
"Satu hal yang tidak pernah terbayangkan saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini adalah, aku akan memiliki seorang bayi di sini. Tanpa orang tua, tanpa sanak saudara. Hanya mengandalkan diri sendiri dan suami. Saling bersandar dan menguatkan satu sama lain." - Neng Rere
***
Aku banyak belajar. Belajar menjadi seorang ibu. Belajar menjadi sosok yang baru. Sosok yang memiliki tanggung jawab penuh atas seorang anak.
Menjadi seorang ibu memang merupakan naluri alami seorang wanita. Tapi, bertanggung jawab terhadap seorang anak dengan kata lain mengurus, mendidik, mengajarkan, dan melindungi membutuhkan proses belajar yang tidak mudah. Adakalanya aku hampir habis kesabaran saat tidurku terganggu, atau hampir meledak saat tubuh ini telah lelah tapi tidak kunjung bisa beristirahat.
Nyatanya bukan hanya aku yang belajar. Mas Yandri pun melakukan hal yang sama. Bedanya, ia bukan belajar untuk mengurus anak secara langsung seperti mengganti diapers, memandikan, dll. Tapi dia belajar untuk mengesampingkan ego dan juga emosinya. Dia sebisa mungkin bertahan saat badannya lelah karena pekerjaan di kantor, dan saat sedang beristirahat harus terganggu dengan tangisan anak kami.
Aku yang kewalahan dan hampir tidak tidur setiap malam sedikitnya sering membuat emosiku tidak stabil dan tanpa sadar berucap ketus. Ia juga mengerti dengan keadaanku yang seperti itu dan memilih diam untuk menghindari terpancingnya emosi yang bisa berakibat pada pertengkaran. Bahkan berkali-kali ia menawarkan diri untuk bergantian mengurus anak kami. Aku akan menolak bantuannya selama aku masih bisa menangani. Alasannya, karena ia pun pasti sudah cukup lelah setelah seharian bekerja. Karena alasan yang kusebutkan itulah, jadinya ia memilih untuk mendukung secara penuh apa yang kulakukan.
Perhatian kecil dan sepele seperti membawakan bantal saat aku menyusui atau mengambilkanku minuman hangat di tengah malam membuat tenagaku yang hampir minus menjadi kembali terisi penuh.
Kini aku paham bagaimana bisa ada banyak cerita tentang ibu yang terkena depresi pasca melahirkan. Tidak mudah. Sungguh. Tidak mudah memasuki fase seorang ibu. Waktu 24 jam sehari nyatanya terlalu kurang.
Seorang ibu dituntut keadaan dan nalurinya untuk selalu melindungi anak. Itulah kenapa, banyak ibu yang meletakkan prioritas dirinya ke nomor sekian. Nomor satu? Sudah jelas, anak.
__ADS_1
Dukungan dalam bentuk apapun dan sekecil apapun dari orang sekitar nyata dibutuhkan. Agar si ibu baru ini memiliki tempat bersandar dan bisa tetap mempertahankam kewarasan.
***
Bantuan yang tidak kalah nyata berasal dari para tetanggaku. Bergantian mereka selalu mengecek ke rumah jika aku membutuhkan sesuatu. Saat tau aku sedang kewalahan, butuh makan atau mandi, dengan senang hati mereka mengambil alih untuk menjaga Dre, bayi yang kelahirannya membuat heboh ibu-ibu di sini.
***
"Neng, rumah kita udah bisa ditempati. Gimana menurut neng?" Mas Yandri bertanya padaku sembari menggendong Dre. Sedangkan aku? Aku sedang menikmati soto padang yang Mas Yandri bawa sepulang kerja.
Mas Yandri menggelengkan kepalanya, "Maksud mas, kamu mau pindah kapan?"
Aku memberi isyarat pada Mas Yandri untuk menunggu hingga aku selesai makan. Setelah meminum segelas air putih hangat, aku berkata,
"Neng udah betah disini, Mas."
Mas Yandri pun menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Iya sih Neng. Mas juga lebih kerasan disini. Selain itu, Mas juga tenang karena disini kamu kenal banyak orang. Mereka pun tanpa diminta selalu menawarkan pertolongan. Sedangkan disana, masih belum banyak tetangga karena memang itu perumahan baru."
"Kalau menurut Mas gimana?"
Mas Yandri terdiam sebentar setelah mengecup pipi Dre.
"Kan sebenarnya rumah ini tuh rumah dinas. Jadi untuk sewanya setiap tahun dapat dari kantor Mas. Tadinya, kalau kita menempati rumah kita sendiri, uang sewa akan tetap diberikan. Jadinya Mas pikir lumayan, kita dapat uang sewa rumah, tapi menempati rumah sendiri. Jadi itung-itung kantor Mas menyewa rumah kita sebagai rumah dinas."
"Oh gitu mas, Neng baru tau. Sayang juga sih ya, kalau ngga ditempatin nanti rumahnya rusak. Kalau dikontrakin, mungkin belum akan banyak yang mau karena memang lingkungan sana masih sepi."
"Apa di oper kredit lagi aja gitu Neng? Terus kita cari rumah di daerah sini?" Mas Yandri bertanya.
Aku menatap matanya lekat. "Ya bisa juga Mas, coba aja Mas tawarin ke temen Mas di kantor. Mungkin ada yg berminat. Enaknya sih ya kalo pas rumah ini juga dijual. Bisa kita beli, hehehe."
Mas Yandri tersenyum. "Beli rumah katanya sih jodoh-jodohan Neng. Kita minta yang terbaik aja sama Allah. Kalaupun kita harus di sini atau pindah ke sana, ya itu sudah jalan terbaik.
Aku mengangguk mengiyakan, sembari tanganku meraih bungkusan roti bakar.
__ADS_1