
"Neng, liat nih, mantan Mas ngirim pertemanan di sosmed."
Aku yang sedang duduk di sebelah Mas Yandri dan menonton drama favoritku pun mengangkat wajah.
"Mantan yang mana Mas? Mantan Mas 'kan banyak, Neng ga hapal satu-satu."
Mas Yandri menyodorkan ponselnya padaku.
"Ini si Mega," ucapnya
Aku melihat foto sosok seorang wanita dengan latar belakang pemandangan alam di profilnya.
"Oh itu," ucapku pendek.
"Diterima atau ngga usah ya, Neng?"
Aku menoleh menatap Mas Yandri.
"Mas, kira-kira dong kalo nanya!" Aku menghembuskan nafas dan meliriknya tajam.
"Kalau Mas berniat mancing reaksi Neng dengan bertanya seperti itu, Sorry to Say ya mas, Neng biasa aja. Mas pikir Neng akan terharu? Wah, aku terharu karena suamiku terbuka banget, sampe mantannya ngirim pertemanan juga aku dikasih tau. Gitu kan?"
Mas Yandri nyengir.
"Lain lagi kalau niat Mas ngasi tau ke Neng biar Neng sekedar tau dan ga mikir macem-macem. Kalau gitu ya Neng balikin ke Mas. Terserah Mas aja. Mau diterima boleh, ngga juga boleh. Mas pasti tau apa yang harus dilakuin."
Mas Yandri tersenyum menggodaku.
"Kamu ngga cemburu Neng? Biasanya nih ya, cewe kan kadang suka insecure kalo tau mantan pacar suaminya."
__ADS_1
"Ya kalau cemburu sih setiap istri pasti cemburu. Tapi Neng ngga insecure tuh. Kan Mas milih Neng jadi istri dibanding dia. Apa yang harus dikhawatirin? Ya mau berteman mah silakan aja, Mas juga kan udah ngerti batasan."
Rambutku menjadi sasaran tangan Mas Yandri.
"Mas niat iseng godain kamu doang kok Neng. Kirain Neng bakal marah atau uring-uringan. Mas juga ga ada niat buat nerima pertemanan si Mega. Ya buat apa juga kan? Mas juga milih-milih dong, walaupun alasannya menjaga silaturahim, tapi kalau sekiranya nihil manfaat dan lebih besar mudharat ya buat apa."
Perkataannya barusan membuat senyuman lebar terbit di bibirku.
"Ya sukur deh kalo Mas ngerti." Aku kembali menatap layar laptop di pangkuanku.
***
Ibu mertua menelponku saat Mas Yandri baru saja pulang kerja. Dari nadanya, beliau terdengar khawatir.
"Re, Yandri udah pulang? Ibu dari tadi nelepon kok ngga nyambung aja?"
Ibu terdiam sejenak seolah sedang memikirkan sesuatu. "Ya udah nanti kalau dia udah santai-santai, suruh telepon Ibu ya. Ibu tunggu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
***
"Mas, tadi Ibu nelpon Mas, tapi ngga nyambung. terus Ibu nelepon Neng, Neng disuruh ngasi tau Mas buat nelpon Ibu balik."
Mas Yandri yang baru saja menyalakan televisi menatapku,
"Ponsel Mas tadi jatuh Neng, ngga bisa nyala. Pinjem ponsel kamu ya? Sekalian nanti tolong liatin ponsel Mas tuh di meja kamar. Kali bisa kamu apain gitu biar nyala lagi."
Aku memberikan ponselku pada Mas Yandri dan menuju kamar. Bukan tanpa sebab Mas Yandri menyuruhku melihat ponselnya. Aku beberapa kali pernah memperbaiki ponselku sendiri yang dulu bermasalah.
__ADS_1
"Iya bu, nanti Yandri bilang ke Neng. Waalaikumsalam...."
Aku keluar kamar saat Mas Yandri baru saja mematikan sambungan telepon. Ia menyuruhku duduk di sebelahnya.
"Ibu kenapa Mas?" ucapku sambil memberikan ponselnya yang kubawa dari kamar.
Mas Yandri tidak langsung menjawab. Dia hanya menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kujelaskan.
"Ibu berantem sama Ana. Ana minta nikah."
"Hah? kenapa emang? Kok mendadak? Terus ibu gimana?" Sumpah, aku tidak bisa menyembunyikan kekagetanku.
Mas Yandri membuang nafas kasar.
"Ya itu masalahnya. Si Ana lagi kabur ke tempat Hendrik, papanya Dinda. Dia berantem sama Ibu karena tau-tau bilang mau nikah aja karena udah bosen kuliah. Padahal nanggung banget, taun depan dia udah bisa wisuda kalau rajin.
Ibu nyuruh dia seenggaknya beresin kuliah dulu, nyobain kerja dulu walaupun nanti pas nikah jadi ibu rumah tangga total. Tapi Ana ngga mau. Mas juga nanya ke Ibu barangkali Ana ngelakuin hal-hal yang belum sepantasnya. Tapi kata ibu, Ana sendiri bersumpah kalau dia ngga kenapa-kenapa, cuma mau nikah aja. Kamu ngerti omongan Mas, Neng? Mas bingung sampai-sampai ngomong aja kaya belepotan gini."
Aku tertawa kencang tanpa bisa kucegah.
"Maaf Mas, bukannya Neng ga ikut prihatin. Tapi muka Mas itu lucu banget pas cerita. Hahaha."
Mas Yandri langsung cemberut.
"Menurut kamu gimana, Neng?"
Aku mengambil gelas berisi susu dan meneguknya sekali.
"Kalau menurut Neng mah, ...."
__ADS_1