
"Ingin melihat kehancuran seorang ibu? Pisahkanlah dia dari anaknya secara paksa." - Author
***
Aku menelpon ibu mertua berkali-kali dalam satu hari. Meskipun jauh, aku ingin tetap mendampingi beliau saat dalam keadaan terpuruk. Walaupun beliau sudah menerima dan iklas atas kepergian Ana yang mendadak, tapi tidak dapat dipungkiri, batinnya sebagai seorang ibu terkoyak tanpa sisa.
"Rencananya setelah menikah, Ana mau mengunjungi kamu, Re di sana. Mau ketemu Dre. Tapi apa boleh buat, Allah memanggilnya untuk pulang secepat ini."
Perkataan ibu mertua kembali menerbitkan rasa sedih dihatiku.
"Bu, Mas Yandri biar disitu dulu ya nemenin Ibu. Sampai semuanya beres," aku berkata pelan.
Ibu mertua sempat menolak, namun dengan sekuat tenaga aku meyakinkan dirinya jika aku dan Dre disini baik-baik saja. Nyatanya, beliau lebih membutuhkan Mas Yandri di saat seperti sekarang ini.
***
Sosok Mas Yandri yang turun dari taksi membuat hatiku trenyuh. Suamiku itu terlihat lesu dan tidak bersemangat.
"Papa," Dre merentangkan tangannya dari dalam gendonganku saat melihat Mas Yandri.
Ajaib, raut muka Mas Yandri yang tadinya kusut seketika tersenyum saat melihat anak kami tersebut.
***
"Gimana keadaan Ibu, Mas?" tanyaku saat kami sudah selesai makan malam. Mas yandri tidur cukup lama sepulangnya ia dari Bandung. Bisa kuduga, keruwetan pikiran membuatnya susah untuk tidur.
"Alhamdulillah udah baik, Neng. Ibu sama Lita berencana untuk pulang ke kampung nanti setelah 40 hari Ana. Mungkin menginap sebentar di rumah Budhe."
"Sekolah Lita gimana?"
__ADS_1
"Harusnya tahun ini dia masuk kuliah, tapi karena ada kejadian ini dia mutusin untuk menunda dulu. Dia ingin menemani ibu."
Aku terdiam sejenak,
"Kenapa Ibu sama Lita ngga pindah ke sini aja, Mas? Kan bisa menempati rumah kita yang di sana?"
Mas Yandri menatapku lekat.
"Mas belum tau Neng. Mas udah menawari Ibu untuk sementar ikut ke sini. Tapi Ibu menolak. Dia ingin tetap tinggal di Bandung."
"Ya udah Mas kalau itu udah jadi keputusan Ibu," ucapku menutup pembicaraan.
***
Aku menikmati peranku setiap hari sebagai seorang ibu. Tanpa terasa Dre sudah bertumbuh besar. Kosakatanya sudah banyak dan terkadang membuatku tertawa. Bagaimana tidak? Dia sering mengucapkan beberapa kata yang terdengar asing di telingaku. Pekerjaan baruku bertambah, menjadi penerjemah.
***
"Assalamualaikum," aku mengetuk pintu rumah Bu Jejen
Cukup lumayan lama aku menunggu. Sampai akhirnya, saat aku akan berbalik pulang, pintu terbuka.
"Waalaikumsalam. Eh, kamu Re. Saya kira siapa," beliau menyapaku.
Dengan tersenyum ia menjawil pipi Dre dan menggodanya.
"Ayo masuk, Re," ajaknya.
"Bu Jejen ngga usah repot-repot buatin sirop, saya mah air putih juga cukup." Aku berkata setelah duduk di sofa ruang tamunya. Bungkusan kue yang kubawa, aku taruh di meja.
__ADS_1
"Halah kamu Re, ge er banget. Saya cuma mau ambil coklat kok buat Dre. Bukan mau bikinin kamu minum."
Perkataan Bu Jejen sontak membuatku nyengir.
***
"Kata ibu-ibu, Bapak sakit ya?" Aku bertanya setelah Bu Jejen duduk dihadapanku.
"Iya Re, vertigonya kumat. Udah bolak-balik ke dokter. Tapi ya itu, masih belum ada hasil. Jadinya sekarang kami ke pengobatan alternatif."
Tanpa ia bicarakan, aku sudah mengerti jika Bu Jejen dalam keadaan yang kurang baik.
Kami menghabiskan beberapa menit kemudian untuk membicarakan hal-hal yang ringan. Sesekali tertawa saat mendengar Dre berbicara.
"Bu Jejen, saya pamit dulu ya. Semoga Bapak cepet sehat lagi. Pusing saya kalau ga ketemu Ibu sehari. Ga ada yang bisa diajak berantem," aku tertawa.
Tepat saat Bu Jejen mencium Dre yang sudah ku gendong, aku menyelipkan amplop ke tangan beliau.
Keterkejutan di wajah Bu Jejen terlihat jelas di mataku. Matanya terlihat mengembun.
"Apa-apaan ini Re? Saya ngga suka loh kalo kaya gini. Kamu mau dateng aja saya udah seneng," suara beliau terdengar parau.
"Yee, Bu Jejen ge er. Saya ngasih itu buat Bapak, bukan buat Ibu," ucapku tersenyum.
"Tapi ini terlalu banyak." Bu Jejen menggenggam erat amplop dariku.
"Itu udah rejeki Ibu. Udah gausah ditolak. Pamali nolak rejeki. Ibu sehat-sehat ya, jangan kecapean. Makan dan sempetin istirahat yang bener. Jangan karena ngurusin Bapak, Ibu jadi lupa sama kesehatan sendiri." Aku memeluknya dan melangkah keluar rumah.
"Re sama Dre pulang dulu ya Bu, Assalamualaikum."
__ADS_1
"Waalaikumsalam," sahut Bu Jejen lirih dengan wajah yang sudah digenangi air mata.