Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku

Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku
Episode 41


__ADS_3

Weekend ini kami akan mengunjungi Ibu dan Lita serta menginap disana. Mas Yandri sudah berada di dalam mobil bersama Dre sejak beberapa menit yang lalu. Sedangkan aku, masih mengemas beberapa buah tangan yang akan dibawa. Setelah selesai, aku berjalan keluar dan mengunci pintu.


***


Komplek perumahan ini sekarang sudah jauh lebih ramai dibanding saat pertama kali aku kesini. Tepat hari ini juga, rumah yang letaknya bersebelahan dengan rumah yang ditempati ibu mulai dihuni. Tadinya, rumah tersebut kosong cukup lama.


Penghuni baru rumah itu sepasang suami istri dengan satu anak yang usianya kurang lebih 5 tahun. Mereka memperkenalkan diri saat melihatku dan Mas Yandri datang. Setelah berbasa-basi sebentar, aku masuk ke dalam untuk menemui ibu.


"Tetangga sebelah baru banget pindahan ya Bu?" aku bertanya


"Udah dari kemarin Re, cuma baru hari ini datang. Kemarin-kemarin cuma ada orang-orang yang mindahin barang," jawab ibu.


Aku mengangguk seraya memindahkan beberapa buah tangan yang kubawa ke dalam wadah lain.


***


Mas Yandri sedang mengantar ibu ke supermarket terdekat untuk membeli beberapa cemilan untuk Dre. Aku dan lita memilih tinggal dirumah.


Saat sedang mencuci wadah kotor, suara jeritan Dre terdengar. Bergegas aku membilas tanganku dan menuju ke ruang keluarga.


"Ngga boleh gitu ya, mainnya bareng. Jangan direbut, adik Dre kan masih kecil." Lita terlihat berbicara pada seorang anak kecil yang ternyata anak dari tetangga baru.


Bukannya diam dan menurut, anak itu langsung melempar mainan yang barusan direbutnya tepat mengenai dahi Dre. Sontak, aku berlari ke arah Dre. Sedangkan anak itu langsung berlari keluar rumah.


"Sumpah Teh, anak tadi bandel banget. Dia tadi pas baru dateng langsung masuk kamar Lita, ngacak-ngacak barang. Terus ngeberantakin mainan yang Dre bawa dari rumah. Pas Dre nyamperin, malah didorong. Sempet anteng main sebentar tapi ngga lama ngerebut mainan yang dipegang Dre. Ya Teteh liat sendiri akhirnya gimana," Lita mengoceh panjang lebar.

__ADS_1


Aku berusaha menenangkan Dre dan menetralkan debaran jantung. Bagaimana tidak, aku melihat sendiri Dre dilempar dengan kerasnya.


"Permisi!"


Seseorang memanggil di halaman. Lita bangun dan bergegas menghampiri. Saat tangis Dre mulai reda, aku berdiri dan menggendongnya. Rasa penasaran membuatku melangkahkan kaki ke pintu.


"Tolong dong! Kalau ngga mau mainan ponakannya dipinjam, jangan dikasih liat! Anak saya jadi nangis kan!" Ternyata ibu anak tadi yang datang. Aku ingin keluar dan menemuinya langsung tapi Dre masih terisak dalam pelukanku.


***


Jeritan Dre terdengar lagi dari dalam kamar yang biasa kutiduri jika menginap. Aku dan Lita yang sedang mengobrol di ruang makan pun bergegas menuju ke sana. Baru beberapa menit Dre kutidurkan setelah dilempar mainan oleh anak tetangga.


Pemandangan di dalam kamar membuat emosiku naik. Aku melihat Dre telah terbangun lalu menangis keras, dan anak tetangga sebelah dengan riangnya sedang melompat-lompat di atas kasur.


"Heh turun!" Lita membentak anak itu.


"Kok anak itu bisa masuk sih? Perasaan tadi pintu depan teteh tutup, apa teteh lupa ya dek?" aku bertanya


"Emang udah teteh tutup, tapi anak itu yang lancang masuk. Langsung ke kamar pula gangguin Dre tidur." Lita menepuk dahinya.


"Ngeselin banget sih, anak masih kecil gitu kok banyak tingkah ya, Teh?"


Sejujurnya, aku ingin sekali mendatangi rumah anak itu, tapi Dre sudah dua kali menangis hari ini. Sebetulnya Dre bukan anak yang gampang menangis, tapi jika sudah menangis, akan susah untuk membujuknya agar berhenti.


Butuh waktu yang agak lama sampai Dre tertidur kembali. Aku mengunci pintu depan agar anak tersebut tidak seenaknya masuk dan mengganggu lagi. Saat membaringkan Dre di kasur, aku baru menyadari di dahinya mulai terlihat tanda kebiruan akibat dilempar mainan.

__ADS_1


***


"Dre baru tidur, Neng? Tumben amat, biasanya udah dari tadi," Mas Yandri bertanya. Saat ia dan ibu tiba, aku baru saja keluar dari kamar.


"Tadi udah tidur Mas, tapi kebangun lagi gara-gara diganggu anak sebelah."


Ibu menatapku. "Digangguin gimana, Re?"


Aku menceritakan kejadian sewaktu ibu pergi. Lita juga sesekali menambahkan. Wajah ibu terlihat geram namun beliau masih diam.


"Biar nanti kalau kesini lagi, Ibu nasehatin," ucapnya


***


"Kalau mau main disini boleh, tapi jangan rebutan. Terus, jangan nakal ke adik Dre, soalnya masih kecil. Nah, sekarang pulang dulu ya, adik Dre lagi tidur. Nanti kalau sudah bangun, boleh main lagi."


Suara ibu terdengar olehku dari dalam kamar. Aku yang baru saja berganti pakaian menjadi penasaran dan berjalan ke luar. Ah, rupanya anak itu datang lagi.


Anak tetangga itu sedang duduk di depan ibu dan hanya diam mendengarkan. Sepertinya, dia takut pada ibu. Aku baru saja merasa lega saat tiba-tiba anak itu berdiri dan berlari ke luar rumah setelah sebelumnya membanting ointu keras.


"Astagfirullah, kaget Ibu. Bener-bener ya itu anak. Dikasi tau malah kaya gitu."


Aku duduk di sebelah ibu.


"Kesel ya Bu? Sama, Neng juga dari tadi kesel sama itu anak. Pengen ngejitak rasanya."

__ADS_1


Ibu tertawa mendengar perkataanku.


__ADS_2