Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku

Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku
Episode 40


__ADS_3

Selama beberapa waktu tidak terdengar kabar apa-apa dari Bu Susi dan suaminya. Bu rt mengatakan jika suami Bu Susi setuju saat diminta untuk menandatangani surat pernyataan tidak akan melakukan kekerasan lagi.


***


Aku sedang di warung Bu Indah bersama Bu Jejen dan gengnya.


"Kayanya teguran dari Pak rt kemarin berhasil ya. Suami Bu Susi udah ngga pernah kedengeran marah-marah lagi," kata Bu Romlah. Beliau tau dengan jelas karena rumahnya persis bersebelahan dengan rumah Bu Susi.


"Alhamdulillah, masalahnya berarti udah beres ya. Semoga ngga ada yang seperti itu lagi di sini," Bu Mumun menimpali.


Kami yang hadir serentak mengucap Aamiin.


"Tapi sayang, suaminya belum berubah sepenuhnya. Dia masih suka males-malesan. Kasian Bu Susi pontang panting sendiri cari cara agar bisa terus makan," Bu Indah buka suara.


Aku menoleh menatap Bu Indah. Biasanya Bu Indah hanya menjadi pendengar yang baik, entah kenapa aku menangkap sesuatu yang berbeda dalam nada suaranya.


"Emang kenapa, Bu?" Aku yang penasaran pun bertanya.


"Ngga kenapa-kenapa, cuma ya itu, saya kasian aja Neng ngeliatnya. Kemarin ke sini mau ngambil beras dulu satu liter. Saya kan ngga tega, pas kebetulan saya baru nyetok beras. Jadinya saya kasih lebih."


"Iya, kasian. Sampai harus minjem uang kemana-mana buat bisa makan," kata Bu Jejen.


Aku mengangguk mengerti. "Emang dulu suaminya sakit apa sih?"


"Kalau ngga salah sih liver Neng, makanya ngga bisa terlalu cape," Bu Mumun menjawab.


Kami semua terdiam sesaat. Aku mengunyah gorengan kedua saat melihat Bu rt sedang menuju ke tempat kami.


"Bu rt dari mana?" tanya Bu Jejen langsung.


Wajah Bu rt yang merah kepanasan terlihat seperti kepiting rebus.


"Habis dari atm Bu Jejen. Ngambil uang buat Bu Susi."


"Ooh, Bu Susi minjem ke ibu juga? Ke saya juga minjem," sahut Bu Romlah.


"Saya juga minjemin ke Bu Susi"


"Iya saya juga, kasian buat makan."


"Ke saya sih minjem beras, tapi masa beras minjem, ya saya kasih aja."


Ternyata hampir semua ibu-ibu membantu Bu Susi. Aku mengerti, hidupnya tentu sedang dalam keadaan yang kurang baik. Aku perlahan mendekati Bu rt yang sedang minum teh kotak,


"Bu rt mau ke rumah Bu Susi? Saya ikut ya? Ada sembako sedikit dirumah. Barangkali bermanfaat," ucapku berbisik.


Bu rt mengangguk mengiyakan.


"Iya Bu Rere, nanti kita bareng ya ke sana."


***


Aku bergegas pulang untuk mengambil beberapa sembako untuk Bu Susi. Bu rt tetap menunggu di warung. Karena merasa sembako yang ada kurang lengkap, aku pun membeli beberapa lagi untuk tambahan.


"Bu Indah, mau gula,telur, sama minyaknya dong."


Bu Indah mengangguk dan dengan cekatan mempersiapkan pesananku.


"Buat Bu Susi ya Neng?" tanyanya pelan.


Aku mengangguk mengiyakan.


"Itu...,"


Aku menatap Bu Indah. Sepertinya ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.

__ADS_1


"Kenapa Bu?" aku berbisik


"Itu Neng, hmmm gimana ya ngomongnya?" Bu Indah ikut berbisik.


"Ga apa-apa, ngomong aja," aku masih berbisik.


"Kita ngapain bisik-bisik sih Neng? Kan cuma ada kita doang sama Bu rt."


Mendengar ucapan Bu Indah, aku tertawa kencang.


"Hahaha, ya Ibu yang duluan. Mau ngomong aja kaya yang susah," aku masih tertawa. Bu Indah pun ikut tertawa.


Bu rt yang mendengar kami tertawa memghampiri.


"Kenapa sih pada ketawa?" Bu rt penasaran.


Bu Indah menatapku lalu kemudian membuka suara.


"Begini Bu rt, saya ngga enak gimana cara ngomongnya. Cuma lama-lama saya mulai ngga sreg aja sama Bu Susi. Apa ya, bukannya saya ngga prihatin. Tapi Bu Susi sering sekali mengambil dulu dagangan saya dan belum pernah dibayar sampai sekarang. Sedangkan saya juga butuh untuk muterin modal," Bu Indah berkata panjang lebar.


Bu rt dan aku menghembuskan nafas panjang bersamaan.


"Gimana ya, saya juga bingung," ujar Bu rt.


"Ya udah Bu Indah, nanti kalau Bu Susi ke sini lagi, bilang aja maaf, Ibu ga bisa ngasi barang-barang dulu. Soalnya modalnya terbatas." Aku memberi saran.


"Iya bener kata Bu Rere," Bu rt menimpali perkataanku.


Bu Indah mengangguk mengiyakan. "Iya deh Bu, Neng. Nanti saya coba."


***


Aku dan Bu rt sudah hampir sampai di rumah Bu Susi, tepatnya di depan rumah Bu Romlah.


"Ssstttt."


