
Diluar dugaan, ternyata Siska memiliki nyali yang besar. Dia berdiri tepat dihadapanku.
***
Mas Yandri baru saja selesai sarapan saat ponselnya berdenting. Tanpa berkata apa-apa, dia memberikan ponselnya padaku.
[Pak, saya ada di depan pintu ruang perawatan Orchid. Pintu untuk menuju ruangan bapak ngga bisa dibuka karena bukan jam besuk.]
"Ya udah, Neng keluar dulu, Mas," pamitku.
Mas Yandri mengangguk. Tepat saat aku akan membuka pintu, dia berkata,
"Tolong bantuin Mas beresin hal ini, Neng."
Aku menatapnya sebentar dan melangkah keluar.
***
Siska terlihat terkejut ketika melihatku.
"Karena bukan jam besuk, maka pintu utama ga dibuka. Kalau mau masuk harus pakai kartu," aku menjelaskan tanpa diminta.
"Temenin saya ngopi yuk."
Dengan kikuk Siska menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkahku menuju kantin.
***
Aku berbasa-basi menawarinya makan namun ia hanya memesan segelas lemon tea. Aku sendiri memesan cappuccino.
Untuk menghilangkan kecanggungan, aku berbicara hal yang ringan sambil menunggu pesanan kami diantar. Selain itu, aku tidak mau disaat kami sedang mengobrol serius, harus diinterupsi dengan proses pengantaran pesanan.
"Sejak kapan?" ucapku segera setelah orang yang mengantar pesanan kami pergi.
__ADS_1
Siska menatapku dengan pandangan tanda tanya.
"Sejak kapan Mbak ada perasaan khusus untuk suami saya?"
Aku tidak melihat keterkejutan di wajahnya. Bisa kupastikan, dia cukup bernyali untuk terang-terangan mengaku padaku.
"Sejak dari pertama kali Pak Yandri kerja di sini Bu," jawabnya.
"Oke. Satu lagi, apa maksud Mbak hari ini datang kemari?" Aku menyesap minumanku untuk meredakan emosi yang mulai naik.
"Saya...,"
"Ada urusan kantor kah?" kejarku.
Gadis dihadapanku menggeleng.
"Jadi?"
Siska masih terdiam. Diamnya dia kuanggap sebagai bentuk mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu.
Aku tersenyum dan berusaha duduk sesantai mungkin. Aku membayangkan, langsung menghantamnya dengan kursi yang sedang kududuki. Tapi tidak, aku hanya tersenyum dan diam.
"Oh oke." Sungguh, sulit rasanya mengeluarkan kalimat panjang lebar pada seorang gadis yang dengan jelas mengaku jika ia menyukai suamiku.
"Maksudnya apa Bu? Ibu ngga marah? Ibu terima kalau saya suka sama Pak Yandri?" Aku bisa menangkap nada penasaran dalam suaranya.
"Saya ngga marah."
Melihatnya yang kembali terdiam membuatku memutuskan untuk segera mengakhirinya cukup sampai disini.
"Saya ngga pernah menyalahkan kamu atau wanita manapun jika memiliki perasaan pada suami saya. Dengan catatan, hanya sekedar perasaan. Saya mengerti, perasaan bukanlah sesuatu yang bisa dikendalikan."
Aku kembali menyesap minumanku. "Tapi, jika perasaan itu bertranformasi menjadi perbuatan, saya ngga akan tinggal diam. Kamu ngerti apa yang saya omongin?"
__ADS_1
Gadis di depanku menggeleng. Entahlah, aku kesal sekaligus ingin tertawa pada waktu yang bersamaan karena melihatnya kebingungan dengan kata-kataku. Padahal aku sudah menggunakan bahasa yang sederhana.
"Kalau kamu hanya sekedar suka pada suami saya tanpa melakukan hal-hal yang membuat suami saya juga menyukaimu, saya hanya akan diam dan menganggap pembicaraan ini tidak ada.
Tapi jika kamu memiliki niat lain, dalam artian kamu menyukai suami saya dan ingin memilikinya dengan berbagai cara, saya akan turun tangan langsung."
Wajah Siska menunjukkan jika sekarang ia paham dengan perkataanku. "Pak Yandri perhatian pada saya," ucapnya
"Perhatian yang seperti apa? Jika perhatian yang dia berikan sama seperti perhatian yang dia berikan pada karyawan lain, maaf jika saya harus bilang ini, kamu tidak istimewa.
Saya tau suami saya ramah dan berusaha baik kepada setiap orang. Tanpa maksud apa-apa.
Memiliki perasaan khusus pada suami orang tidak salah, tapi akan menjadi sangat salah jika kamu berusaha merebut apa yang bukan menjadi milikmu. Oh iya, ini bukan peringatan, hanya saran sebagai sesama wanita."
"Tapi saya sulit melupakan bagaimana baiknya Pak Yandri pada saya." Gadis itu mulai duduk dengan gelisah.
Aku terbatuk sebelum berbicara.
"Boleh saya beri paham kamu satu hal? Jika kamu menyukai suami saya karena kebaikannya, percayalah, kebaikan suami saya sama untuk semua orang. Karena memang sudah seharusnya kita berbuat baik pada orang lain bukan?
Kamu masih terlalu muda dan salah dalam mengartikan perhatian dari suami saya. Sekarang saya ingin bertanya, maksud kamu mengaku jika kamu menyukai suami saya apa?
Kamu terlalu naif jika mengira dengan mengaku, saya akan rela berbagi suami saya dengan kamu. Tidak semudah itu. Sosok suami saya yang sekarang kurang lebih terbentuk karena saya juga. Saya ngga bisa menjamin dia akan menjadi sosok yang sama saat bersama kamu. Karena kamu bukanlah saya.
Jadi pikirkan sekali lagi jika kamu ingin melakukan hal yang nekat dan jelas-jelas salah. Merebut milik orang lain adalah tindakan yang salah. Kamu ngga akan mendapatkan apa-apa.
Kamu masih muda, masih banyak waktu untuk mengupgrade dan memperbaiki diri. Disaat kamu sudah dalam sosok yang lebih baik, Allah akan mengirimkan seseorang yang layak untuk kamu. Yang akan memperlakukanmu lebih dari apa yang kamu inginkan."
Siska tertunduk dan menangis.
"Saya tau akan berat menghilangkan perasaan yang kamu rasakan. Sedikitnya kamu akan merasakan sakit. Tapi percaya sama saya, merasakan kesakitan dalam proses menghilangkan perasaan kamu terhadap suami saya akan menjadikan kamu sosok yang lebih kuat dan pintar, karena kamu masih dalam koridor yang benar.
Sedangkan jika kamu nekat, kamu tidak akan mendapatkan apa pun, terutama kebahagiaan. Karena tidak akan ada kebahagiaan untuk orang yang bisa dengan tega menghancurkan kebahagiaan orang lain. Pilihan ada di tangan kamu, Siska." Aku menutup pembicaraan.
__ADS_1
***
"Tidak perlu berteriak, memaki atau bahkan menghajar. Cukup bicara dengan tenang. Kuasai emosi, angkat dagumu dan biarkan otak tetap jernih. Tutur kata dan perilakumu akan menunjukkan dengan sendirinya, di level mana kamu berada." - Author