Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku

Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku
Episode 24


__ADS_3

"Kalau menurut Neng mah ya biarin aja dia nikah. Dengan satu catatan, kuliahnya tahun depan harus beres. Eh Mas, ngomong-ngomong calonnya si Ana ini anak mana? Kuliah atau kerja?"


Keingintahuanku berlipat ganda karena hal ini baru kali ini kusaksikan sendiri. Ana memang tipe anak yang suka membantah, tapi ia tetap patuh pada perkataan ibu. Jika sekarang Ana sudah tidak mendengarkan ibu, entah situasi apa yang sebenarnya terjadi disana.


"Kata Ibu sih udah kerja, cuma ya itu, Ibu berat aja kalau sampai kuliah Ana ngga beres."


Aku terdiam dan kemudian berkata,


"Ya udah kalau kaya gitu nikahin aja. Tapi seperti kata Neng tadi. Kuliah harus beres. Entah nikahnya ditunda sampai Ana lulus. Atau nikah sekarang tapi ya tetap kuliah.


Tapi Mas, maap nih ya Neng nanya. Tapi Ana ngga gimana-gimana 'kan? Maksudnya gimana ya, kan kalo nikah ngedadak itu orang mikirnya karena udah terjadi sesuatu gitu, Mas."


Mas Yandri menghela nafas.


"Mas juga nanya itu tadi ke Ibu. Kata Ibu sih, Ana bilang ga kenapa-kenapa. Tapi ya Ibu jadi aneh aja karena Ana ngotot minta nikah cepet.


Dikira si Ana nikah itu gampang kali. Kan harus ketemu keluarga calonnya dulu, ada omongan dulu, ada basa basinya dulu. Nah, Ibu bingung harus gimana. Ibu tadi sempet nanya ke Mas, bisa ngga kita pulang dulu. Mas bilang ya harus di diskusikan sama kamu dulu, Neng."


Gantian sekarang aku yang menghela nafas panjang.


"Kalau Ibu maunya kita pulang ya paling Mas aja. Neng cape Mas kalau harus pulang. Naik pesawat, terus naik travel ke rumah. Kandungan Neng juga udah gede loh ini. Udah mulai susah kemana-mana."

__ADS_1


Mas Yandri mengangguk.


"Iya itu yang bikin Mas bingung Neng. Kalau kita pulang, kamu pasti bakal kecapean. Mas ga mau ambil resiko jika kamu sampai kecapean terus kenapa-kenapa. Kalau Mas sendiri yang pulang, otomatis kamu juga disini sendirian. Nanti deh kita omongin lagi, Mas masih bingung dengan berita yang Ibu kasih."


Kami berdua terdiam dengan pikiran masing-masing hingga sampai larut malam.


***


Setelah beberapa hari bolak-balik membicarakan hal ini, keputusan sudah ditetapkan. Mas Yandri akan pulang ke Bandung seorang diri. Tanggung jawabnya sebagai anak laki-laki membuatnya mau tidak mau mengambil peran sebagai pengganti ayah untuk Ana. Ayah sendiri sudah lama meninggal, saat Lita masih SD. Sejak saat itu, ibu mengambil peran ganda. Sebagai seorang ibu dan juga sebagai seorang pencari nafkah.


***


"Iya mas iya. Neng bakal ngabarin Mas terus. Tenang atuh. Mas fokus aja beresin urusan disana. Salam sama Ibu, bilangin maaf, Neng ga bisa ikut."


Taksi online yang akan mengantar Mas Yandri ke bandara sudah tiba. Setelah memelukku lama, ia pun pergi meninggalkan rumah.


***


"Ini posisi janin udah bagus ya, tinggal banyakin jalan aja biar turun ke panggul. Tapi ngga usah berlebihan. Sebentar aja tapi frekuensinya sering. Selain itu, posisi sujudnya juga terusin lagi aja."


Bidan yang memeriksaku berkata panjang lebar. Kandunganku sudah 7 bulan. Semua normal dan sehat. Hanya saja tekanan darahku agak sedikit tinggi dari biasanya.

__ADS_1


"Jangan terlalu banyak pikiran ya bu, pencetus tekanan darah menjadi tinggi salah satunya dari pikiran yang berlanjut ke stres. Jika terus seperti ini, akan membahayakan Ibu serta janin kelak pas persalinan. Makanan manisnya dibatasi juga, takutnya berat janin bertambah. Yang sekarang sudah normal. Dibawa happy aja ya." Bu bidan menutup pembicaraan dengan ramah.


***


Mas Yandri ternyata harus tinggal lebih lama dari rencana. Dari yang hanya tujuh hari menjadi sepuluh hari. Dia tidak mengatakan banyak hal tentang permasalahan disana, mungkin untuk menjagaku agar aku tidak ikut kepikiran.


***


Dari pagi perutku terasa mulas, terkadang ada lalu hilang. Aku menghubungi bidan langgananku dan beliau berkata jika itu normal. Lazimnya itu disebut kontraksi palsu dan memang normal terjadi pada hampir semua ibu hamil. Penyebabnya bisa karena kecapekan. Beliau menasehatiku untuk tidak berkegiatan secara berlebihan.


Menjelang sore setelah Ashar, Bu RT mengetuk pintu rumahku. Beliau bermaksud untuk memberikan surat edaran resmi dari RT terkait sumbangan renovasi mesjid di komplek kami. Saat akan mengambil dompet, rasa ingin buang air kecil begitu menguasaiku, dan kuputuskan untuk ke kamar mandi dulu.


Aku bergegas karena takut Bu RT menunggu lama di ruang tamu. Tanpa kusadari, aku tidak mengeringkan kakiku dengan benar. Tepat saat akan keluar kamar, aku terpeleset dan jatuh dengan suara lumayan keras.


"Bu Rere!" Bu RT berteriak dan lari menghampiriku.


"Bu Rere ngga kenapa-kenapa!? Ada yang sakit!?"


Aku mengabaikan pertanyaan dari Bu RT. Mataku fokus ke bagian bawah baju yang terasa basah. Saat aku bergerak sedikit, aliran darah terlihat dengan jelas.


"Tolong!" Teriakan Bu RT adalah hal terakhir yang aku dengar sebelum kegelapan menelan tubuhku.

__ADS_1


__ADS_2