"Sssttt."


"Sssttt."


"Ada apa Bu Romlah?" Bu rt berbisik. Rupanya virus berbisik sedang melanda rt sini.


"Tadi, saya mau ngambil daun pisang buat bikin pepes...,"


"Wah enak tuh," aku memotong


"Ssstttt," Bu Romlah menempelkan jari di bibirnya.


"Oh oke," aku membuat gerakan dengan bibirku.


"Tadi saya mau ngambil daun pisang tepat di sebelah kamar Bu Susi. Saya ngedenger dia lagi bicara sama suaminya. Bu rt harus dengar," Bu Romlah berjalan pelan menuju tempatnya mengambil daun pisang. Aku dan Bu rt mengikutinya pelan-pelan.


"Nanti kalau abang beneran ditangkap polisi gimana bang?" terdengar suara Bu Susi.


"Ngga bakal, warga sini ngga akan berani." Suara laki-laki yang kukenali sebagai suara suami Bu Susi terdengar.


"Tapi kamu aktingnya harus bagus. Kaya kemarin lagi lah."


Aku, Bu rt dan Bu romlah saling menatap dengan heran. Dengan pelan, aku mengeluarkan ponselku dan mulai merekam suara.


"Siap bang, nanti aku bakal teriak-teriak lagi kaya kemarin," suara Bu Susi.


"Nah gitu, pokoknya kamu harus akting yang bagus. Biar beneran kaya abis dianiaya. Jadi kan warga kasian. Kamu nanti bisa beralasan kalo abang kadang masih suka marah-marah kalo dirumah.


Pokoknya seperti abang bilang tadi, bikin warga kasihan sama kamu. Setelah itu kamu bisa pinjem uang-lah, sembako-lah, dan lain-lain. Belum lagi kalau ada pemberian dari sana sini. Kan lumayan. Abang ngga perlu kerja, tapi kebutuhan kita terpenuhi."

__ADS_1


"Siap abang sayang, percaya sama Susi, rencana kita kali ini pasti berhasil. Setelahnya, Susi mau minjem uang ke Neng Rere. Kayanya dia gampang kasian. Untung waktu dia mau ke sini tempo hari, dia ngabarin dulu. Jadi kan kita bisa akting pas dia datang."


Aku melotot tidak percaya. Wow, ini sungguh diluar dugaan.


***


Seperti yang telah direncanakan. Bu Susi kembali melakukan ulah. Dia berakting seolah-olah sudah didzalimi oleh suaminya sendiri. Aku yang sudah tau, memilih diam di rumah saat Bu Jejen menjemput.


"Bu Jejen, saya lagi sakit kepala, Bu Jejen sendiri aja ya. Kalo saya maksain kesana takutnya saya emosi. Bisa saya hajar itu orang."


Bu Jejen mengangguk mengerti dan berlalu pergi setelah mengucapkan semoga aku lekas sembuh.


***


Kejadian aku mendengarkan pembicaraan Bu Susi dan suaminya hanya diketahui aku, Bu rt dan Bu Romlah. Bu Romlah berkata, ia mendengar saat Bu Susi dan suaminya berencana menggunakan peralatan makeup untuk memberikan efek memar.


Bu rt meminta kami untuk tidak menyebarkan berita tentang ini. Aku dan Bu Romlah menyanggupi. Bu rt bilang, ia akan berdiskusi dengan suaminya perihal masalah ini.


***


Tok tok tok!


Aku sudah bisa menduga siapa yang ada dibalik pintu. Dan benar, orang yang kumaksud menampakkan wajahnya di hadapanku.


"Saya mau minjem uang Neng Rere," sahut Bu Susi.


Aku terdiam beberapa saat dan memutuskan untuk mengikuti permainannya.


"Mohon maaf Bu Susi, kalau boleh saya tau buat apa ya?"


"Buat makan Neng Rere, suami saya masih ngga mau kerja dan masih suka marah-marah," jawabnya.


Aku tersenyum, "Masa sih Bu?"


Bu Susi mengangkat wajahnya menatapku.


"Bener Neng, sumpah demi Allah."


Aku tercekat dan tanpa sadar membentaknya. "Bu!"


Bu Susi di hadapanku terlonjak kaget.


"Saya ngga suka ibu bawa-bawa nama Allah buat melancarkan rencana ibu ya!"


Dengan segera aku mengeluarkan ponselku dan memutar rekaman pembicaraannya tempo hari.


Seraut wajah dihadapanku terbelalak kaget. Tidak ada kata yang bisa dia ucapkan karena bukti yang kumiliki sangat kuat.


"Tolong berhenti, bu," ucapku pelan.


"Tolong berhenti memanfaatkan rasa prihatin warga pada Ibu untuk keuntungan Ibu sendiri."


Bu Susi hanya diam tertunduk.


"Ibu dapat pilihan dari saya. Melanjutkan dan mengulangi rencana Ibu dengan resiko saya akan menyebarkan rekaman ini, atau berhenti sekarang dan saya akan berbuat seolah-olah rekaman ini tidak pernah ada."


Setelah diam selama beberapa saat Bu Susi mengangguk pelan.


"Saya permisi pulang, Neng" ucapnya lirih.


Aku menghela nafas panjang. "Silakan Bu. Tolong diingat kata-kata saya ya."


Aku menatap punggungnya yang berjalan menjauh dengan perasaan campur aduk.


***

__ADS_1


"Terkadang, ada beberapa orang yang tega memanfaatkan rasa kemanusiaan orang lain untuk kepentingan pribadi." - Author


__ADS_2