Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku

Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku
Episode 38


__ADS_3

Banyak wanita yang memilih terus mempertahankan hubungan toxic daripada berpisah dengan berbagai macam alasan. Karena anak, karena takut tidak bisa mencari uang sendiri dan karena terus berharap jika suatu saat nanti pasangannya akan berubah.


***


"Tadinya suami saya kerja di luar kota, Neng. Baru beberapa bulan ini kembali ke sini. Dia diberhentikan dari pekerjaannya karena sempat sakit cukup lama. Sejak saat itu kelakuannya berubah. Dia tidak segan memaki bahkan membanting barang."


Aku terdiam mendengar cerita Bu Susi. Ada kekhawatiran yang menyelinap dalam hatiku.


KDRT tidak langsung terjadi begitu saja. Semua bermula dari hal yang kecil dulu, dan perilaku itu akan meningkat seiring berjalan waktu. Jika suami Bu Susi saat ini sudah berani memaki dan membanting barang, bukan hal yang mustahil jika selanjutnya Bu Susi sendirilah yang akan jadi targetnya.


Sebenarnya apa yang sudah Bu Susi alami sekarang sudah termasuk dalam tindak KDRT. KDRT tidak melulu terjadi pada fisik. Orang banyak mengira jika KDRT terjadi setelah adanya tindak penaniayaan. Padahal serangan verbal seperti apa yang Bu Susi alami sekarang sudah termasuk dalam tindak KDRT.


Malah sebenarnya hal tersebut jauh lebih fatal, karena menyerang mental dan dampaknya bisa lebih merusak. Luka fisik bisa sembuh dalam hitungan waktu. Namun luka batin, bisa jadi akan terus abadi dan menimbulkan trauma yang mempengaruhi perilaku.


"Sekarang dia tidak bekerja, sedangkan saya tidak mungkin diam saja saat kami semua butuh makan. Makanya saya sering berhutang ke tetangga. Terkadang saya lelah, Neng. Tapi saya tidak berani untuk mengakhiri cukup sampai disini. Saya tidak pernah kerja sebelumnya. Saya takut tidak bisa menghidupi diri saya sendiri." Bu susi menghela nafas.


"Sekarang anak-anak dimana, Bu?" Aku bertanya.


"Mereka saya ungsikan ke rumah ibu saya. Saya ngga mau anak-anak melihat perlakuan ayah mereka pada saya."


Tindakan Bu Susi mengungsikan anak-anaknya menurutku sudah tepat.


Banyak pasangan yang memutuskan bertahan karena alasan anak. Alasan utamanya, mereka ingin memberikan sosok orang tua yang utuh. Tapi sayang, mereka tetap saja ribut dan bertengkar hebat di depan sang anak. Secara tidak langsung, kebersamaan yang terus dipertahankan justru menjadi bumerang untuk kesehatan psikis anak.


"Saya cape, Neng. Tapi saya terus menguatkan hati dan berharap jika suami saya akan berubah seperti dulu. Dulu dia sosok seorang suami yang penyayang dan ayah yang baik untuk anak-anak."


Aku mengangguk mengerti.


"Ibu yang sabar ya. Kalau sekiranya ibu butuh temen ngobrol, ibu bisa cari saya."


Hanya kalimat itu yang bisa kukatakan. Aku tidak mau banyak bicara. Aku takut salah bicara, dan seketika menjadi provokator dalam urusan rumah tangga Bu Susi.

__ADS_1


Setelah melihat keadaan Bu Susi yang sudah tenang, aku pamit pulang.


***


"Urusan rumah tangga orang lain memang bukan ranah kita untuk ikut mencampuri. Tapi jika terjadi hal buruk tepat di depan mata, hal tersebut bisa diabaikan.


Rasa kemanusiaan Teteh patut dipertanyakan jika Teteh melihat kekerasan di depan mata, tapi Teteh hanya bisa diam karena beralasan bahwa itu masalah rumah tangga orang lain.


Bantu sebisa Teteh tapi jangan lupa batasan. Teteh hanya sekedar orang luar yang seharusnya membantu, bukan mencampuri."


Mama berbicara panjang lebar saat beliau meneleponku. Aku bercerita tentang kejadian yang dialami Bu Susi.


Terkadang, dalam kasus KDRT, orang sekitar lebih banyak diam karena mereka selalu dihadapkan pada kenyataan jika hal tersebut merupakan urusan rumah tangga orang dan mereka tidak ada hak ikut campur.


Secara tidak langsung itu semakin membuat pelaku KDRT leluasa. Para pelaku akan berlindung dibalik kata-kata jika orang luar tidak ada yang berhak mencampuri urusan rumah tangga orang lain. Padahal, tindak penganiayaan apapun bentuknya, bisa di proses secara hukum.


***


Aku yang baru saja memakaikan baju Dre terlonjak kaget. Dengan bergegas aku menuju pintu. Ternyata Bu Jejen dan Bu Romlah.


"Ada apaan Bu, sampe lupa ngucap salam loh."


Wajah keduanya cukup panik. Aku merasa ada sesuatu yang telah terjadi.


"Bu Romlah barusan lari ke warung Bu Indah! Katanya Bu Susi dihajar suaminya! Ayo cepetan, Re!" Bu Jejen ngos-ngosan kehabisan nafas.


Aku masuk ke dalam dan menuju dapur.


"Mbak Tinah, titip Dre sebentar ya."


"Iya Neng," jawab Mbak Tinah.

__ADS_1


Langkah kakiku memburu keluar dan bergegas mengikuti Bu Jejen. Sedangkan Bu Romlah sudah meninggalkan kami untuk menuju ke rumah pak rt.


***


"Jangan ada yg ikut campur! Ini istri saya! Ini urusan rumah tangga saya!" teriakan seseorang terdengar dari balik orang-orang yang berkerumun.


Tidak ada satupun yang berani maju. Bu Jejen disebelahku terlihat sangat kesal. Kurasa, kami semua yang ada disini juga merasakan hal yang sama.


Bu Susi terduduk di lantai teras rumahnya dengan kondisi yang memprihatinkan. Rambutnya berantakan dan terlihat ada memar cukup besar di tangannya.


"Wanita ini memang pantas dihajar! Tidak bisa menyenangkan hati suami!" suami Bu Susi berteriak. Ia masih terlihat marah. Saat tangisan Bu Susi semakin menjadi, ia menendang kaki wanita itu.


Aku dan Bu Jejen serempak maju.


"Berhenti disitu! Kalian jangan ikut campur! Ini urusan rumah tangga saya dan istri saya!" teriaknya pada kami.


Cukup sudah, aku benar-benar kesal sekarang.


"Heh Bapak! Urusan rumah tangga itu jika dilakukan di dalam rumah dan hanya antara bapak dan istri bapak! Jika dilakukan di luar rumah dan disaksikan banyak orang, itu bukan urusan rumah tangga! Itu urusan kami bersama!" aku berteriak lantang.


Tanpa kuduga semua yang hadir menyetujui perkataanku.


"Bener itu!"


"Neng Rere bener!"


"Iya, memang seperti itu, Neng!"


"Saya atau siapapun bisa melaporkan bapak karena menganiaya istri bapak, karena ini terjadi di depan mata saya! Semua yang hadir disini saksinya!"


Pria yang sebelumnya berteriak padaku terlihat terkejut, dengan terburu-buru ia berjalan menuju motornya dan pergi.

__ADS_1


Para ibu-ibu lain dengan segera menghampiri Bu Susi untuk melihat keadaannya. Sedangkan aku? Aku berusaha meredakan hawa panas di seluruh tubuhku karena emosi yang teramat sangat.


__ADS_2