
Beberapa hari ini keadaan di rumah cukup pengap. Bukan, bukan karena suhu di kota ini yang memang panas. Aku juga tidak mengerti, apa penyebabnya. Seperti ada yang berbeda dari biasanya. Aku pikir hanya aku saja yang merasakan hal itu, nyatanya Mas Yandri juga.
"Neng, kok kayanya hawa di rumah ngga enak ya. Kaya pengap gitu, bikin sesak." Kami baru saja makan malam dan sedang menikmati kopi di teras.
"Ngga tau Mas, Neng juga heran. Selain pengap, sekarang sering banget di kamar mandi banyak binatang. Kadang cacing, kadang lintah, kadang kelabang."
Mas Yandri terdiam beberapa saat.
"Kalo Mas bilang sesuatu, Neng nanti takut ngga di rumah sendirian?"
"Insya Allah ngga Mas, ya kalo takut sih, Neng ngungsi ke warung Bu Indah," ucapku seraya nyengir.
"Mas beberapa kali sering banget nyium bau busuk, Neng. Busuk amis gitu. Kadang pernah juga wangi bunga."
Gantian aku yang diam dan memutuskan bercerita tentang pemberian makanan dari anak buahnya tempo hari.
"Mas, kemarin itu makanan dari Bagas, Neng buang semua."
"Loh kenapa Neng? Apa ada hubungannya sama waktu Neng nyuruh mas nyium makanan itu?"
__ADS_1
Aku mengangguk. "Iya, kan kata Mas makanannya ga kenapa-kenapa. Tapi gatau kenapa Neng nyiumnya busuk banget. Takutnya emang udah ngga layak makan, ya Neng buang. Walaupun sebenernya, Neng inget kata Mama. Kalau ada yang ngasi makanan dan kita ragu, bacain ayat kursi dulu biar dikasih perlindungan sama Allah. "
"Iya bener juga Neng, Ayat Kursi salah satu fungsinya memang untuk perlindungan. Terus maksud Neng gimana? Neng curiga Bagas punya niat aneh? Ga boleh su'udzon loh Neng, dosa."
"Ngga su'udzon Mas, Neng mah mikirnya emang masakannya udah basi, titik. Kalaupun memang ada niat jelek menghampiri kita, ibadah udah jadi tameng paling kuat. Walaupun jujur aja, perasaan Neng ngga enak, dan sejak saat itu keadaan rumah kaya yang aneh."
Mas Yandri menghela nafas panjang. "Yang penting ibadah kita ditingkatin lagi Neng. Insya Allah kita selalu dalam perlindungan. Allah sebaik-baiknya penjaga, sebaik-baiknya pelindung."
Aku mengangguk tanda setuju.
***
Subuh ini aku bangun dengan badan yang kurang fit. Kedua tulang pahaku sakit. Kemarin aku memang membersihkan rumah secara menyeluruh sampai sore. Sepertinya, ini efek karena kurang bergerak.
"Iya Mas, paha Neng pegel, sakit, kaku. Kemaren Neng beres-beres dapur, kamar, kamar mandi sama taman. Kecapean kali...."
Tanpa kusadari aku tertidur dan baru bangun saat Mas Yandri berpamitan untuk pergi kerja.
***
__ADS_1
Ini sudah hari ke-tiga aku meminum obat anti nyeri dan mengoleskan gel pereda sakit di kedua pahaku. Sejauh ini belum ada efeknya. Aku masih merasa pegal dan anehnya sekarang mulai menjalar ke betis.
Mas Yandri membersihkan rumah sebelum berangkat kerja, ia juga menyiapkan sarapan untukku. Aku hampir-hampir kesusahan hanya untuk sekedar berjalan ke kamar mandi.
"Neng, nanti Mas pulang kerja kita ke dokter aja ya?" tawar Mas Yandri sesaat akan berangkat.
Aku yang memang semenjak sakit ini tidak bisa bergerak leluasa pun menyanggupi. Rasa takut mulai menjalariku saat tadi pagi aku kehilangan kekuatan untuk bangkit setelah berjongkok.
Tadi, saat Mas Yandri mandi, aku berusaha berdiri untuk sekedar merapikan tempat tidur. Saat ingin bangkit setelah berjongkok untuk mengambil sapu lidi, aku kehilangan kekuatan menopang di kedua kakiku. Untuk berdiri aku berpegangan pada pinggiran tempat tidur dan menarik tubuhku sekuat tenaga. Efeknya, sekarang kedua lenganku mulai terasa pegal. Jujur saja, aku takut sesuatu yang buruk terjadi padaku
***
Aku berbaring di bed pemeriksaan. Dokter sedang menekan kedua lututku dan menyuruhku untuk mengangkat kaki tanpa menekuknya. Untuk kaki sebelah kanan bisa dengan mudah kuangkat walaupun tidak terlalu tinggi. Sedangkan untuk kaki sebelah kiri, sama sekali tidak bisa. Jantungku berdetak cepat dan keringat dingin mulai keluar. Sumpah, aku takut mendengar vonis dokter tentang penyakitku.
"Saya kasih rujukan ya Bu untuk diteruskan kepada spesialis syaraf." Ucapan singkat itu serentak membuatku dan Mas Yandri saling menatap.
"Memangnya ada apa Dokter?" tanya suamiku
"Dari hasil pemeriksaan barusan, Bu Rere kehilangan kemampuan untuk mengangkat kaki. Dalam artian, kaki sebelah kiri mengalami lemas.
__ADS_1
Penyebabnya bisa banyak hal. Bisa karena cedera otot, radang otot, syaraf terjepit atau bahkan penyakit autoimun yang menyerang syaraf. Itulah kenapa untuk lebih jelasnya, harus dilakukan pemeriksaan oleh spesialis syaraf. Biasanya akan dianjurkan juga untuk melakukan pemeriksaan MRI jika diperlukan."
Kami mengangguk tanda mengerti. Setelah mengantongi surat rujukan, kami berdua mengucapkan terima kasih dan pulang.