Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku

Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku
Episode 50


__ADS_3

Aku segera mengambilkan air putih dingin untuk Mas Yandri. Dia baru saja kembali dari menyebarkan brosur.


"Makan dulu ya Mas, Neng siapin." Aku hendak beranjak ke dapur saat Mas Yandri menolak.


"Nanti aja Neng, Mas mau duduk dulu bentar. Di luar panas banget."


Aku ikut duduk di sebelahnya.


"Neng kira tadi Mas nyebarin brosurnya pake motor, taunya jalan kaki. Oh iya, sisa berapa brosurnya mas?"


"Habis Neng," sahut Mas Yandri pendek.


"Abis? Emang Mas nyebarin sampe ke mana? Kalo sekitaran komplek paling kan seratusan aja. Mas bawa 300 brosur loh," aku keheranan.


"Mas nyebarin sampe ke jalan raya Neng, ke toko-toko, Alfamart, Indomaret, sama kantor-kantor."


Aku menatapnya tidak percaya.


"Mas, ke jalan depan itu 3 kilometer loh. Dan Mas jalan kaki?"


Mas Yandri terkekeh, "Lah iya Neng. Tadinya Mas cuma mau sekitar sini aja, tapi Mas pikir-pikir, sekalian ajalah sampai ke depan."


Luar biasa. Keputusanku untuk menikah dengan Mas Yandri tidak salah. Dulu teman-temanku meledek karena aku menikah dengan pria biasa saja. Sedangkan mereka, rata-rata mencari pria dengan materi berlebih. Saat itu aku berkata, tidak masalah hidup dengan pria yang tidak memiliki materi lebih, biasa-biasa pun tak apa asalkan bisa diandalkan setiap saat. Terbukti, disaat kami sedang jatuh, Mas Yandri sangat bisa diandalkan. Aku tidak perlu khawatir.


Aku bermaksud memberi Dre makan dan sedang mengangkat tubuhku dari sofa saat mataku menatap jari kaki Mas Yandri.


Seketika aku terduduk kembali dan menangis, aku menangis tersedu-sedu hingga membuat Mas Yandri yang duduk disebelahku tersentak.


"Kamu kenapa Neng? Sakit?" tanyanya khawatir.


Aku menggeleng pelan dan menunjuk ke arah kakinya.


"Jari Mas berdarah, Mas pasti udah jalan jauh banget sampe bisa kaya gitu...."


Mas Yandri tersenyum, " Ish kamu mah, Mas kira ada apa. Mas baru nyadar kalo jari kaki Mas berdarah. Kegesek-gesek sendal jepit kayanya Neng."


Aku hanya bisa diam. Tidak ada kata yang bisa mengungkapkan betapa aku terharu, sedih, kasihan pada suamiku. Menyadari hal ini tekadku semakin kuat. Sama seperti Mas Yandri yang berusaha keras untuk kehidupan keluarga kami, maka aku juga akan berusaha keras, mendukung dan mendampinginya sampai akhir.


***


Pesanan perdana ayam bakar bumbu banten datang dari tetangga-tetangga sekitarku. Banyak dari mereka yang tidak mau menerima uang kembalian. Saat aku bersikukuh menolak, mereka mengembalikan kata-kataku dulu. Rejeki pantang ditolak, pamali, nanti ngga mau datang lagi. Lagi-lagi aku terharu. Entahlah, keadaan membuatku sangat sensitif dan mudah menangis akhir-akhir ini.


***

__ADS_1


[Harga satu porsinya tanpa nasi berapa?]


Sebuah pesan dari nomor baru masuk ke ponselku. Nomorku memang digunakan untuk pemesanan.


[13 ribu kak]


[Bisa diantar ke jalan Setiabudi?]


Aku terdiam sejenak. Alamat itu cukup jauh dari rumahku.


[Bisa kak, paling nambah ongkos kirim 5 ribu, ngga apa-apa?]


Aku berdoa semoga calon pembeliku tidak keberatan. 5 ribu sangat berarti untukku disaat harga bahan bakar naik.


[Saya kakak iparnya Sutinah]


Ternyata kakak ipar Mbak Tinah.


[Iya kak. Mau pesan berapa banyak?]


[Saya mau pesan 5. Tapi harga kurangi ya. Harga teman, 10 ribu aja. Terus ngga usah pake ongkos kirim ya? Baru juga jualan udah perhitungan banget. Sama pelanggan baru nih!]


