
Ana menepati janjinya untuk membereskan kuliah lalu menikah. Permasalahan tempo hari ternyata bersumber dari dia sendiri. Ia merasa ketakutan disaat pacarnya bermaksud memutuskan hubungan. Bagaimana tidak, pacarnya yang berusia lebih tua menginginkan untuk segera membina rumah tangga. Sedangkan untuk Ana, saat itu menikah belum menjadi prioritasnya.
Rasa takut akan ditinggalkan, membuat ia dengan nekat meminta pada ibu untuk segera dinikahkan. Untungnya, saat Mas Yandri datang ke Bandung dan bertemu dengan orang tua pacarnya, tercapai kesepakatan jika pernikahan akan dilakukan tepat setelah Ana lulus.
Dalam waktu setahun sejak pertengkaran hebat dengan ibu, Ana banyak belajar menjadi pribadi yang lebih baik.
***
Mas Yandri sudah memesan tiket pesawat untuk menhadiri pernikahan Ana. Mau tidak mau dia harus hadir, karena ibu dan Ana memintanya secara pribadi untuk menjadi wali nikah. Dan seperti biasa, aku akan tetap tinggal di rumah bersama Dre.
***
Dre sudah mulai belajar berjalan. Segala benda di dalam rumah yang sekiranya dapat membahayakan, sudah Mas Yandri ungsikan ke gudang. Akibatnya, rumah kami terlihat kosong dan lapang.
Waktu akan terasa cepat berlalu bagi manusia-manusia yang menikmati hidup. Begitu juga dengan apa yang kurasa. Aku menjadi saksi yang menyaksikan tumbuh kembang Dre. Rasa lelah yang setiap hari mendera, terasa sangat sepadan dengan bisa melihat anakku berkembang setiap harinya.
***
"Inget ya Neng pesen Mas," ucap Mas Yandri sambil melihat ponsel.
"Iya Mas, iya. Telepon setiap hari. Ngga keluar rumah cuma berdua Dre. Dan minta tolong ke tetangga kalau butuh apa-apa. Iya Mas, Mas udah lebih dari lima kali ngomong kaya gitu. Sekali lagi dapet gelas cantik nih dari Neng." Aku menggelengkan kepala sembari menggendong Dre.
Mas Yandri sedang menunggu taksi online yang akan membawanya ke bandara. Seketika ingatan membawaku pada waktu di mana aku melahirkan Dre. Saat itu situasinya tidak berbeda jauh dengan saat ini. Bedanya, saat ini ada Dre diantara kami.
"Nanti Mas kabarin kalau udah sampai. Kalau bisa, Dre jangan disuruh tidur dulu. Barangkali Mas nanti kangen."
Aku menghela nafas panjang. "Iya mas, iya. Tenang atuh mas. Semuanya aman terkendali."
__ADS_1
"Satu lagi, kalo bisa Mbak Tinah ajak tidur di rumah biar ada yang nemenin kamu, Neng." Mbak Tinah adalah ART kami yang bekerja dari pagi sampai sore. Baru beberapa bulan kami mempekerjakan beliau. Rumahnya pun tidak jauh dari sini.
"Iya tenang atuh. Ngga sama Mbak Tinah juga kan banyak ibu-ibu disini. Belum lagi Bu Indah yang sebentar-sebentar dateng bawain Dre jajan. Terus ada Bu Jejen, Bu Romlah. Tenang Mas. Neng kesel nih lama-lama kalau Mas ngomong terus."
Mas Yandri menggaruk kepalanya yang aku yakin seratus persen tidak gatal.
Suara klakson terdengar, dengan segera Mas Yandri memelukku yang masih menggendong Dre. Tidak lupa ia mengecup anak kami tersebut berulang-ulang.
"Mas berangkat dulu ya Neng. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Hati-hati, Mas."
***
Mas Yandri menelponku sesaat setelah pesawatnya mendarat tadi malam. Saat sampai di rumah ibu pun, ia kembali mengabarkanku dan menanyakan Dre. Sayangnya, Dre sudah tidur.
***
Saat aku sedang membereskan mainan Dre, Mas Yandri kembali menelepon.
"Dre mana, Neng?"
Aku menatapnya datar.
"Mas, di depan Mas ini ada Neng loh, nanyain Neng dulu bisa kali."
Mas Yandri tertawa, "Ya maap Neng, kan udah keliatan di layar kalo kamu baik-baik aja. Kalo Dre kan ngga keliatan, makanya Mas nanyain."
__ADS_1
"Dre masih tidur Mas, ini Neng lagi beres-beres mumpung dia tidur. Biar nanti Mbak Tinah ga terlalu repot beresin ini semua." Aku mengedarkan ponsel, memperlihatkan keadaan rumah dengan mainan yang bertebaran.
Terdengar suara Mas Yandri terbahak keras. Di belakangnya terdengar suara ibu, Ana, dan juga Lita. Beberapa detik kemudian, layar ponselku menampilkan wajah ibu mertua.
"Re, minta doanya buat kelancaran acara Ana. Sayang banget kamu gabisa ikut. Ibu kangen Dre padahal."
"Iya Bu, semoga acara hari ini dan besok dilancarkan ya. Neng tuh sebenernya mau ikut, tapi anak ibu ngelarang. Coba tanya sama Mas Yandri, kenapa ngelarang Neng ikut."
Ibu mertua terkekeh. Tidak lama, Ana mengambil alih ponsel.
"Teteh! Ana mau nikah, Teh," lapornya padaku.
Aku tertawa melihat raut wajahnya yang dipenuhi kegembiraan.
"Yakin udah siap? Entar harus nyuci baju loh, beres-beres, masak. Yakin bisa?"
Seraut wajah dilayar hanya tersenyum lebar.
"Insya Allah, Teh. Kan nanti bisa nanya-nanya Teteh buat belajar."
Aku mengangguk, "Iya, kamu bisa nanya Teteh kapanpun kamu mau. Selamat ya Ana. Teteh doakan semoga pernikahan kamu sakinah mawaddah dan warahmah. Maap, Teteh sama Dre ga bisa dateng."
"Ngga apa apa Teh, doanya aja ya. Teteh sehat-sehat ya, peluk cium dari jauh untuk Dre," kata Ana menutup pembicaraan.
Mas Yandri kembali terlihat, ia berpamitan karena akan melihat persiapan untuk acara siraman setelah pengajian nanti.
"Kalau Dre udah bangun, telpon Mas ya Neng."
__ADS_1
"Iya," ucapku sesaat sebelum mematikan sambungan.