Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku

Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku
Episode 17


__ADS_3

Aku mengalami kondisi mual dan muntah parah. Entah kenapa, indera penciumanku menjadi sangat tajam dan indera pengecapku menjadi sangat peka. Aku tidak bisa makan semau-mauku. Jika kulanggar maka efeknya tidak main-main.


Mas Yandri selalu mempersiapkan segala kebutuhanku sebelum berangkat kerja karena hampir sepanjang hari aku hanya bisa berbaring. Kondisi ini memang tidak setiap hari. Ada kalanya disaat bangun pagi, aku merasa segar. Jika sudah begitu, aku bisa dengan rajinnya membereskan semua pekerjaan rumah yang terbengkalai. Tapi ya itu, kondisi tersebut tidak setiap hari.


Seperti pagi ini, aku bangun dengan tubuh yang ringan. Setelah membereskan rumah, aku keluar untuk menghirup udara segar dan menunggu tukang sayur. Para ibu yang biasa duduk di seberang rumahku pun sudah berkumpul.


"Sayur...."


Setelah sosok tukang sayur yang kutunggu terlihat, aku membuka pagar dan keluar. Belum juga sampai di tempat tukang sayur mangkal, suara Bu Jejen sudah terdengar memenuhi gendang telinga.


"Tumben Re, kamu keluar. Bukannya lagi sakit?"


Aku melirik sekilas dan kembali fokus melihat-lihat dagangan.


"Kata siapa?"


"Loh, ya kata saya. Kamu beberapa hari ini ngga keluar rumah, apalagi coba kalo bukan sakit?" cetusnya


"Ibu sotoy."


"Sotoy? Sotoy itu apa?!" Bu Jejen memandangku dengan rasa ingin tau.


"Ah kepo Bu Jejen mah, segala pengen tau." Aku memilih untuk tidak meladeni beliau.


***


"Jangan makan sembarangan kamu, Re! Banyakin istirahat! Buah sama sayur jangan ketinggalan! Vitamin dari dokter rajin diminum! Gimana sih, udah mau jadi ibu masih aja harus diingetin! Dasar menantu pelupa!"


Aku tersenyum lebar mendengar ocehan ibu mertuaku. Ya, ibu Mas Yandri itu bukan tipe manusia yang lembut. Wajahnya yang jutek dan perkataannya yang menusuk akan membuat orang mengira ia seorang wanita yang kejam. Padahal tidak. Ibu mertua paduka ratuku seorang pemerhati dalam diam. Dia bukan tipe orang yang bisa dengan jelas mengungkapkan perhatian atau kasih sayang. Dia memiliki caranya sendiri. Ini yang seringkali membuat salah paham. Intinya? Komunikasi.

__ADS_1


"Iya paduka ratu, Neng denger. Telinga Neng sakit nih, ibu ngomongnya nyentak-nyentak mulu."


"Ya kamu, jadi menantu pecicilan! Mana ibu percaya kamu bisa diandalkan! Pokoknya jangan begajulan! Jangan banyak tingkah! Diem aja dirumah, tidur! Yandri suruh makan di luar dulu untuk sementara!"


"Iya siap ibu ratu, Neng ngerti."


Aku terdiam karena teringat sesuatu.


"Ibu di sana dibantuin siapa? Setelah Neng pindah, siapa yang masak? Yang nyuci? Yang beres-beres?"


Ibu mertua tertawa. "Ya Ana sama Lita dong. Setelah kamu sama Yandri pindah, mereka ibu suruh bantuin ibu. Kalau masak tetap ibu, soalnya ibu masih berkewajiban dalam urusan pangan mereka. Awalnya memang ibu ngga membiasakan mereka untuk kerja di rumah bantu-bantu. Karena mereka harus fokus sekolah. Sekarang kan mereka sudah besar dan bisa mengatur waktu. Ya ibu ospek mereka biar bisa ngerjain kerjaan rumah tangga. Ngga kaya kamu! Pertama pindah malesnya minta ampun! Nyuci setiap hari ngomel, padahal ga lebih dari sepuluh stel baju!"


Aku tertawa mengingat saat-saat awal pindah ke rumah ibu mertua.


"Ya kan Neng sebelum nikah mikirnya nanti ada asisten rumah tangga buat bantu-bantu," aku membela diri.


Bu Rere, nyucinya seminggu sekali aja ya. Bu Rere, masaknya yang saya bisa aja ya. Nah, kalau udah begitu, mau gimana kamu?! Walaupun kelak kamu dibantu seribu ART, kamu tetap pemberi perintah, kamu ratunya!"


"Hahaha," aku tertawa lepas mendengar perkataan ibu mertua.


***


"Neng, minum kopinya dikurangi ya?" Mas Yandri berkata padaku setelah makan malam.


"Buat Mas?" aku bertanya balik.


Mas Yandri terkekeh melihatku, "Ya buat kamu Neng, kan kamu hamil, agak dikurangin ngopinya. Ganti pake susu aja ya."


"Iya Mas, nanti Neng beli susu deh."

__ADS_1


Mas Yandri duduk di sofa dan memanggilku. "Neng, kesini."


Aku menyerahkan gelas berisi kopi Mas Yandri dan ikut duduk disebelahnya. "Ada apa Mas?"


"Mas mau cerita. Tapi ini sekedar cerita aja ya."


Aku mengangguk mengerti dan mulai menatapnya intens.


"Si Bagas ketauan make uang kantor, Neng. Nominalnya lumayan."


Mataku pasti melotot tanpa kusadari karena Mas Yandri tiba-tiba tertawa.


"Biasa aja mukanya," ucapnya tertawa.


"Kayanya kecurigaan kamu kemarin bener deh. Soalnya OB kantor tadi pagi cerita, kalau dia sering disuruh sama si Bagas buat masukin sesuatu ke minuman Mas.


Bagas bilang, itu obat Mas. Bagas beralasan kalau Mas yang menyuruh dia untuk menyiapkan obat karena Mas sedang sakit parah. Sampai pas tadi pagi, si OB ini bilang pas lagi nganter teh, kalau obat mas belum dimasukkin karena si Bagas ngga ngasi ke dia."


Mas Yandri meneguk kopinya pelan.


"Ya mas nanya dong, maksudnya apa. Dan OB itu cerita semua."


Aku terhenyak tidak percaya. Aku pikir anak buah Mas Yandri tersebut tidak akan berbuat sejauh itu.


"Tapi mas ngga kenapa-kenapa?" Aku takut terjadi sesuatu pada suamiku itu.


"Ya ngga kenapa-kenapa Neng. Di agama kita dianjurkan untuk selalu mengucap Basmalah setiap kali akan melakukan sesuatu. Sedikit banyak itu berpengaruh. Karena apapun yang kita lakukan, mau bekerja, makan atau minum atau apapun juga selalu menyebut nama Allah. Jadi hal-hal yang buruk bakal menjauh." Mas Yandri menjelaskan.


Aku bersyukur dan mengucap Hamdalah dalam hati karena suamiku masih diberi perlindungan. Allah sebaik-baiknya pelindung, dan sebaik-baiknya penjaga.

__ADS_1


__ADS_2