
Wahai Suami, Jika Surgamu Ada Pada Ibumu Maka Nerakamu Ada Padaku ( 44 )
"Tidak ada yang bisa dilakukan untuk menghadapi orang-orang yang selalu merasa paling benar selain menghindar. Sama seperti tarik tambang. Yang mundur adalah pemenangnya." - Dua kalimat terakhir diambil dari status WA Bu Jejen.
***
Aku sadar sepenuhnya jika aku tidak bisa melakukan apa-apa, seperti memberikan shock terapi dengan maksud mendidik untuk anak tetangga sebelah. Hanya orang tuanyalah yang bisa mendidik anak tersebut. Sangat disayangkan karena orang tuanya malah membiarkan anak itu berbuat sesuka hati tanpa mengajarkan resiko yang mungkin akan didapat sang anak. Selamanya, anak tidak akan berubah, sebelum orang tuanya yang berubah terlebih dahulu.
Kedua kelinci Dre sudah berada di dalam kandang yang diletakkan di teras. Aku yang masih duduk di sofa ruang tamu, menangkap pergerakan dari luar. Rupanya anak kecil itu datang lagi dan sekarang sedang bermain dengan kelinci Dre. Tepat saat ia sudah memegang kelinci itu, aku bergegas ke luar rumah dan mengambil kembali kelinci milik Dre dan memasukkan mereka ke kandang. Seperti perkiraanku, anak tersebut menjerit lalu menangis kencang.
Kedua orang tuanya langsung menuju ke arahku.
"Aduh! Kenapa nangis lagi?! Ibu apain anak saya lagi?!" Ibu si anak membentakku. Disebelahnya, sang suami hanya diam menatap.
"Saya ngga ngapa-ngapain anak ibu loh. Anak ibu yang mau ngambil kelinci anak saya. Ya, saya keluar terus saya ambil lagi," aku mulai menahan rasa kesal.
"Kok gitu sih Bu?! Ibu kok tega sama anak kecil?! Kasian anak saya sampai nangis gitu! Kasihkan aja dulu apa susahnya sih?! Namanya juga anak-anak!"
Aku tersenyum. "Kalau saya ngga mau, Ibu mau apa? Kelinci milik saya, ditaruh di rumah saya, gimana saya aja kan? Kok ibu ngatur-ngatur saya? Emang Ibu pikir Ibu siapanya saya?"
"Anak saya masih kecil Mbak, masa Mbak tega bikin anak saya nangis," ayah si anak mulai bersuara.
"Ya kenapa saya harus ngga tega? Anak bapak kan bukan siapa-siapa saya. Saudara bukan, keluarga bukan, temen dekat juga bukan. Kenapa bapak mewajibkan saya harus ngalah sama anak bapak? Gimana saya ajalah, suka-suka saya." Aku masih berusaha santai.
"Dasar tetangga ngga tau adab! Ngalah sama anak kecil juga ngga mau!" Wanita itu semakin meradang.
__ADS_1
Aku melipat tanganku di dada. "Ibu dari tadi nyuruh saya maklumin anak ibu karena dia masih anak-anak, iya kan?"
"Iyalah," sahutnya cepat.
"Berarti ibu sendiri juga memaklumi apa yang anak ibu lakukan karena dia masih anak-anak?"
"Iya! Kamu nanyanya yang ngga penting deh!"
Aku tersenyum dan menghadap ke arah anak kecil itu. "Heh adik."
Yang kupanggil langsung menengok.
"Di rumah, mama sama papa kamu punya koleksi apa?" aku bertanya.
Anak itu tampak memikirkan sesuatu.
"Mulai sekarang, kamu bisa mainin lipstik punya mama sama ikan warna-warni punya papa kamu," aku tersenyum.
Kedua orang tuanya terkejut.
"Maksud mbak apa? Ikan saya mahal, bisa mati nanti kalau dimainin!"
"Iya, lipstik saya banyak yang limited edition, mahal belinya."
Aku menatap mereka tajam.
__ADS_1
"Ternyata anda berdua orang tua yang egois dan licik ya! Anda lebih suka membiarkan anak anda bermain di luar rumah, mengganggu bahkan merebut mainan anak lain agar barang-barang kesayangan kalian di rumah tidak disentuh! Luar biasa sekali," aku berkata seraya bertepuk tangan.
"Maklumi saja kalau anak kalian ingin memainkan barang pribadi milik orang tuanya! Kenapa keberatan?! Kan pelajaran 'memaklumi' kalian sendiri yang ajarkan pada orang-orang di sekitar kalian, kenapa tidak melakukan hal yang sama?"
"Tidak semua orang akan menurut dengan perkataan kalian untuk memaklumi kelakuan anak ini." Aku menunjuk anak mereka yang masih terduduk di sebelah kandang kelinci.
"Beberapa akan melawan dan bukannya tidak mungkin jika suatu saat nanti anak kalian yang akan mendapat balasannya langsung. Sekedar saran, jika tidak mau hal tersebut terjadi, introspeksi diri sajalah."
Aku menatap kedua orang dihadapanku. Tanpa berkata apa-apa lagi, aku masuk dengan membawa kandang berisi kelinci milik Dre.
***
Hari sudah beranjak sore saat kami memutuskan pulang ke rumah. Mas Yandri dan aku sedang memasukkan tas dan kandang kelinci mirik Dre, saat ibu menghampiri.
"Jadi yang mau pasang pager datengnya besok Yan?"
"Iya Bu, Yandri udah ngasi alamat dan nomor telepon ibu. Udah Yandri bayar juga."
Ibu mengangguk mengerti.
"Kamu jadi repot-repot pasang pagar Yan, padahal simpen aja uangnya untuk keperluan Rere dan Dre."
Aku tersenyum kepada ibu.
"Ngga apa-apa Bu, daripada nanti tiba-tiba Neng dapet berita kalau ibu adu ilmu sama tetangga sebelah," aku berbisik.
__ADS_1
Ibu tertawa mendengar perkataanku. Setelah berpamitan, kami meninggalkan ibu yang masih berdiri di depan rumah.