Nafasku seketika sesak membaca balasannya. Jadi seperti ini rasanya, perjuangan para pejuang rupiah. Menurut orang-orang mungkin kami berlebihan karena perhitungan pada uang yang mereka pikir tidak seberapa. Tapi untuk kami, seribu rupiah pun sangat berharga. Jika sudah tidak memiliki uang sama sekali, jangankan 5 ribu, seribu pun kalau tidak ada ya tidak ada.


"Ya udah ngga apa-apa Neng, barangkali dia memang uangnya cuma segitu. Ga apa kali ini kasih aja harga segitu tanpa ongkos kirim. Hitung-hitung promosi," Mas Yandri berpendapat.


Aku mengambil ponselku dan mengetik balasan untuk kakak ipar Mbak Tinah.


[Oke kak, 15 menit lagi otw ya.]


***


Mas Yandri mengatur bungkusan pesanan di motor.


"Mas berangkat dulu ya Neng," pamitnya padaku.


Aku mengangguk mengiyakan seraya menatap langit yang sudah mendung. "Mas, bawa jas hujan ya. Mau ujan kayanya."


"Tenang Neng, ada kok di jok motor. Mas berangkat dulu, Assalamualaikum."


"Walaikumsalam." Aku menatap kepergian Mas Yandri dengan trenyuh.


***

__ADS_1


Sudah hampir jam 9 malam tapi Mas Yandri belum juga kembali. Keadaan di luar sudah sepi karena hujan deras yang turun tidak lama setelah dia berangkat mengantar pesanan. Aku yang baru saja menidurkan Dre memilih duduk di sofa yang menghadap ke luar.


Tepat jam 10 Mas Yandri tiba. Aku bergegas mengambil handuk dan membuka pintu. Hujan yang deras membuat kaos yang dipakai Mas Yandri basah walaupun dia menggunakan jas hujan.


Saat masuk, aku tertegun melihat mukanya yang sedih dan juga bungkusan ditangannya.


***


"Neng, yang pesen marah karena katanya Mas kelamaan nganter. Jadinya dia batalin dan pesen makanan lain. Mas padahal udah ngikutin peta. Cuma karena jauh, nyampenya lama." Mas Yandri membuka suara setelah berganti baju.


Aku menatapnya tidak percaya. Sakit. Ya, hatiku teramat sakit mendapat perlakuan tidak adil seperti ini.


"Pas pulang, Mas nyasar karena di daerah sana banyak jalan yang ditutup setelah jam 6 sore. Maaf ya ngga bisa ngabarin."


Aku mengangguk, walaupun sedih. "Ngga apa-apa Mas, yang penting Mas udah sampai rumah. Neng siapin makan ya?"


Mas Yandri menggeleng, "Angetin aja ayam yang tadi mau dianter Neng, mubazir ngga kemakan. Mas makan itu aja."


Lagi-lagi aku menangis.


"Kenapa Neng?" Mas Yandri bertanya.


"Neng sakit hati Mas, diginiin," aku terisak.


"Padahal mungkin menurut orang-orang, Neng berlebihan. Nangis karena uang yang ngga seberapa. Tapi buat Neng itu berharga."


Mas Yandri mengacak rambutku dan aku menepis tangannya pelan.


"Ngga usah sedih. Belum rejeki kita. Terbukti kan, mau dikejar sampai mana juga kalau belum rejeki kita ya kita ngga dapet. Tenang Neng, rejeki ngga akan ketuker."


Aku mengangguk mengiyakan dan menghapus air mataku.


Ting!


Sebuah pesan masuk dari Bu Rt.


[Bu Rere, ayam masih ada? Ada keluarga saya dateng mendadak, mereka pengen nyobain ayam bakar bumbu banten katanya. Kalau masih ada saya pesen 10 ya.]


Aku tertegun membacanya. Seketika Allah mengangkat kesedihanku dan menggantinya dengan rasa syukur.


***


Rejeki wajib diminta dalam doa dan diambil dengan usaha. Tapi, sekuat apapun kamu berusaha, rejeki itu tidak akan jadi milikmu jika memang ditakdirkan bukan untukmu. Bersabarlah. Rejekimu akan datang sendiri secara gaib, dengan cara serta jalan yang sudah ditentukan. Dan sabarmu akan digantikan dengan hasil yang sepadan.

__ADS_1


__ADS_2