
Setelah seminggu tinggal di sini aku tau jika rumah bu Jejen hanya berselisih 3 rumah dari rumahku. Sedangkan rumah anggota gengnya yang lain, tepat berada di depan rumah beliau.
Aku tipe orang yang jarang keluar rumah kecuali untuk hal yang penting seperti pergi menengok jika ada tetangga atau orang yang kukenal sakit, pergi ke warung, dan pada saat ada undangan untuk menghadiri suatu acara. Urusan sosialisasiku dengan tetangga sekitar juga seperlunya saja. Sesekali aku ikut duduk di warung setelah berbelanja untuk mengobrolkan hal-hal yang ringan.
Sejak kejadian pengajian di rumahku, bu Jejen tidak pernah lagi menegurku walaupun kami bertemu di jalan. Aku tidak peduli, aku tetap menyapanya walaupun berkali-kali beliau mendiamkan aku. Aku mengerti, mungkin dia marah karena aku membalas ucapannya waktu itu.
***
Pintu rumahku diketuk saat aku sedang fokus menonton. Ketukan pintu yang berulang-ulang tanpa jeda membuatku sedikit senewen.
"Bentar!"
Aku terkejut melihat seraut wajah milik bu Jejen tepat di depanku.
"Waalaikumsalam Bu Jejen," ucapku dengan wajah polos.
"Lama banget sih bukain pintunya! Ngga tau apa saya kepanasan di luar!" Bu Jejen mendorongku untuk menepi dan masuk ke dalam rumah tanpa basa-basi.
"Re, minta minum yang seger-seger dong. Saya haus dari tadi di depan pintu kamu! Tidur ya kamu? Pemalas banget sih, suami kerja leha-leha di rumah."
Aku mengatur nafas yang tiba-tiba sesak. Emosiku mulai terpancing melihat kelakuan makhluk satu ini. Baiklah, waktunya bermain!
"Nyonya Jejen yang menggemparkan jagat raya mau minum apa? Biar Rere sediakan spesial khusus untuk Nyonya yang hari ini terlihat semarak dengan baju warna merah dan hijau. Sudah seperti bunga di taman kota saja." Aku sebisa mungkin menahan kesal.
"Sirop dong, pake es batu yang banyak. Inget ya sirop, jangan minuman serbuk. Batuk nanti saya."
Dengan perlahan aku menuju ke dapur dan membuat minuman. Saat kembali ke ruang tamu, aku tidak melihat keberadaan bu Jejen.
__ADS_1
Kletak!
Ada bunyi berasal dari kamarku yang pintunya terbuka lebar. Jantungku mulai berdetak cepat, membayangkan siapa yang ada di sana. Benar dugaanku.
"Nyonya Jejen sedang ngapain di kamar saya?" Aku memergokinya sedang mencoba tasku yang kuletakkan di meja kerja mas Yandri.
"Eh, kamu Re! Bikin kaget aja! Ini tas kamu cocok deh saya pakai. Boleh dong ini saya bawa?"
Aku hanya diam menatapnya hingga akhirnya ia meletakkan tas itu kembali di meja. Tanpa meminta maaf karena telah memasuki kamar pribadi, ia berlalu menuju ruang tamu.
Tanpa aba-aba, wanita itu langsung duduk dan meminum segelas sirup. Dan kini, ia sedang beralih ke gelas kedua yang tadinya kubikin untukku.
"Seger...," ucapnya meletakkan gelas.
Aku duduk di depannya dan bertanya sebenarnya apa keperluannya datang ke rumah ini di tengah hari seperti ini.
"Kita tetangga ya kan Re?" tanyanya.
"Iya."
"Tetangga biasanya saling tolong-menolong kan?"
"Iya."
"Kalau saya minta tolong, kamu bisa bantu ngga Re?"
"Tergantung."
__ADS_1
Mata di hadapanku mendelik. "Maksudnya gimana?"
"Ya tergantung, ibu minta tolong saya dalam hal apa." Semakin lama aku semakin malas berhadapan dengan wanita ini.
"Gini Re, Saya sedang ada keperluan mendadak. Saya mau minjem uang, ngga lama kok, sampai akhir bulan aja." Bu Jejen tersenyum. Tidak, lebih tepatnya menyeringai.
Aku menyenderkan punggungku di sandaran sofa. Menatapnya selama beberapa saat, dan membuka suara.
"Bu Jejen, kita memang tetangga. Tapi, kita tidak sedekat itu sampai saya harus meminjamkan uang pada Bu Jejen."
Wajah di hadapanku memerah. Bisa kutebak. Sepertinya dia jarang mendapat penolakan atas keinginannya.
"Sombong kamu Re! Kita tetangga tapi kamu ngga mau bantuin saya!"
"Bu Jejen, saya baru seminggu jadi tetangga ibu dan menurut ibu, saya harus membantu ibu? Kalau untuk hal-hal yang lain mungkin saya bisa. Ibu pernah dengar pepatah yang bilang kalau uang ngga mengenal saudara 'kan?"
Tanpa kuduga bu Jejen mengangguk.
"Nah, kalau uang aja ngga kenal saudara, apalagi kita yang cuma tetangga."
Wajah bu Jejen kini sudah merah sepenuhnya. Aku ingin tertawa melihatnya, tapi kutahan sekuat tenaga.
"Memang pelit kamu Re! Ya pelit, ya miskin! Saya mau pinjem uang aja ngga dikasih. Sombong!" makinya sambil berdiri.
"Maaf ya Bu Jejen, tapi saya kurang suka meminjamkan uang pada tetangga. Apalagi jika tidak ada alasan yang jelas. Saya tidak mau menimbulkan masalah di lain hari."
Bu Jejen langsung menuju pintu. Setelah memelototiku selama beberapa saat, ia keluar dan membanting pintu.
__ADS_1