Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku

Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku
Episode 51


__ADS_3

"Tidak ada orang tua yang tidak mau memenuhi keinginan anak. Tapi nyatanya, selalu memenuhi keinginan anak akan berdampak kurang baik untuk mereka sendiri. Anak akan terbiasa meminta, tidak peduli dengan situasi dan kondisi orang tua. Anak harus diberi pemahaman sejak dini, jika tidak semua keinginan mereka bisa tercapai melalui tangan orang tua. Anak harus mengerti, jika orang tua pun memiliki keterbatasan." - Author


***


Sudah hampir tiga bulan, aku dan Mas Yandri menekuni usaha ayam bakar ini. Sedikit demi sedikit kami mengumpulkan rupiah untuk kemudian ditabung. Kondisi kami yang masih jauh dari kata stabil, membuatku harus banyak mengerem keinginan pribadi. Lama-lama aku terbiasa dengan itu, tapi tidak jika menyangkut anak. Sangat berat menolak permintaan Dre disaat dia yang sudah mengerti meminta sesuatu yang diinginkannya. Hatiku tidak tega, tapi aku bertekad untuk tidak mengikuti semua kemauan Dre. Agar lama kelamaan dia paham, orang tuanya memiliki keterbatasan.


***


"Neng, Mas dapet tawaran pekerjaan nih. Tapi aneh loh, Mas ngga ngerasa pernah melamar ke perusahaan ini." Mas Yandri berkata padaku yang sedang menidurkan Dre.


"Posisi yang ditawarkan juga bagus. Tapi masa beneran sih? Kaya yang aneh aja gitu, ngga masukin lamaran tapi tau-tau ada tawaran. Penipuan kali ya Neng?"


Aku menoleh menatapnya. "Ada alamat kantornya Mas? Coba Neng cari tau di internet."


Mas Yandri mendiktekan sebuah alamat yang langsung kuketik di mesin pencarian. Saat hasilnya sudah keluar, aku tertegun.


"Mas, kantornya di daerah mentereng loh. Nama perusahaannya juga sama. Kalau misalkan nipu, kok niat banget. Soalnya kantornya gede Mas," aku membalik layar ponselku untuk menunjukkan pada Mas Yandri.


"Iya Neng, sama persis deh nama perusahaan dan alamatnya. Gimana dong? Ambil jangan? Ini di emailnya disebutin kalau mereka menunggu kehadiran Mas sekitar 10 harian lagi di Jakarta. Mas jadi bingung, Neng," ucap Mas Yandri.


"Ya ngga usah bingung. Istikharah aja, minta yang terbaik." Aku mengusulkan padanya.


"Iya deh, Mas istikharah."


***


Sudah beberapa hari ini pembeli tidak terlalu banyak. Bahkan kemarin, kami tidak berhasil menjual satu potong pun. Aku dan Mas Yandri kebanyakan hanya diam seraya menunggu pembeli.


***

__ADS_1


"Neng, Mas kayanya jadi ke Jakarta," ucap Mas Yandri saat kami sedang diam menunggu pembeli.


"Iya Mas, silakan aja. Mudah-mudahan ini jalan yang terbaik. Mas berangkat kapan?" aku bertanya.


"Kalau pake bis sekitar 2 hari di jalan Neng. Kayanya lusa deh harus berangkat. Mending dateng lebih cepet daripada terlambat. Oh iya, sisa tabungan kita ada berapa? Cukup ngga buat ongkos bis pulang pergi?" Mas Yandri berkata sambil menunjukkan harga tiket bis ke Jakarta.


"Insya Allah cukup Mas, masih ada sisanya juga buat pegangan Mas."


Mas Yandri terdiam. "Pegangannya bagi 2 aja Neng, buat kamu sama Dre. Selama Mas pergi, ga usah jualan dulu. Ngga ada yang nganterin pesenan kan? Selain itu juga kamu ngga akan bisa masak kalau ngga ada Mas. Ngga ada yang pegang Dre. Nanti kita jualan lagi setelah Mas pulang ya?"


"Iya Mas," aku mengangguk.


***


Mas Yandri berangkat sebelum Dhuhur. Perjalanannya kali ini akan cukup melelahkan. Jarak antara Bumi Lancang Kuning ke kota Metropolitan bisa menghabiskan dua hari dua malam di jalan.


