
Selama Mas Yandri dirawat di rumah sakit, kami memiliki banyak waktu berdua. Jika ia sedang tidur, aku akan menyibukkan diri dengan membaca atau menonton drama kesukaanku. Jika ia bangun, kami akan mengobrol lama sampai tidak sadar telah tertawa terbahak-bahak.
***
"Jadi biang keroknya si Bagas?"
Mas Yandri mengangguk.
"Awalnya memang dia yang bikin isu kalau Siska suka sama Mas. Terus anak-anak lain pada ikutan."
Aku menganggukkan kepalaku tanpa sadar. "Kalau gitu Neng ngerti. Mungkin dia sengaja bikin isu kaya gitu dan berharap Mas bener-bener suka sama Siska. Kalau sampe iya, Mas pasti kan ngga akan fokus kerja. Nah, dia bisa lebih leluasa make uang kantor."
"Hus, kamu tuh Neng, su'udzonnya berlebihan," tegur Mas Yandri.
Aku tertawa.
"Ya kan itu mah asumsi Neng aja. Kali bener. Lagian, su'udzon mah mau banyak atau mau sedikit, sama aja. Ya mendingan banyak sekalian."
Setelah pembicaraanku tempo hari dengan Siska di kantin rumah sakit, gadis itu mengirimkan pesan permintaan maaf pada Mas Yandri karena telah berlaku lancang dengan menemuiku dan mengakui perasaannya.
Dia mengakui jika dia menaruh hati dan mengira Mas Yandri juga memiliki perasaan yang sama dengannya dari celetukan-celetukan karyawan lain di kantor. Sungguh, lidah bisa sangat berbahaya. Lidah bisa dengan mudah mengeluarkan kata kata untuk memanipulasi dan menghasut.
***
Trombosit Mas Yandri berangsur-angsur naik. Namun, karena belum dalam batas normal, dokter belum memperbolehkannya untuk pulang.
Hujan turun menderas akhir-akhir ini. Seperti sore ini, saat Mas Yandri sedang menikmati snack yang baru diantar.
"Neng, kalau misal nih ya. Misalnya mas meninggal duluan, Neng mau nikah lagi ngga?"
Aku yang sedang menonton drama favoritku, merasa terganggu dengan pertanyaannya yang random.
"Tergantung." Aku menolehkan kepala untuk menatapnya.
"Tergantung apa?" Sepertinya suamiku mulai penasaran.
"Tergantung siapa yang ngajak nikah. Kalau yang ngajak nikah Lee Minho atau Jang Ki Yong mah ya Neng mau aja."
"Emang mereka siapa?"
Aku membalikkan layar laptopku agar Mas Yandri bisa melihat.
__ADS_1
"Oh artis korea," ia menjawab pertanyaannya sendiri.
"Tapi kan itu mustahil Neng," lanjutnya.
Aku menghembuskan nafas panjang.
"Ya itu jawabannya."
Sumpah, drama yang sedang kutonton sedang dalam bagian yang seru. Konsentrasiku terpecah.
"Maksudnya gimana?" Mas Yandri bertanya lagi.
Cukup sudah. Aku menutup layar laptopku dan beranjak mendekati Mas Yandri. Dengan pelan aku naik ke atas ranjang dan duduk.
"Mustahil Mas. Neng mustahil menikah dengan salah satu dari kedua artis itu. Itu artinya Neng juga mustahil untuk menikah lagi kalau Mas udah ngga ada. Ini menurut Neng ya, karena Mas kan nanyanya ke Neng pribadi. Kalau nyangkutin takdir mah, ya Neng juga ngga tau."
Mas Yandri mengangguk mengerti. "Mas juga sama kok Neng, kalau Neng meninggal duluan, Mas ngga akan nikah lagi."
Aku turun meraih apel dan perlahan mengupasnya. "No. Kalau Neng meninggal duluan, Mas harus nikah lagi," ucapku.
"Kok gitu Neng?"
"Biar Mas ada yang ngurus. Neng ngga tega kalo nanti mas ngga ada yang ngurus." Aku menjawab seraya memakan apel
Aku menghentikan kunyahanku.
