
Tanpa terasa kandunganku sudah memasuki usia 4 bulan. Aku dan Mas Yandri berencana untuk mengadakan syukuran pengajian. Rencananya pula, ibu mertuaku akan datang mengunjungi kami. Mas Yandri sebenarnya juga mengundang mamaku, tapi karena kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan, mama tidak bisa hadir.
Postur tubuhku yang kecil membuat kehamilanku di usia 4 bulan ini tidak terlalu kentara. Selain itu, kebiasaanku yang sering memakai kaos over size membuatnya semakin tidak terlihat. Itulah kenapa, Bu Jejen dan gengnya masih sering suka meledekku.
"Syukuran mulu nih ceritanya, tapi ngga hamil-hamil," ucap Bu Jejen pedas saat aku memberitahukan undangan pengajian pada ibu-ibu komplek yang sedang berkumpul.
"Aduh Bu Jejen berisik banget sih, kalo ngga mau dateng juga ga apa-apa. Saya ngga maksa," balasku tak kalah pedas.
Beberapa ibu-ibu melongo dan sebagian lagi tersenyum melihat kami perang kata. Entahlah, sejak hamil, jiwa barbarku semakin tak terbendung. Aku bisa tiba-tiba emosi dan berkata ketus. Korbanku yang pertama tidak lain adalah Mas Yandri. Untungnya, dia mengerti dan hanya tersenyum saat aku sedang kumat.
"Ya pasti saya dateng dong. Rugi banget kalo sampe ngga dateng," ketusnya mendelik sinis.
"Iyalah, Bu Jejen harus dateng. Ntar saya sediain cemilan dari pasar mekdi. Mau ga tuh?"
"Halah, blagu kamu Re!" ucapnya kesal.
***
Mata Bu Jejen dan gengnya menatap kami yang turun dari mobil. Aku dan Mas Yandri baru saja tiba dari menjemput ibu di bandara.
"Re, itu tetangga kamu kok pada sinis-sinis sih ngeliatinnya?" tanya ibu seraya duduk di sofa.
Aku terkekeh geli mendengar pertanyaannya. "Ya biasa bu, emang gitu. Tapi ngga semua kok. Yang baik juga banyak."
Ibu bangkit dan berkeliling rumah. Aku pikir beliau akan mengeluarkan jurus andalannya yaitu ucapan seribu kata. Tapi ternyata tidak. Hehehe
__ADS_1
***
"Re, itu yang datang ibu kamu atau mertua kamu?" tanya Bu Jejen saat aku sedang membeli sabun di warung.
"Ibu mertua," ucapku singkat.
"Wah cocok, kayanya kamu mau diomelin tuh karena ga hamil-hamil," beliau mulai menyerocos.
Aku yang memang sedang malas menanggapinya memilih diam.
"Bener kan!? Tuh kamu diem aja! Kamu sih, kebanyakan nyolot sama orang yang lebih tua. Ngga sopan! Makanya kena batunya, sukurin!."
"Kayanya kalau menantu saya nyolot sama orang semacam ibu, pantes kok!"
"Anda siapa ya? Kenapa kayanya rajin banget merhatiin menantu saya?" tanya ibu mertua.
"Saya tetangga menantu ...,"
"Tetangga?" ibu mertua memotong perkataannya.
"Iya,"
"Kalau hanya tetangga seharusnya ibu tau bagaimana harus bersikap. Dan mencampuri urusan tetangga atau orang lain tidak mencerminkan sikap sebagai tetangga yang baik. Ibu harus tau batasan!" ibu mertuaku berkata tegas.
"Cepet Re, pulang! Gerah ibu lama-lama di sini!"
__ADS_1
Aku mengangguk dan meraih kantong plastik isi belanjaanku, dalam sekejap aku mengikuti ibu mertua meninggalkan warung.
***
Acara pengajian di rumahku berjalan lancar. Banyak ucapan selamat yang kuterima. Bu Jejen dan gengnya pun tidak banyak bertingkah. Mungkin karena selama acara berlangsung, mata ibu mertua selalu tertuju pada mereka bertiga.
Ibu mertua tinggal di rumah kami selama seminggu setelah acara. Aku dan Mas Yandri berusaha menahan beliau lebih lama tapi beliau menolak. Alasannya karena tidak percaya meninggalkan Ana dan Lita hanya berdua saja dirumah.
"Rumah bisa jadi kaya kapal pecah kalau ibu meninggalkan kedua adikmu terlalu lama," ucap beliau.
Aku meneteskan air mata tanpa sadar saat mengantarnya ke bandara.
"Cengeng! Ga usah nangis lebay kaya gitu lah! Males ibu ngeliatnya!"
Aku mengusap air mataku pelan dan berusaha untuk tersenyum. Ibu mertuaku berdiri untuk memasuki ruang tunggu keberangkatan khusus penumpang. Sebelum berlalu, ia memelukku dan berkata,
"Mulai sekarang kalaupun kamu harus menangis, itu harus merupakan tanda syukur atau bahagia. Jangan menangis selain dua alasan itu."
***
Mas Yandri mengabarkan jika dalam beberapa hari ke depan ia akan pulang terlambat. Akan ada audit besar-besaran untuk mengusut kasus penggelapan uang yang dilakukan oleh Bagas. Nama Mas Yandri terseret karena posisinya sebagai kepala cabang. Jika terbukti Mas Yandri dan Bagas bersekongkol, sangsi berat sudah menanti. Secara jujur aku mengutarakan kekhawatiranku, namun Mas Yandri memintaku untuk tidak memikirkan hal itu. Suamiku juga memintaku untuk berdoa agar semua perkara yang sedang menimpanya dimudahkan oleh Allah SWT.
***
Setelah hampir sebulan dicekam kekhawatiran akan nasib Mas Yandri di kantor, berita baik kuterima. Nyatanya Mas Yandri tidak terbukti turut serta dalam kasus penggelapan yang dilakukan oleh Bagas. Semua bukti pengeluran yang direkayasa Bagas nyatanya palsu dan tanpa tanda tangan Mas Yandri. Bagas pun sudah mengakui jika ia bermain seorang diri. Sebagai sangsi, aku mendengar jika Bagas sudah dipecat secara tidak hormat dan berkewajiban mengembalikan uang kantor yang sudah dipakainya.
__ADS_1