
"Dzikir pagi dan petang seperti baju besi, semakin bertambah ketebalannya, maka pemiliknya semakin tidak terkenai (oleh bahaya). Bahkan kekuatan baju besi itu bisa sampai memantulkan kembali anak panah sehingga berbalik mengenai pemanahnya sendiri." - Ibnu Qayyim rahimahullah
***
"Mas, Neng beli ini nih, ada promo di Bajada."
Aku menyerahkan sebuah tasbih digital mungil pada Mas Yandri.
"Pas pengajian kemarin, Neng dikasih buku kumpulan doa dan Dzikir pagi petang. Kalau Mas lagi senggang di kantor, bisa dong dibaca-baca. Banyak manfaatnya Mas."
Mas Yandri menerima pemberian dariku dengan tersenyum.
"Nanti Neng kirimkan ya apa aja dzikirnya. Setiap hari beda-beda, Mas baca sebanyak-banyaknya."
Sejak pindah ke sini dan mengikuti beberapa kegiatan pengajian dan kajian bersama Bu RT, aku belajar banyak hal. Orang tuaku mengajarkan pemahaman tentang agama padaku, tapi sebatas kemampuan mereka. Itulah kenapa, saat ada peluang untuk menambah ilmu, dengan senang hati aku menerima. Bahkan Mas Yandri juga sering memintaku untuk mencari informasi jadwal pengajian dan kajian rutin yang bisa kami hadiri berdua. Intinya, kami sedang berproses dan berlomba untuk menambah ilmu agama.
***
Ibu mertua menelepon setelah sholat shubuh. Beliau berbicara cukup lama dengan Mas Yandri.
"Neng, Ibu mau bicara," ucap Mas Yandri memberikan ponselnya padaku.
Beberapa menit pertama, obrolan kami diisi dengan basa-basi tentang kabar, sampai akhirnya Ibu mmebuatku terdiam dengan pertanyaannya.
"Kamu belum periksa, Re?"
__ADS_1
Pertanyaan Ibu sontak membawa ingatanku pada hari dimana Bu Jejen mengataiku mandul. Entah kenapa di negeri ini, wanita secara tidak kasat mata selalu mendapat tekanan dari lingkungan sekitar.
Seorang wanita yang telat menikah dianggap pilih-pilih. Padahal, apa salahnya? Toh kami para wanita ingin mendapatkan pasangan hidup yang menurut kami terbaik.
Setelah menikah, tekanan didapat jika tidak langsung mengandung. Lagi-lagi wanita yang menjadi sasaran tekanan. Tidak subur-lah, mandul-lah, penyakitan-lah.
Masalah tidak selesai jika wanita kemudian mengandung. Saat melahirkan, wanita akan kembali menjadi objek. Pemahaman bahwa wanita menjadi ibu seutuhnya saat sudah melahirkan secara normal nyatanya menyakiti para wanita yang melahirkan melalui operasi. Selain itu, masalah gender sang bayi yang dilahirkan pun disorot seolah-olah itu tanggung jawab wanita.
Pada intinya, untuk setiap situasi, wanita-lah menjadi sasaran pertama yang mendapat tekanan dari orang-orang sekitar. Dan parahnya, kebanyakan tekanan diterima justru dari sesama wanita.
"Belum Bu...," jawabku lirih.
Terdengar helaan nafas ibu mertua di seberang sana. Satu kalimat terakhirnya membuat dadaku seolah ditimpa beban berat.
"Coba kamu ke dokter! Periksain baik-baik. Biar ketauan!"
***
Permintaan ibu mertua agar aku memeriksakan diri nyatanya berdampak besar. Entah kenapa aku jadi memikirkan hal tersebut secara intens karena memang tujuan manusia menikah salah satunya adalah untuk mendapatkan keturunan.
"Neng, kenapa sih kamu akhir-akhir ini kaya yang ngga semangat?" tanya Mas Yandri di suatu malam saat kami sudah selesai makan.
Aku ingin berkata jujur tentang apa yang aku rasa, tapi di satu sisi, aku juga takut jika responnya malah semakin membuatku tertekan. Aku masih diam saat Mas Yandri meletakkan gelas kopinya dan membalikkan badan menghadapku.
"Gara-gara omongan Ibu ya?"
__ADS_1
Aku tersenyum bangga. Sungguh, Mas Yandri sangat cuek dan cenderung egois pada awal pernikahan kami. Tapi semakin hari, aku menjadi saksi jika suamiku itu sudah banyak berubah. Rupanya dia juga belajar banyak dari pernikahan kami. Pribadinya yang cukup peka akan keadaanku membuatku bangga dan terharu pada waktu yang bersamaan. Baiklah! Aku harus memberanikan diri memgutarakan semuanya, aku tidak bisa menyimpan ini lebih lama.
"Mas, kalau Neng mandul gimana?"
Bukan jawaban yang kuterima melainkan sentilan di dahi.
"Neng, kalau ngomong dipikir dulu bisa ngga sih?"
Aku mengusap dahiku perlahan, rasanya lumayan juga disentil jarak dekat seperti itu.
"Kalau Neng ngomong seperti itu, sama aja Neng mempertanyakan takdir Allah SWT. Neng tau kan, segala sesuatu yang terjadi di dunia ini sudah diatur. Dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya." Mas Yandri menghela nafas.
"Neng meragukan kalimat itu yang nyata-nyatanya ada dalam Al-Quran? Surah Al An'aam ayat 59. Cari sendiri kalau ngga percaya."
"Dengerin Mas ya Neng. Jangankan hidup Neng, sehelai daun yang ngga berdaya aja ga akan jatuh tanpa seijin Allah. Jadi, jika Neng mempertanyakan apakah Neng mandul atau ngga, sama aja Neng ragu kalau apapun yang terjadi pada diri Neng itu karena ijin Allah."
Aku menundukkan wajah dan beristigfar dalam hati. Betul kata Mas Yandri, aku mempertanyakan kondisiku sendiri seolah-olah aku tidak percaya ketentuan Allah.
Mas Yandri mendekat dan memelukku.
"Kalau Neng kepikiran perkataan Ibu yang menyuruh Neng untuk periksa, Neng tenang dulu. Ibu menyuruh Mas juga membawa Neng periksa. Bukan untuk mengetahui Neng mandul atau tidak, tapi untuk mengetahui jika Neng dalam kondisi sehat atau sakit. Karena Ibu tau, Neng sering merasakan sakit berlebih setiap kali datang bulan.
Untuk Ibu, kesehatan Neng jauh lebih penting daripada perkara Neng sudah hamil atau belum. Nih baca sendiri chat dari Ibu. Ibu sudah menyuruh Mas dari bulan kemarin malah." Mas Yandri memberikan ponselnya padaku.
[Yan, bawa si Rere ke dokter! Ibu perhatikan waktu disini, dia sering kali kesakitan setiap datang bulan. Takutnya dia sakit! Pernah ibu menyuruhnya periksa, tapi istri kamu itu keras kepala! Ibu takut Rere kenapa-kenapa!]
__ADS_1
Air mataku dengan lancangnya mengalir deras menuruni pipi tanpa bisa kutahan.