Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku

Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku
Episode 20


__ADS_3

Aku hanya diam disepanjang jalan Mas Yandri membawaku entah kemana. Panasnya cuaca di kota ini semakin membuat emosiku naik. Saking emosinya, aku sudah merangkai kata-kata untuk memaki Mas Yandri dan juga perempuan bernama Diana itu.


Mobil berbelok memasuki perumahan yang sama sekali asing untukku. Mataku disambut dengan jejeran rumah indah berkonsep minimalis. Tepat lima menit kemudian, kami berhenti di sebuah rumah yang pintu depannya terbuka.


Seorang wanita keluar menyambut Mas Yandri dengan senyum sumringah. Aku menahan diri untuk tidak menjambak dan menonjoknya.


"Selamat siang Pak Yandri. Mohon maaf saya tadi tidak ditempat, tapi semua berkas dan pembayaran administrasi dari bapak sudah saya terima."


'Apa ini? Berkas apa? Administrasi?' aku bertanya dalam hati.


Suara Mas Yandri yang memanggil untuk mendekat membuyarkan aku yang sedang berpikir.


"Ini Rere istri saya, Bu Diana." Mas Yandri memperkenalkan aku.


Wanita di hadapanku mengulurkan tangan dan memperkenalkan dirinya dengan sangat ramah. Setelah itu ia mempersilahkan kami untuk melihat-lihat. Ia sendiri berpamitan karena masih ada urusan yang harus ditangani.


"Maksudnya gimana ini Mas?" aku bertanya setelah sosok Bu Diana tidak terlihat.


"Masuk dulu yuk Neng, lihat-lihat."


Kami melangkah masuk dan melihat ada beberapa pekerja sedang menyelesaikan tahap akhir dari rumah ini.


"Mas beli rumah, Neng. Buat kamu. Kan kita udah mau punya anak, jadi Mas memutuskan untuk mencari rumah yang agak besar. Bu Diana tadi orang developer yang membantu Mas."


Sumpah! Jika saat itu ada sebuah lubang, aku memilih untuk menenggelamkan diriku ke dasar lubang karena rasa malu yang teramat sangat.


"Pas pulang kerja, Mas kan mampir buat beliin soto pesenan kamu, pas juga Mas lewat dijalan depan tadi. Iseng aja masuk komplek untuk liat-liat. Ternyata mas jatuh cinta sama bentuk rumah dan lingkungan sekitar. Ya udah, Mas putuskan untuk cari tau."


Itu kenapa jatah kamu ga bisa Mas kasi full soalnya untuk nambahin DP. Mas cuma sanggup beli rumah secara kredit. Ngga apa-apa ya Neng? Semoga ke depannya ada rejekinya."

__ADS_1


Aku diam dengan seribu satu perasaan yang tak bisa kujabarkan. Mas Yandri melakukan ini semua untukku, untuk calon anak kami, untuk keluarga kami tapi, aku justru berburuk sangka kepadanya.


"Maaf Mas, Neng tadi udah nuduh Mas. Neng kira Mas aneh-aneh. Ya salah Mas sendiri, pake ditutupin segala."


Mas Yandri tertawa terbahak.


"Kamu mah Neng, masih aja ga berubah. Minta maap tapi ujungnya nyalahin juga. Iya deh, Mas juga minta maaf, soalnya Mas beneran pengen ngasi kejutan. Ga taunya kamu malah salah paham."


Kami berkeliling dari ruang satu ke ruang lainnya. Dan aku sudah mulai membayangkan akan mengatur rumah ini seperti apa.


"Uang Mas berarti abis ya buat DP rumah?" tanyaku.


"Alhamdulillah, kemarin bonus cair. Itu makanya Mas tadi pagi melunasi uang DP dan juga ngajak kamu belanja perlengkapan bayi. Oh iya, kurangnya jatah uang nafkah kamu juga udah Mas siapin."


"Alhamdulillah, berarti Neng bisa jajan" ucapku


"Iya. Jajan yang banyak ya, kan sekarang jajannya buat berdua."


***


"Okb nih ye, pamer-pamer belanjaan kemaren!"


Tanpa perlu aku melihat, aku sudah tau suara siapa itu.


"Gapapa pamer belanjaan, daripada pamer omongan," sahutku sambil menunduk memilih wortel di tukang sayur.


"Kamu ya, jadi anak muda kok ngejawab mulu!"


Aku mengangkat wajahku dan menatap Bu Jejen.

__ADS_1


"Lah ibu? Anak tua kok ngomel mulu, ga cape apa?"


Aku kembali menekuni sayuran didepanku. Setelah membayar, bergegas aku kembali menuju rumah sebelum kesabaranku habis karena Bu Jejen.


***


Mama menelponku untuk menanyakan apakah kiriman paketnya sudah kuterima. Dengan alis berkerut, aku meminta beliau untuk kembali membacakan alamat rumahku. Takutnya, aku salah memberikan alamat.


'Udah bener kok,' batinku


Setelah mengatakan bahwa aku akan secepatnya mengabari jika paket sudah diterima, mama pun memutus sambungan telepon.


***


"Neng!" seruan Mas Yandri disaat subuh membuatku kaget.


"Apasih Mas, masih pagi banget loh ini, udh teriak-teriak."


Tanpa menjawab pertanyaanku, Mas Yandri menunjukan sebuah dus yang telah koyak. Isinya pun tidak kalah kacaunya. Terhambur dan plastik pembungkusnya sudah sobek.


"Kayanya ini paket Neng dari Mama deh Mas." Aku berkata seperti itu karena ingat jika mama berkata bahwa beliau mengirimkan cemilan kesukaanku yang kebetulan ada dalam dus koyak tersebut.


"Tadi Mas denger kaya ada suara barang jatuh di teras. Pas keluar ada ini nih."


Aku meraih dus itu dari tangan Mas Yandri dan memeriksanya dengan teliti. Bisa dipastikan, ini memang paket milikku. Sayangnya, semua isinya sudah kotor dan berhamburan. Beberapa bahkan basah.


"Yah, gabisa dimakan Mas, udah pada ancur nih."


Mas Yandri mengerutkan kening.

__ADS_1


"Siapa ya yang tega kaya gini. Ini paket orang kok seenaknya diacak-acak," tanyanya.


Aku tertegun dan dengan cepat satu nama melintas di pikiranku.


__ADS_2