***


***


Uangku hanya tinggal lima ribu rupiah. Stok makanan dan bumbu-bumbu di kulkas pun sudah habis termasuk ayam mentah untuk jualan. Aku sedang berpuasa dengan maksud untuk menghemat bahan makanan. Bu Indah sudah berkali-kali menawariku untuk mengambil apa yang kubutuhkan terlebih dahulu. Aku mengiyakan dengan catatan jika aku sudah benar-benar butuh.


Hujan deras lagi-lagi turun dari pagi. Dre bangun dan merengek minta makan. Mengingat uangku yang hanya lima ribu, aku bermaksud membeli dua butir telur untuk Dre makan sekarang dan untuk nanti malam.


Aku menjelaskan pada Dre jika aku harus pergi sebentar ke warung untuk membeli telur. Anakku mengangguk dan memesan agar aku tidak terlalu lama keluar.


Dibawah terpaan hujan deras, payung yang kupakai serasa tidak berfungsi. Kaosku tetap saja basah dan saat sampai di depan warung, aku tertegun. Warung Bu Indah tutup dan lampu depannya menyala, tanda jika ia sedang tidak ada di rumah. Aku sempat nekat untuk pergi ke warung lain. Tapi ingatan Dre seorang diri membuat langkahku kembali ke rumah. Warung lain pun letaknya lumayan jauh.


Aku memberi Dre beberapa cemilan dan biskuit yang masih tersisa untuk menahan lapar. Aku sama sekali tidak memiliki apapun yang bisa kusulap menjadi makanan untuknya.

__ADS_1


***


Hujan sudah reda dan beberapa anak kecil keluar dari rumah untuk bermain. Dari jendela rumahku terlihat jika mereka mengerubungi seorang penjual baso. Anakku yang melihatnya menarik bajuku dan menunjuk ke arah penjual.


Sumpah, aku sangat ingin membelikan anakku baso. Aku hampir nekat dan ingin segera mengambil mangkok. Tapi kuurungkan, karena jika aku nekat, baso itu akan habis untuk sekali makan. Aku bermaksud membeli telur karena bisa dipakai untuk dua kali makan. Aku tidak bisa berpikir apa-apa mendengar rengekan Dre. Berbagai cara aku coba untuk mengalihkan perhatiannya. Sampai akhirnya ia ku gendong dan ku ajak ke dapur agar menjauh dari jendela.


"Lapal Mama," ucapan Dre membuatku semakin sedih."


"Mama tadi mau ke warung Ibu, tapi tutup, jadi mama belum beli telur. Dre mau makan sama nasi dan bumbu ayam?" Aku berkata dengan suara tercekat.


Anakku mengangguk. Dengan segera aku mendudukkannya di karpet dan mengambil nasi dalam piring serta bumbu ayam.


Dre berbinar menatapku yang membawa piring dan juga bumbu ayam. Setelah siap, dia mulai makan dengan lahapnya. Pertahananku jatuh, aku menangis.


Kalian tau apa itu bumbu ayam? Royco. Ya, aku memberi Royco yang ditaburkan pada nasi. Aku tidak pernah menyangka akan ada di titik ini. Aku merasa gagal sebagai orang tua. Aku merasa tidak berguna karena tidak bisa memberikan makanan yang layak untuk anakku.


Namun, aku tiba-tiba teringat akan nasib anak-anak yang hidup di jalanan. Nasi dan Royco yang dimakan Dre masih jauh lebih baik karena aku pernah beberapa kali melihat anak-anak itu makan makanan sisa.


Aku menarik nafas panjang. Sudah dititik bawah pun, aku masih membandingkan diri dengan orang lain. Aku masih merasa jika akulah yang paling menderita, paling sengsara, paling sedih. Padahal nyatanya, banyak yang lebih jauh dibawahku.


"Astagfirullah...," ucapku lirih.


Mataku menatap Dre yang tersenyum senang. "Enak nak, nasi sama bumbu ayamnya?"


Dre mengacungkan jari telunjuk pertanda jika makanan yang dimakannya enak.


Aku mengelus kepalanya lembut.


"Makan yang banyak Nak, makan yang lahap. Tumbuhlah besar, tumbuhlah sehat. Maafin Mama ya, cuma bisa kasih makan Dre ini...," ucapku berlinang air mata.

__ADS_1


__ADS_2