
Tidak jauh dari komplek perumahan ini terdapat taman yang berfungsi sebagai tempat rekreasi. Taman tersebut cukup besar dan berbentuk bulat dengan banyak kursi. Jika malam minggu, banyak pedagang yang berjualan disana. Mulai dari sate madura, sate padang, soto, bakso, nasi goreng dan banyak lagi. Dan, di hari minggu paginya, taman tersebut berubah menjadi pasar tumpah.
kami bersiap-siap untuk ke taman tersebut. Rencananya, kami akan makan malam di sana.
***
Di malam hari udara di kota ini masih cukup panas. Langit terlihat sangat cerah dengan banyak bintang. Kami mencari tempat lesehan untuk duduk. Sambil melihat-lihat para penjual makanan, aku mengamati keadaan sekitar. Banyak muda mudi yang menghabiskan malam minggu disini. Wajar saja. Selain banyak pilihan makanan yang dijual, disini juga tidak terlalu ramai dan berisik. Kebersihan tamannya pun dijaga dengan baik. Kami menghabiskan dua jam ke depan dengan bercanda dan menikmati makan malam sekeluarga.
***
Saat sampai di rumah, kami semua terkejut bukan main. Halaman kecil di samping carport sudah dipenuhi banyak dus dan juga aneka mainan. Bisa dipastikan jika ini adalah milik tetangga sebelah.
Ibu menghampiri tetangga sebelah dan aku masuk membawa Dre ke kamar. Setelah membersihkan diri dan mengganti bajunya, aku menidurkan Dre. Butuh setengah jam sampai Dre akhirnya pulas.
Saat keluar kamar, aku tidak melihat keberadaan ibu, Lita dan Mas Yandri. Ternyata mereka bertiga sedang di halaman membereskan kekacauan yang diperbuat anak tetangga sebelah.
***
"Pinggang Lita sakit," ucapnya seraya berbaring di depan televisi.
Ibu dan Mas Yandri masuk ke kamar untuk berganti baju.
"Kok bisa-bisanya yang beresin malah Ibu, Mas Yandri sama kamu, Dek?"
Lita menoleh menatapku.
"Tadi pas Teteh masuk bawa Dre, kan Ibu ke sebelah, nanyain itu kerjaan siapa. Kata tetangga sebelah sih anaknya tadi main di halaman rumah. Nah, Ibu minta diberesin tuh. Eh malah nyolot Teh. Katanya, anaknya masih kecil, ga tau apa-apa. Dan lagian kan itu halaman rumah Ibu, ya seharusnya Ibu yang beresin."
Aku menghembuskan nafas panjang. Secepatnya aku akan meminta Mas Yandri untuk memasang pagar agar tetangga sebelah tidak seenaknya sendiri. Aku khawatir, ibu dan Lita menjadi tidak nyaman dengan kehadiran mereka.
__ADS_1
***
"Besok ke taman lagi yuk Neng, biasanya kalo hari minggu suka banyak yang jual hewan-hewan. Mas mau ngasi liat ke Dre," ajak Mas Yandri.
Aku mengangguk mengiyakan.
"Iya hayu aja Mas, sekalian ajak Ibu sama Lita lagi, kita sarapan disana. Sekalian Neng mau liat-liat sayur. Kata ibu, sayur di sana lumayan banyak pilihan. Kali aja bisa buat stok nanti di rumah."
Aku sudah akan tidur saat teringat sesuatu.
"Eh Mas, tetangga kita nyolot ya?"
Mas Yandri yang juga akan tidur menyahuti pertanyaanku. "Iya Neng, hampir aja tadi ribut sama Ibu. Tapi Ibu ngga mau ambil pusing, eh malah Mas sama Lita yang disuruh beresin."
"Pasang pager atuh Mas, Neng khawatir. Mereka seenaknya loh, kasian Ibu sama Lita nanti."
"iya, Mas juga kepikiran gitu. Besok deh Mas cari tau dulu biayanya berapa," Mas Yandri menguap.
***
Mas Yandri membelikan Dre sepasang kelinci berukuran cukup besar. Selain itu, Mas Yandri juga membeli pakan, vitamin, serta kandangnya.
"Niat amat sih Mas, mau ternak?" tanyaku saat melihatnya kepayahan membawa kandang.
Mas Yandri hanya nyengir mendengar pertanyaanku. Kami saling berpisah dan mencari barang kebutuhan masing-masing. Mas Yandri dengan Dre melihat hewan-hewan yang dijual. Ibu dan Lita yang memilih sarapan di dekat tempat parkir mobil, dan aku sendirian mencari beberapa sayur serta cemilan.
"Masih ada yang mau dibeli?" tanyanya.
Aku menggeleng, "Ngga ada, udah cukup. Mau pulang aja?"
__ADS_1
Mas Yandri mengangguk, "Iya ayo, udah panas nih. Kasian Dre kepanasan."
***
"Punya siapa ini?!" Suara teriakan terdengar dari sebelah. Aku tersenyum.
Pintu ruang tamu aku biarkan terbuka setelah Mas Yandri pergi bersama Ibu dan Dre untuk melihat-lihat contoh pagar. Aku memilih tidak ikut karena beralasan ingin beres-beres. Sedangkan Lita, sedang berada di kamarnya.
Dugaanku benar, aku mendengar langkah kaki mendekat.
"Permisi!"
Aku bangkit menuju pintu.
"Ya? Ada yang bisa dibantu?" Aku melipat tangan di dada.
Tetangga sebelahku itu menatapku dengan marah.
"Itu kelinci punya ibu? Masuk ke halaman saya tuh! Ke teras juga, mana buang air banyak banget! Jadi kotor 'kan rumah saya! Bersihin Bu! Tanggung jawab, itu kan peliharaan Ibu!"
"Loh, itu kan rumah Ibu. Ngapain saya yang harus bersihin?" aku menantang.
"Ya karena peliharaan Ibu yang bikin kotor rumah saya! Gimana sih, gitu aja ngga ngerti!" Wanita di depanku sepertinya sudah semakin emosi.
"Tadi malem aja waktu anak Ibu bikin berantakan halaman rumah kami, Ibu nyuruh kami beresin sendiri, alasannya karena itu halaman kami. Ibu juga bilang kami harus maklum karena yang bikin berantakan masih anak-anak.
Sekarang saya mau bilang hal yang sama. Beresin aja sama Ibu sendiri, kan itu rumah Ibu. Lagian ya Bu, Ibu maklum dong, yang bikin kotor 'kan kelinci, mana dia ngerti. Masa kami harus disuruh ngertiin kelakuan anak Ibu tapi Ibu ngga mau ngertiin kelakuan kelinci kami. Ngga adil dong!" aku berkata sinis.
Wanita di hadapanku terlihat semakin marah namun ia tidak berkata apa-apa. Dengan menyentakkan kakinya, ia berbalik dan jalan menjauh.
__ADS_1
"Jangan lupa masukin kelincinya ke kandang, nanti bikin kotor lagi. Saya ga mau masuk ke halaman rumah Ibu, takut dilaporin ke polisi karena masuk ke dalam properti milik orang lain tanpa ijin," aku tersenyum puas dan menutup pintu.