Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku

Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku
Episode 31


__ADS_3

Beberapa hari setelah kejadian ibu marah besar kepada Mas Yandri, ibu kembali mengunjungiku. Kali ini bersama Lita. Lita masih sesekali terlihat melamun saat menatap foto Ana yang dipajang di lemari hias. Hidup terus berlanjut untuk orang-orang yang masih hidup. Sedangkan untuk yang sudah tiada, lambat laun mereka akan terlupakan. Namun, kenangan akan kebersamaan tetap terus abadi.


***


"Bu, emang bener ya kalau maksud anak laki-laki selamanya milik ibunya itu artinya ibunya masih wajib mengingatkan kalau anak salah walaupun udah menikah?" Aku bertanya karena penasaran. Bukannya apa-apa. Aku tidak memiliki saudara laki-laki, jadinya mamaku tidak pernah memberikan nasihat tentang ini.


"Neng kira, maksud anak laki-laki selamanya milik ibunya itu, artinya anak laki-laki berkewajiban untuk menafkahi dan mematuhi perintah ibunya terus."


Ibu menatapku sambil mengemil keripik jagung kesukaannya.


"Sebelum Ibu jawab, Ibu mau nanya dulu. Niat kamu dulu punya anak apa? Biar ngga diomongin orang karena udah nikah tapi belum punya anak? Atau, agar ada yang menafkahi kamu kelak pas kamu udah tua?"


"Buat manjangin keturunan, Bu," aku nyengir.


Ibu mencebikkan bibirnya.


"Apapun alasannya, kamu tetap berkewajiban mengurus, manjaga, mengajari mana yang benar dan yang salah serta mendidik anak kamu kan?"


Aku mengangguk.


"Itu berlaku untuk semua anak. Baik laki-laki maupun perempuan. Tapi, untuk anak perempuan, tanggung jawab mendidik akan pindah ke bahu suaminya saat menikah. Sedangkan anak laki-laki, akan tetap pada ibunya. Ibu masih wajib mendidik anak laki-lakinya seumur hidup. Dalam artian, jika anak salah, wajib untuk ditegur dan diingatkan.


Bukan untuk menafkahi seumur hidup atau mengikuti perintah Ibu sekalipun perintah Ibu salah."


Aku mengangguk mengerti.


"Banyak orang tua khususnya seorang ibu yang salah kaprah mengartikan jika anak laki-laki selamanya milik mereka. Mereka menganggap si anak laki-laki ini bertanggung jawab sepenuhnya akan nafkah mereka. Dan mewajibkan anak untuk selalu patuh. Padahal, patuh itu tidak berlaku untuk hal yang salah.

__ADS_1


Banyak anak laki-laki yang juga seorang suami mengutamakan ibunya dengan alasan mereka selamanya milik ibunya dan surga mereka terdapat pada ibu, tapi mereka melalaikan tanggung jawab yang lain. Terhadap istri misalnya.


Itulah kenapa, seorang ibu yang baik harus dapat memposisikan diri. Turun tangan hanya disaat anak mereka salah jalan. Sudah, cukup sampai disitu saja. Tidak perlu ikut campur terlalu jauh akan hidup si anak. Anak juga perlu diberi pemahaman bahwa hidup itu harus seimbang. Antara kewajiban mereka patuh terhadap ibu dan juga kewajiban mereka sebagai seorang suami."


"Wah, ibu pinter banget." Aku berdecak kagum.


"Dari lahir!" beliau menjawab ketus kemudian tertawa.


"Para ibu yang mengerti, tidak akan menuntut balas atas apa yang sudah ia lakukan untuk anak. Tidak akan membebankan dan mewajibkan masalah nafkah pada anak apalagi jika anak itu sudah berumah tangga. Jikapun sang anak memberikan nafkah, itu dihitung bukan sebagai kewajiban ataupun balas budi. Itu merupakan tanda hormat, tanda bakti dan tanda sayang seorang anak kepada ibunya.


Kamu punya anak laki-laki juga. Didik anak kamu agar kelak menjadi seorang anak yang berbakti pada orang tua dan juga bertanggung jawab pada hidupnya sendiri. Saat kamu sudah melihat anak kamu menjadi pribadi yang sholeh, saat itulah kamu bisa hidup dengan bangga dan dagu terangkat."


***


Mas Yandri pulang dari kantor dengan wajah pucat, ternyata dia terserang demam.


"Iya Neng, pas abis makan siang Mas tiduran sebentar di mushola. Kayanya masuk angin," jawab Mas Yandri lesu.


Aku meraba keningnya dan terkejut karena panasnya cukup tinggi. Dengan bergegas, aku mengambil waslap untuk mengompresnya.


"Mas, banyakin minum air putih ya. Neng ga akan kasih obat dulu, demam 'kan proses badan melawan penyakit, kalo dikasi obat sekarang, nantinya takut naik lagi demamnya. Air putih aja biar Mas ga dehidrasi."


Mas Yandri mengangguk mengiyakan.


***


Tepat menjelang tengah malam, aku mendengar Mas Yandri mengigau. Saat kuraba dahinya, panasnya semakin tinggi. Aku mencoba membangunkannya untuk minum obat tapi sia-sia. Karena panik, aku bergegas menarik tubuhnya kuat-kuat. Setelah perjuangan yang sangat melelahkan, aku berhasil mendudukkan Mas Yandri di mobil tepat di kursi penumpang sebelah pengemudi.

__ADS_1


Aku kembali berlari mengambil Dre di kamar. Gegas aku menyelimutinya rapat-rapat dan membawanya ke mobil. Dre yang tertidur pulas aku baringkan di jok belakang. Akal sehatku hilang dikarenakan panik oleh kondisi Mas Yandri.


Menekan gas pelan-pelan, aku segera berlalu ke rumah ibu.


***


Ibu terkejut melihatku yang sedang mengendong Dre.


"Nitip Dre ya Bu. Mas Yandri sakit, Neng mau ke rumah sakit," aku berkata singkat.


Tanpa banyak bertanya ibu segera mengambil Dre dan membangunkan Lita. Tanpa kusadari, Lita sudah berganti baju dan ikut masuk ke dalam mobil untuk menemaniku.


***


"Hasil trombositnya rendah ya Bu, Bapak untuk sementara harus dirawat dulu.


Dokter menjelaskan padaku jika Mas Yandri terserang demam berdarah.


"Sudah dikasih obat penurun panas?" tanya dokter.


Aku menggeleng. "Belum sempat dokter. Saya baru memberikan air putih yang banyak pada suami saya."


Dokter dihadapanku mengangguk mengerti.


"Iya bu, sudah benar. Pertolongan pada demam adalah pemberian air putih yang cukup untuk mencegah pasien dehidrasi. Untuk kasus demam berdarah, pemberian obat penurun demam yang tidak tepat juga bisa semakin menurunkan trombosit dan meningkatkan resiko pendarahan. Ibu silakan ke bagian administrasi untuk mengecek ketersediaan kamar ya."


Aku mengucapakan terima kasih, dan menitipkan Mas Yandri yang masih terbaring di ruang IGD pada Lita. Dengan bergegas, kakiku melangkah keluar untuk mengurus proses rawat inap Mas Yandri.

__ADS_1


__ADS_2