"Mas berharap Dre akan mengurus Mas disaat Neng ngga ada? Big No! Dre bakal punya kehidupannya sendiri.
Mas harus nikah lagi karena biar ada yang ngurus dengan catatan, Dre titip ke ibu atau mama dan Mas tetep berkewajiban untuk nafkahnya. Jangan membebani Dre untuk mengurus Mas."
"Jadi Mas nikah lagi nih?" Mas Yandri kembali bertanya dengan nada menggoda.
"Iya Mas, silakan aja. Tapi setelah Neng ngga ada ya. Harus ada seseorang yang ngurus Mas. Mas laki-laki, terbiasa diurus dari kecil. Diurus ibu, diurus Neng. Kalau Neng kan perempuan, bisa ngurus diri sendiri.
Dan kelak jika Neng sudah tua dan Mas udah ngga ada, Neng maunya ke panti jompo aja biar ngga ngebebanin Dre. Tapi nanti kita liat lagi, karena Neng juga jadi penasaran dengan sikap Dre jika Neng benar-benar sudah di titik itu. Apakah ia akan melepas Neng untuk tinggal di panti jompo atau ngga. Sikap Dre kelak akan menunjukkan apakah didikan kita padanya berhasil atau justru gagal."
Mas Yandri terdiam mendengarkan jawabanku yang panjang.
"Tapi kan Neng, katanya kalau laki-laki menikah lebih dari satu kali, di surga nanti ketemusama semua istri-istrinya."
Aku mengangguk membenarkan. "Iya emang begitu."
__ADS_1
"Terus kalo misal Neng meninggal Mas nikah lagi, ngga apa-apa nanti kalo kelak Neng ketemu sama istri Mas yang lain? Yakin ngga akan ngamuk?" tanya Mas Yandri.
Aku berbalik menatap Mas Yandri. Kini giliran aku yang terdiam karena mencerna pertanyaannya.
***
Lita datang untuk menjaga Mas Yandri bergantian denganku. Aku perlu mengambil baju ganti dan juga melihat Dre.
"Gimana Yandri, Re?" Ibu mertua bertanya setelah aku selesai mandi dan sedang menikmati kopi di sofa ruang tamu. Dre baru saja kutidurkan di kamar. Bocah itu meloncat-loncat saat melihatku di ambang pintu.
"Alhamdulillah udah baik bu. Kalau kata dokter yang tadi visit sih lusa udah bisa pulang."
"Alhamdulillah," ibu berseru senang.
Ibu beranjak masuk ke kamar, dan tidak lama ia kembali menghampiriku dan memberikan sebuah amplop coklat.
"Buat apa ini bu?" Aku bertanya heran.
"Itu isinya sisa uang pemberian kalian selama ini untuk ibu. Kamu pake ya Re, untuk nambahin biaya rumah sakit Yandri."
Kondisi tubuhku yang lelah nyatanya membuat perasaanku menjadi sensitif. Dalam diam aku menangis.
"Loh kamu masih aja cengeng! Pake nangis segala!"
Gantian aku yang menghampiri ibu dan memeluknya.
"Makasi banyak bu, atas perhatian ibu. Neng terharu, ibu yang galak ternyata perhatian banget."
Ibu yang tadinya juga memelukku langsung melepas pelukannya dan menjitak kepalaku pelan.
"Kamu ini Re, ada-ada aja."
Aku tertawa dengan wajah yang masih dipenuhi air mata. Dengan segera aku mengembalikan amplop tersebut ke tangan ibu.
"Ini ibu simpen aja. Pake aja untuk kebutuhan ibu dan Lita. Untuk biaya rumah sakit ngga usah dipikirin. Semua ditanggung dari bpjs, sisanya yang berbayar ditanggung asuransi. Kami ngga mengeluarkan uang sepeserpun, Bu."
Ibu mertua menatapku tidak percaya, "Bener?"
"Bener bu. Terima kasih banyak untuk perhatiannya. Pergunakan aja uang itu untuk Ibu," aku tersenyum menatap ibu.
***
__ADS_1
"Jika kita konsisten melakukan kebaikan kepada siapapun, kebaikan juga akan konsisten menghampiri kita dari sisi manapun." - Author