Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku

Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku
Episode 11


__ADS_3

[Saya, Jejen Marisa meminta maaf atas kebohongan yang sudah saya ceritakan kemarin di grup ini. Kejadian sebenarnya bukan seperti apa yang saya ceritakan. Saya melebih-lebihkan cerita karena emosi kepada Ibu Rere. Untuk Ibu Rere, saya minta maaf sebesar-besarnya atas perbuatan saya.]


Ponselku berkali-kali berdenting tanda banyak notifikasi yang masuk. Rupanya berasal dari WA Grup warga. Setelah diam beberapa saat, aku mengetik kalimat balasan.


[Saya, Rere Demian memberikan maaf setulus hati sesuci kalbu kepada Bu Jejen. Saya pribadi juga minta maaf untuk kata yang tidak berkenan. Semoga ini bisa menjadi pelajaran untuk kita semua kedepannya.]


WA grup warga kembali ramai. Beberapa dari mereka menanyakan kronologi yang sebenarnya padaku. Namun, karena sudah saling bermaaf-maafan, aku tidak menggubris pertanyaan mereka.


***


Aku sedang memulas bibir dengan sentuhan akhir dari merk liptint favoritku saat mas Yandri masuk ke kamar.


"Ayo Neng, siap?"


Setelah beberapa saat, aku berdiri dan mematut bayanganku dalam cermin. Aku mengangguk dan berjalan bersama mas Yandri menuju mobil.


Acara di kantor ini cukup meriah. Para karyawan dengan ramah memberikan ucapan selamat datang dan mendoakan agar aku dan mas Yandri betah di kota ini. Kami mengobrol hingga tak terasa malam sudah semakin larut. Menjelang pukul 11, acara telah selesai dan kami pun pulang.


***


Bu Jejen dan anggota gengnya tidak pernah lagi mengganggu. Mereka cenderung menghindar jika melihatku. Selama beberapa saat aku merasakan ketenangan yang dari dulu kuimpikan. Sesaat setelah menikah, aku dihadapkan oleh kesibukan di rumah ibu mertua. Saat baru pindah ke sini, aku dihadapkan pula oleh kelakuan bu Jejen. Teringat sesuatu, aku mengambil ponsel dan memencet kontak ibu mertuaku.

__ADS_1


"Assalamualaikum ibu, sehat?" Aku berucap setelah sambungan teleponku diangkat pada dering kedua.


*Waalaikumsalam Re, alhamdulillah ibu sehat. Kamu gimana? Yandri gimana?"


"Alhamdulillah bu, kami berdua sehat...."


Obrolan berlangsung sampai setengah jam berikutnya. Kami mengobrolkan hal-hal yang ringan. Ibu mertuaku ternyata tidak segalak perkiraanku. Mungkin karena kami sekarang sudah berjauhan. Menjelang Dhuhur, aku pamit mematikan saluran telepon.


***


Sudah beberapa hari ini mas Yandri pulang tidak tepat waktu. Selain itu, dia tidak mengabariku sebelumnya. Hidup bersama dengan seseorang akan membuat kalian tau jika ada perilakunya yang di luar kebiasaan. Begitupun denganku, aku merasa ada perubahan yang terjadi pada mas Yandri. Tidak kentara, tapi aku merasa.


***


Tok Tok Tok!


Pintu rumahku diketuk seseorang tepat pukul 8 malam. Sudah pasti itu bukan mas Yandri karena aku tidak mendengar suara mobilnya.


Bu Jejen berdiri di teras dengan pandangan yang datar. Setelah mempersilahkan beliau masuk, aku ke dapur untuk membuat minuman.


"Diminum dulu, Bu," ucapku pelan.

__ADS_1


Bu Jejen terlihat gelisah. Entah kenapa aku mulai merasa was-was. Instingku mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.


"Begini Neng Rere, sebelumnya ibu minta maaf udah bertamu malam-malam. Tapi ada sesuatu yang ibu mau sampaikan ke Neng Rere."


Aku menautkan alis. Saat seseorang yang cenderung suka berbicara kasar mendadak berbicara pelan dan halus, pasti ada sesuatu yang besar yang akan disampaikan.


"Begini Neng Re, ibu ngga bermaksud untuk mengadu domba atau apa. Tapi...," ucapan bu Jejen menggantung.


Aku melihat ekspresi keraguan di wajah beliau. Ingin mengabaikan, tapi aku penasaran.


"Tapi apa Bu Jejen? Neng ngga ngerti kalau ibu ngga cerita. Ngga apa-apa bu, cerita aja."


Selama beberapa saat bu Jejen menatap mataku dengan ekspresi yang makin sulit kuartikan. Perlahan ia mengutak-atik ponselnya dan memberikannya padaku.


Aku tidak bisa membayangkan ekspresi wajahku saat melihat foto di galeri ponsel bu Jejen. Rasa dingin mulai menjalari punggung, dan lututku lemas seketika. Disudut kanan bawah foto itu terdapat tanda air waktu pengambilan foto. Foto itu baru saja diambil sekitar satu jam yang lalu.


Merasa lemas, aku menyandarkan punggungku. kejernihan pikiranku telah terenggut digantikan asumsi yang semakin membuatku overthinking. Bu Jejen menatapku iba.


"Tadi saya keluar belanja sama anak saya, waktu ngga sengaja ketemu Pak Yandri. Saya pikir itu Neng Rere dan saya berniat untuk menyapa. Ternyata setelah mendekat, saya sadar jika Pak Yandri bersama perempuan lain."


Ucapan bu Jejen masuk telak ke dalam otakku dan perlahan menciptakan rasa sakit di hati.

__ADS_1


__ADS_2