
Sepulangnya dari mengantar ibu, Mas Yandri langsung menghampiriku dan meminta maaf. Pada dasarnya aku bukan orang yang suka memperpanjang amarah. Jika sudah ada permintaan maaf, itu sudah lebih dari cukup untuk melupakan apa yang sudah terjadi.
***
"Neng, mau bikin pengajian lagi ngga? Tanda syukur kalau Allah masih ngasih kita nikmat sehat?"
Mas Yandri bertanya padaku saat kami makan malam bersama dengan ibu dan Lita.
"Ya hayu aja Neng mah, mau kapan?" jawabku.
"Kamu yang atur aja, Neng."
"Kalo weekend aja gimana Mas? Biar Mas ada di rumah gitu. Nanti udahnya kita makan bareng sama tetangga deket dan temen-temen."
"Temen-temen?" Mas Yandri menatapku
"Iya, temen-temen mas di kantor. Kan kemaren mereka banyak tuh yang nengok pas di rumah sakit."
"Kamu ga apa-apa memang? Kan ada Siska, Neng." ucapnya lagi
Aku meletakkan sendok dan fokus ke arah wajah Mas Yandri.
"Ya terus emang kenapa? Kan Neng ngga ada masalah sama dia. Dia juga ngejaga sikapnya kok."
"Ya udah gimana kamu aja Neng, Mas ikut aja." Mas Yandri menyetujui saranku.
Aku tersenyum simpul dalam hati. Untuk beberapa hal, aku gampang untuk memaafkan. Tapi, untuk beberapa hal sisanya, aku tidak gampang menghilangkan rasa kesal. Aku bisa pastikan rasa kesal itu hilang jika aku sudah memberi sedikit paham untuk orang yang kumaksud.
***
Pengajian berjalan lancar. Geng Bu Jejen dan ibu-ibu yang lain membantu tanpa harus kuminta. Mereka bersama-sama dengan Ibu dan Lita membantuku mempersiapkan semua hidangan untuk pengajian yang telah usai dan juga untuk makan siang kami bersama.
__ADS_1
Saat semua sedang sibuk di dalam rumah. Mas Yandri dengan beberapa karyawannya yang sudah kutandai duduk di carport kami beralaskan karpet menunggu siapnya makan siang. Sedangkan Siska, gadis itu telah pamit pulang begitu acara pengajian selesai.
Mas Yandri masuk ke dalam untuk mengambil beberapa gelas air mineral dan juga mengisi cemilan yang telah habis. Aku mendekat ke tempat karyawan Mas Yandri duduk dan pura-pura menyibukkan diri memungut sisa gelas air mineral yang kosong.
"Itu adik Pak Yandri ya? Cakep loh."
"Iya cakep, masih ranum."
"Si Siska kenapa ngga ngedeketin Pak Yandri lagi sih?"
Dan masih banyak lagi omongan-omongan melantur yang kudengar.
"Pak Yandri harusnya nyari cewe lain ya, istrinya kan sibuk sama anaknya terus. Jaman sekarang gampang cari cewe BO."
"Eh tapi, istrinya Pak Yandri lumayan loh. Kalo dideketin mungkin mau, secara kan Pak Yandri ga ganteng-ganteng amat."
Dengan tiba-tiba aku melempar kantong plastik yang penuh sampah dan berjalan ke arah mereka.
"Kamu!" Jariku mengarah pada karyawan yang tadi membicarakan diriku.
"Kamu tau harga cabe sekarang berapa?!"
Karyawan yang kutunjuk menggeleng pelan.
"Kalo harga bawang, tau ga kamu?!"
Aku menunjuk karyawan yang lain. Yang kutunjuk pun seketika menggeleng.
"Muka pas-pasan, pengetahuan tentang harga yang lagi viral ga tau, eh sok-sokan mau deketin saya. Mikir! Jadi gini kelakuan kalian di belakang keluarga kalian?!"
Semua menunduk tanpa ada yang berani menatapku.
__ADS_1
"Pulang semua! Males saya ngeliatnya!"
Mereka semua serempak berdiri.
"Oh iya, satu lagi! Jaga kelakuan kalian. Tolong pahami batasan! Seakrab apapun kalian dengan suami saya, dia tetap pimpinan kalian! Dia bukan teman kalian sehingga kalian bisa dengan mudah membicarakan dia, bahkan saya di rumah kami sendiri! Ga usah sok akrab!" aku meradang.
"Sana pulang! Untung kalian laki-laki, kalau perempuan udah saya jambak satu-satu!"
Saat Mas Yandri keluar, mereka semua kompak berpamitan dengan alasan masing-masing.
***
"Kamu tadi marahin anak-anak ya Neng?" Kami sudah berada di atas tempat tidur. Dre baru saja tertidur tepat di sebelahku.
"Iya, biar mereka tau diri lah sedikit," ujarku santai. "Kenapa, Mas keberatan?"
Mas Yandri menggeleng dan tersenyum,
"Sama sekali ngga. Mereka emang udah seharusnya ditegur. Mas sebenarnya tadi juga udah negur mereka. Mas bilang kalau Mas ngga suka kalau mereka seolah ngga ada batasan sama Mas. Sampai-sampai ngajak Mas buat pijet."
"Pijet?" tanyaku penasaran.
"Iya Neng, pijet tambah tambah." Mas Yandri tertawa.
Aku menghela nafas panjang. "Oh, pijet plus-plus?"
"Iya," jawab Mas Yandri
Aku menatap mata suamiku lekat.
"Kalau Neng tau dari awal mereka ngajak yang ngga-ngga, Neng tonjok tadi sekalian! Mas sih, telat ah ceritanya!"
__ADS_1
Mas Yandri hanya tertawa mendengar ocehanku.