Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku

Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku
Episode 30


__ADS_3

Waktu terus berjalan hingga tanpa sadar hari sudah berlalu, bulan sudah terlewati, dan tahun sudah berganti. Tanpa terasa, sudah lebih dari tiga tahun aku tinggal di kota ini. Kota yang awalnya asing tapi nyatanya memberikan banyak pelajaran dan kenangan. Tentang orang-orang baru, tentang perjuangan hidup, dan tentang pembelajaran untuk diri sendiri.


***


Rumah yang dibelikan oleh Mas Yandri kini ditempati oleh mertuaku dan juga Lita. Ternyata ibu mertua belum dapat pulih seratus persen setelah Ana meninggal. Rumah tempatnya tinggal selama ini justru memberikan banyak kenangan yang menyakitkan. Untuk memulihkan diri, ibu mengikuti saran Mas Yandri untuk pindah ke Bumi Lancang Kuning.


***


"Assalamualaikum! Re! Rere buka pintunya!"


Suara ibu mertua terdengar tepat pada saat menjelang isya, setelah aku menghangatkan makanan untuk Mas Yandri. Mas Yandri sendiri tidak biasanya belum pulang dari kantor pada jam segini.


"Waalaikumsalam. Maaf bu, Neng tadi lagi di dapur." Aku membuka pintu lebar. Setelah ibu duduk, aku bergegas kembali ke dapur untuk membuat teh. Dre sudah tidur setelah lelah bermain seharian.


"Mana Yandri?!" Suara ibu mertua terdengar ketus.


"Mas Yandri belum pulang loh bu, tuh mobilnya ngga ada. Neng juga heran, ngga biasanya sampai jam segini belum pulang. Ibu kenapa? Kayanya lagi kesel," jawabku yang telah duduk di sofa depan ibu.


"Ga usah banyak nanya! Ibu mau bicara sama Yandri!"


"Iya, iya Bu. Tenang, Mas Yandri mungkin lagi di jalan," aku nyengir.


Panjang umur! Suara mobil Mas Yandri terdengar berhenti di depan rumah. Tidak lama, mobilnya terlihat memasuki carport. Ibu mertua sudah berdiri dengan muka yang sangat kesal. Terlihat jelas dimataku jika beliau sangat marah pada putranya itu.


"Bu, duduk dulu atuh Bu. Tenang ya, tenang. Kalau Ibu mau marah sama Mas Yandri, tunggu dia selesai makan dulu ya."


Aku membuka suara melihat tingkah laku ibu yang aneh. Bukan tanpa sebab aku meminta mertuaku untuk menunggu. Pertama, jika memang betul ibu mau memarahi Mas Yandri, suamiku itu harus dalam keadaan kenyang. Kedua, dengan menunggu, aku berharap emosi ibu mertuaku akan menurun. Ya, walaupun aku sendiri tidak yakin.


***

__ADS_1


Aku membawakan segelas air putih dingin untuk Mas Yandri tepat setelah ia menyalami ibu. Setelah itu aku menyuruhnya untuk bersih-bersih, sholat dan langsung makan. Ibu mertua yang menolak untuk ikut makan tetap duduk di sofa ruang tamu.


"Mas, kayanya Ibu nungguin Mas. Dari tadi nyariin loh." Aku berkata pada suamiku yang baru saja menghabiskan makanannya.


Dengan mengangguk dia berdiri dan menghampiri ibu.


"Rere, kamu juga kesini!"


Aku yang bermaksud akan membereskan sisa makan malam pun melangkah mendekati ibu.


"Duduk," perintahnya


"Ada apa bu? Kok kayanya lagi kesel?" Mas Yandri bertanya.


Ibu mengambil napas panjang berulang-ulang


"Tadi sore waktu Ibu mau beli soto, Ibu ngeliat mobil kamu keluar dari parkiran tempat soto!"


"Ibu liat Yandri? Kok ngga manggil?" tanya Mas Yandri.


