"Mas mau ngecek mutasi sekalian cetak buku tabungan. Pas udah selesai, mau Mas kembaliin ke dompet kamu tapi kartunya lupa keselip dimana."


"Oh, ya udah." Aku kembali menonton drama.

__ADS_1


Fix, penjelasan Mas Yandri semakin membuatku bertanya-tanya. Tapi aku lebih suka tetap diam dan pura-pura tidak tau padahal nyatanya sedang mengintai. Jika ia ketauan sampai macam-macam, akan kubereskan dengan kedua tanganku sendiri.


***


Mas Yandri sedang mandi saat aku yang membereskan meja kerjanya menemukan beberapa slip bukti transfer ke satu nama. Nama seorang wanita. Besarnya transferan mulai dari dua juta hingga yang terbesar sepuluh juta. Semua transaksi dilakukan dalam bulan ini.


Saat Mas Yandri keluar dari kamar mandi, aku mati-matian menahan diri untuk tidak langsung menghampiri dan menonjoknya. Aku berpikir untuk mencari bukti lain yang akan menguatkan prasangkaku. Dengan bukti yang lengkap, aku pastikan Mas Yandri tidak akan bisa memgelak.


Sikapku padanya menjadi dingin. Aku seorang istri dan aku tidak bisa terus berlaku baik jika perasaanku tidak tenang.


***


"Besok saya transfer lagi ya...," ucapan Mas Yandri menggantung karena ia menyadariku yang sedang berdiri di pintu kamar. Kini, kebiasaan baru Mas Yandri setelah makan adalah mengungsi ke kamar kami dengan alasan harus mengerjakan laporan kantor.


"Ngga pengen ngopi Mas?" aku bertanya setelah melihatnya mematikan sambungan telepon.


Jawabannya tersebut membuat jantungku berdetak cepat. Sore? Sejak kapan Mas Yandri minum kopi di sore hari? Bahkan dikantornya pun ia hanya akan meminum teh. Mas Yandri memang bukan pecinta kopi. Kebiasaannya mengopi itu karena ia ingin menemaniku yang seorang coffeeholic. Jadi, jika ia bisa mengopi di tempat lain, selain bersamaku, sudah bisa dipastikan, ada sesuatu yang ia tutupi.


***


Hari ini aku bangun dengan mood yang sangat-sangat buruk. Semalaman aku memikirkan Mas Yandri. Ingin ku abaikan, tapi nyatanya aku tidak bisa. Mas Yandri memasuki kamar dengan pakaian rapi.


"Mau kemana Mas? Kan hari ini libur." aku menatapnya tajam.


"Mau ada urusan bentar Neng. Cuma sebentar kok. Nanti abis urusan Mas beres, kita keluar ya. Jalan-jalan sekalian liat-liat perlengkapan bayi."


"Iyalah Mas, suka-suka Mas aja," jawabku ketus.

__ADS_1


Mas Yandri menatapku heran dan mengerutkan kening. Setelah berpamitan, ia pun pergi.


***


Menunggu Mas Yandri pulang menjadi saat yang menegangkan bagiku. Aku sudah mengantongi sejumlah bukti yang mencurigakan. Sepulangnya nanti, aku akan mengkonfrontasinya secara langsung.


"Mas sini duduk bentar," aku berkata sesaat setelah ia memasuki rumah. Segelas air putih dingin kuberikan padanya.


"Kok malah duduk, ayo siap-siap. Kan kita mau jalan, sekalian makan diluar."


"Gampang itu mah Mas, ada yg Neng mau kasih liat."


Setelah Mas Yandri meletakkan gelas, aku mengeluarkan slip bukti transfer.


"Diana Dinata itu siapa?"


Aku menunggu beberapa saat untuk melihat perubahan ekspresi di wajah suamiku itu. Hasilnya? Nihil.


"Kenapa Mas berkali-kali transfer ke dia? Apa dia yang Mas telepon sambil bisik-bisik? Anak mana dia? Dia udah tau kalau Mas udah punya istri dan mau punya anak?"


Mas Yandri hanya diam menunduk. Ada rasa sakit di dalam sini yang tidak bisa kujabarkan.


"Maaf Neng..."


Permintaan maaf Mas Yandri semakin membuatku sakit dan juga murka.


"Ayo siap-siap. Mas akan kasih tau semuanya. Mas jatuh cinta saat pertama kali melihatnya. Oleh karena itu, kamu juga harus melihatnya, Neng."

__ADS_1


Nafasku yang sesak menjadi tanda jika didalam sana hatiku hancur berkeping-keping.


__ADS_2