
Aku berjalan dengan Dre menuju ke penjual sayur yang sedang mangkal. Beberapa ibu-ibu terlihat mengerubungi dagangan yang dibawa. Mas Yandri sudah berangkat bersama dengan Ibu dan Lita. Ibu dan Lita memutuskan untuk kembali ke rumah yang mereka tempati karena kondisiku sudah benar-benar pulih.
***
Para ibu-ibu menyapa saat melihatku. Bu Jejen dengan sigap langsung meletakkan kantong belanjaannya dan mengajak Dre bermain.
"Re, abis ini mau ke warung Bu Indah ngga?" tanya beliau.
Aku mengangguk. "Iya mau Bu, mau beli sabun cuci piring."
"Saya ajak Dre ke warung Bu Indah duluan ya?"
"Iya Bu, boleh." Aku kembali memilih sayuran yang akan kubeli.
Dalam waktu yang tidak terlalu lama, para ibu-ibu yang berkerumun di penjual sayur sudah bubar. Ada yang langsung pulang karena ingin memasak, ada juga yang menuju ke warung Bu Indah.
"Saya boleh ambil dulu ini ngga Pak, bayarnya nanti?" Suara seseorang terdengar di belakangku.
"Boleh Bu, ambil yang Ibu butuh," jawab bapak penjual sayur
Aku mengangkat wajahku dan menoleh.
"Bu Susi? Ibu kemana aja baru keliatan?"
Bu Susi adalah orang pertama yang menyapaku beberapa tahun lalu tepat saat aku baru pindah ke sini. Akhir-akhir ini aku memang tidak melihat beliau.
"Eh Neng Rere, saya kira siapa, ngga keliatan mukanya tadi." Ia menjawab ramah seraya tersenyum kikuk.
"Ibu fokus banget sampai ngga ngeliat saya," aku tersenyum.
"Pak, dompet saya ketinggalan, tunggu bentar ya." Aku menatap bapak penjual sayur dan setelah beliau mengangguk aku berjalan menuju rumah.
Sebenarnya, dompetku sama sekali tidak tertinggal. Benda itu berada disakuku. Hanya saja, aku mendengar pertanyaan Bu Susi pada bapak penjual sayur dan aku tidak mau membuat Bu Susi merasa tidak nyaman karena aku mengetahui jika dia berhutang.
__ADS_1
Setelah melihat Bu Susi menjauhi bapak penjual sayur, dengan cepat aku kembali ke sana.
"Pak, berapa total punya saya?" tanyaku
"72 ribu Neng Rere."
Bapak penjual sayur menatapku yang mengeluarkan dompet dari saku.
"Neng Rere tadi ngga enak ya ada disini? Takut Bu Susi jadi ga leluasa?"
Aku mengangguk, "Hehehe, Bapak tau aja deh. Iya, saya ngga enak, siapa tau beliau jadi sungkan mau milih sayuran karena ada saya."
"Keadaan Bu Susi memang lagi kurang baik, Neng. Ini sudah kesekian kalinya dia berhutang ke saya. Padahal sebelumnya ngga."
Aku tertegun mendengar perkataannya.
"Oh ya? Saya baru tau Pak, soalnya Bu Susi memang akhir-akhir ini jarang keliatan. Baru hari ini saya ngeliat beliau lagi."
***
Aku mencari nomor Bu Susi di WA grup. Setelah menemukannya, aku bergegas mengirim pesan.
[Assalamualaikum. Bu Susi ini Rere. Saya baru inget tadi pas ketemu ibu di tukang sayur. Ini ada bingkisan untuk ibu waktu pengajian kemarin. Saya waktu itu udah nitip ke Bu Romlah, tapi oleh beliau di kembalikan lagi ke saya karena katanya ibu ngga dirumah. Ibu sekarang ada dirumah? Boleh saya ke rumah?]
Pesanku langsung terkirim walaupun belum dibaca. Sambil menunggu balasannya, aku mencari drama terbaru dari aplikasi pemutar drama.
Getaran ponsel ditanganku menandakan jika ada pesan yang masuk.
[Waalaikumsalam. Alhamdulillah, terima kasih sekali Neng Rere. Iya, saya ada dirumah.]
Dengan segera aku bangkit dan menuju dapur. Dre yang baru saja tidur, kutitipkan pada Mbak Tinah.
***
__ADS_1
"Pokoknya ngga mau tau! Besok harus udah ada!"
Brak!
Aku menghentikan langkah saat melihat suami Bu Susi membanting pintu rumah dan pergi dengan motornya. Setelah menimbang-nimbang sejenak, aku memutuskan untuk memasuki halaman rumah.
"Assalamualaikum."
Suara isakan kecil di dalam rumah terhenti seketika. Tidak berapa lama, Bu Susi keluar. Matanya sembab.
"Waalaikumsalam. Eh Neng Rere, silakan masuk," ujarnya lesu
Aku masuk dan duduk di kursi yang paling dekat denganku. Bungkusan yang kubawa sudah terletak di atas meja.
"Maaf Neng Rere, Neng jadi ngeliat kejadian yang ngga mengenakkan," Bu Susi berkata seraya menatapku.
"Kejadian apa bu? Saya ngga ngeliat atau ngedenger apa-apa," aku tersenyum.
Aku berkata seperti itu karena tidak ingin Bu Susi malu atau merasa tidak enak padaku. Saat pertama memasuki rumah, aku bisa mengambil kesimpulan dari rumah yang berantakan dan mata Bu Susi yang sembab, jika ia baru saja bertengkar dengan suaminya.
"Terima kasih untuk bingkisannya ya Neng. Kebetulan sembako di rumah habis."
"Sama-sama Bu, memang udah rejeki ibu. Sengaja saya pisahin."
Keheningan terjadi beberapa saat. Aku tau wanita di hadapanku tidak baik-baik saja.
"Ibu ngga apa-apa?" tanyaku pelan.
Bukannya menjawab pertanyaanku, Bu Susi malah menangis. Dengan segera aku pindah ke sisinya dan memeluknya. Diluar dugaan, Bu Susi menyandarkan kepalanya di bahuku dan semakin menangis tersedu.
***
Tidak semua orang berani menceritakan kejadian buruk yang menimpa mereka. Terkadang, menceritakan hal tersebut pada orang yang salah justru berakibat fatal pada diri sendiri. Bukan dukungan yang didapat, malah justru cibiran yang diterima.
__ADS_1