Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku

Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku
Episode 39


__ADS_3

Kami semua meninggalkan Bu Susi saat beliau sudah tenang. Bukannya pulang, Bu Jejen dan Bu Romlah malah ikut mampir ke rumahku.


"Re...," perkataan Bu Jejen terputus.


"Iya Bu udah tau, es sirop kan? Tenang." Aku masuk ke dapur untuk membuat minum para tamuku.


"Biar sama saya saja, Neng," Mbak Tinah menawarkan.


"Tadi adek Dre sudah saya suapi, ngga lama ngantuk terus minta nonton tivi, pas saya tengok lagi malah udah tidur."


"Iya Mbak, saya liat kok tadi," ucapku nyengir.


Aku kembali ke teras tempat dimana ibu-ibu sedang duduk. Ternyata Bu Indah, Bu Mumun serta Bu rt pun sudah ada di teras.


"Waduh, pada ngumpul nih," sapaku tersenyum.


"Bu Rere, terima kasih loh yang tadi. Saya sempet bingung waktu Bu Romlah ke rumah buat ngasi tau. Bapaknya kan masih kerja. Saya bingung nanti kalau suami Bu Susi ngamuk harus bagaimana. Pas sampai sana taunya orangnya udah pergi," kata Bu rt panjang lebar.


Mbak Tinah datang dan menyajikan minum, tidak lama kemudian ia kembali dengan membawa gelas tambahan.


"Eh Mbak Tinah, Mbak sekampung kan sama suaminya Bu Susi?" Bu Romlah bertanya.


"Sini Mbak, duduk," ajakku.


"Iya saya sekampung Bu, sama suaminya Susi." Mbak Tinah berbicara setelah duduk disebelahku.


"Dari dulu memang tabiatnya kurang baik. Tapi setelah nikah sama Susi jadi berubah. Rajin kerja, ramah, mau bergaul. Ngga tau kenapa sekarang begitu lagi."


Kami semua terdiam


"Apa baiknya kita lapor ke polis ya?" kata Bu rt

__ADS_1


Jujur saja, aku pun sempat memikirkan ide Bu rt.


"Iya harusnya kita laporin aja tadi," sahut Bu Mumun


"Iya laporin aja deh kayanya, kasian sebadan-badan isinya memar semua," Bu Jejen menambahi.


Aku masih diam saat Bu rt bertanya padaku. "Kalau menurut Bu Rere gimana?"


"Saya ngga tau, Bu. Saya takutnya kalau kita ambil tindakan, nanti suami Bu Susi malah makin marah. Nanti, Bu Susi lagi yang kena imbasnya," aku mengemukakan apa yang dari tadi kupikirkan.


Semua ibu-ibu menganggukkan kepala.


"Jadi gimana ya baiknya?" tanya Bu rt lagi. Kecemasan tergambar jelas disuaranya.


Hening beberapa saat sampai akhirnya aku membuka suara.


"Kalau saran saya, yang paling berhak menegur itu Pak rt. Karena mereka tinggal di wilayah rt ini. Jadi mending Pak rt yang bicara langsung. Kalau perlu bikin surat pernyataan, jika sekali lagi suami Bu Susi melakukan kekerasan, warga bisa melaporkan dia ke polisi."


Kami lalu menghabiskan setengah jam kemudian untuk mengobrolkan hal yang lain.


***


"Neng, tadi ada keributan?" tanya Mas Yandri


Aku menoleh menatapnya heran, "Kok Mas tau sih tadi ada ribut-ribut?" tanyaku balik.


Mas Yandri mengacak rambutku kuat-kuat.


"Kamu tuh kebiasaan, pertanyaan Mas dijawab dengan pertanyaan lagi."


Aku menepis tangannya pelan. Dari dulu aku paling tidak suka rambutku diacak-acak.

__ADS_1


"Jawab dulu pertanyaan Neng, biar Neng ceritanya enak," kataku


"Dari status Pak rt," Mas Yandri tertawa.


"Hah, kok bisa? Statusnya apaan?" Aku semakin penasaran.


Mas Yandri mengambil ponselnya dan membacakan status Pak rt


"Pulang kerja bukannya disuguhi kopi, malah disuguhi cerita pertengkaran suami istri. Saya kira sinetron ternyata kisah nyata."


Aku tertawa kencang sampai sakit perut. Mas Yandri pun ikut tertawa. Setelah beberapa saat, aku menceritakan detail peristiwa Bu Susi.


"Udah bener Neng, kalau gitu bukan ikut campur namanya. Ikut campur itu kalau Neng ngomporin Bu Susi untuk ninggalin suaminya," sahut Mas Yandri.


"Iya Mas, Neng juga mikir-mikir dulu tadi. Takutnya malah salah langkah. Oh iya Mas, Neng mau nanya."


Mas Yandri meletakkan ponsel dan berbalik sepenuhnya menghadapku. "Apa?"


"Kok bisa seorang suami mukul istrinya sendiri?"


Mas Yandri diam selama beberapa saat.


"Karena lelaki lebih sering menggunakan logika, jadi agak kurang bisa ngontrol perasaan Neng. Salah satunya ya emosi itu. Mas ngga tau penjelasan ilmiahnya gimana."


Aku mengangguk.


"Contoh gamblangnya gini. Kaya waktu kemaren Mas marah sama kamu. Logika Mas bilang kalau Mas harus nyari tau kebenarannya, kalau perlu pake mata kepala sendiri. Tapi hati Mas udah menduga yang ngga-ngga, nah antara perasaan dan logika mas ternyata yang menang perasaan. Itu makanya Mas kemaren marah sama kamu.


Untuk kasus pemukulan, ada kemungkinan si suami lepas kontrol karena udah dikuasai perasaan emosi. Lepas kontrol ini banyak penyebab nya. Bisa karena kelelahan saat bekerja, jenuh dengan hidup yang begitu-begitu aja, istri yang banyak nuntut, anak yang bermasalah, dll.


Tapi biasanya setelah lepas kontrol, dalam kasus ini mukul, si logika itu akan kembali mengambil alih. Jadinya si suami mikir. Kenapa aku bisa mukul istri sendiri? Kenapa aku bisa nyakitin perempuan yang aku sayang? dll. Dan itu bikin si suami nyesel banget. Kebanyakan berjanji gakan mengulangi, tapi biasanya kalau laki laki sekali lepas kontrol, akan menjadi kebiasaan."

__ADS_1


Aku mengangguk semakin mengerti. Penjelasan Mas Yandri cukup bisa kuterima.


__ADS_2