"Bukan itu poinnya, Yandri! Ibu ngeliat kamu berdua sama perempuan di mobil!" ibu mertua membentak


"Oh itu, itu Siska, Bu. Admin Yandri di kantor. Neng juga tau kok orangnya," ucap Mas Yandri santai.


Aku hanya menyaksikan pembicaraan ibu dan anak tersebut tanpa menginterupsi. Akan kulihat sampai dimana maksud dari pembicaraan ini.


"Yandri tadi itu udah mau pulang saat Siska, minta ikut nebeng. Ya karena searah, Yandri iyain aja. Pas lewat di depan warung soto, Siska minta mampir sebentar buat beli," jelas Mas Yandri


"Macem-macem kamu Yandri! Berani-beraninya berduaan sama orang yang bukan mahram! Gimana kalau sampai timbul fitnah? Hah?!" Ibu mertuaku murka.

__ADS_1


"Bu, Yandri ngga ngapa-ngapain, cuma nganter Siska pulang terus mampir bentar beli soto. Itu juga Yandri ngga ikut turun kok Bu," Mas Yandri gelagapan.


Ibu menatapnya tajam.


"Mau ngebantah kamu?! Pernah denger kalau anak laki-laki selamanya milik ibunya?"


Mas Yandri mengangguk pelan.


"Itu artinya selama ibu masih hidup, ibu masih wajib untuk mengingatkan, menasehati, menegur dan mendidik kamu! Karena kamu selamanya milik Ibu! Karena kalimat itu juga, kelak Ibu akan dimintai pertanggung jawaban jika ibu tidak bisa mengajarkan kamu hal yang benar! Kamu selamanya milik Ibu!


Dan Ibu ngga suka kamu bawa-bawa perempuan lain walaupun kamu bilang kamu ngga ngapa-ngapain! Fitnah itu jahat, Yandri! Setan dimana-mana buat bikin manusia tersesat! Jangan nyerempet bahaya! Kamu ga enak untuk nolak tapi kamu mendekati dosa! Sekali lagi ini terulang, Ibu ga segan buat ngehajar kamu, Ngerti!?" Ibu mertua menggebrak meja hingga aku pun terlonjak.


"Iya Bu maaf, Yandri ga mikir sampe kesitu. Karena memang ngga ada apa-apa, Yandri pikir ga masalah nganterin Siska pulang," ucap Mas Yandri seraya melirikku.


"Awas kamu ya, berani macem-macem! Ini pertama dan terakhir kalinya Ibu tau. Jaga batasan kamu! Kamu harusnya tau apa yang boleh dan apa yang ga boleh kamu lakukan!


Jika kamu mengabaikan hal itu hanya karena tidak enak hati untuk menolak permintaan orang lain, apalagi perempuan, status kamu sebagai suami harus dipertanyakan! Jangan bikin ibu malu seolah-olah Ibu ngga mendidik kamu dengan benar!"


Wajah ibu sudah sepenuhnya merah. Kali ini beliau benar-benar marah.


***


"Neng, kamu ga ikutan marah?" tanya Mas Yandri setelah ibu pulang.


"Ya gimana ya, mau marah juga udah diwakilin sama ibu," aku nyengir.


"Maaf Neng, Mas ngga bermaksud macem-macem. Mas akui, Mas khilaf. Seharusnya Mas ngga ngasi celah untuk berduaan dengan perempuan lain apapun alasannya."


Aku tersenyum menatapnya.

__ADS_1


"Semoga kejadian ini jadi pengingat ya Mas untuk ke depannya. Hati-hati dalam bertindak. Jangan sampai ini terulang lagi. Dre sekarang udah makin besar, kita nikah juga udah bukan hitungan bulan lagi. Jika terjadi sesuatu seperti ini lagi, Neng pastiin, Neng yang akan turun tangan langsung buat ngasi pelajaran buat Mas."


__ADS_2