Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku

Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku
Episode 35


__ADS_3

"Karena sesungguhnya sabar itu terlatih." - Neng Rere


***


Dalam setiap rumah tangga, masing-masing orang akan mendapat ujian yang berbeda. Ada yang diuji dengan materi, ada yang diuji dengan keluarga, ada yang diuji dengan sikap pasangan masing-masing, ada yang diuji dengan kesehatan dan ada yang diuji dengan anak. Tidak akan sama antara satu dengan yang lainnya. Karena pernikahan merupakan proses pengukiran sejarah antara dua orang manusia yang melibatkan orang-orang disekitar.


***


[Kak, mau pesen apa hari ini?]


Sebuah pesan masuk dari anak pemilik rumah makan yang menjadi langgananku. Sepulangnya dari rumah sakit, badanku drop. Beberapa hari ini aku demam cukup tinggi. Sepertinya tanpa sadar aku kelelahan selama menjaga Mas Yandri di rumah sakit.


[Seperti biasa aja, bang.]


Aku bisa mengenal anak dari lemilik rumah makan itu tidak lain karena dia yang sering melayaniku saat aku ke sana bersama Dre. Untuk memudahkan, ia juga memberikan nomornya.


[Oke kak.]


Aku mematikan layar ponselku dan kembali mencoba tidur. Lita dan ibu masih menemaniku disini. Mereka memutuskan untuk tinggal lebih lama karena tau jika aku sakit.


***


Semakin kesini, anak pemilik rumah makan semakin sering mengirimkan pesan padaku. Awalnya hanya untuk menawarkan atau memberitahukan menu harian. Tapi lama kelamaan dia mulai rajin mengomentari status yang kubuat.


***


"Ibu nanti sama Lita pulang dulu ke rumah ya Yan. Mau ngambil baju ganti." Ibu berkata sebelum Mas Yandri pergi ke kantor.


"Iya bu, Neng juga katanya udah enakan kok hari ini," jawab mas yandri.


Aku sudah bisa melakukan beberapa aktifitas ringan. Tapi untuk fokus menjaga Dre, aku masih butuh bantuan ibu dan Lita.


***


[Kak, ada dirumah? Saya mau nganterin pesenan kaka. Sekalian ini ada menu baru kami, ayam kecap, saya kasi tester untuk kaka]


Pesan dari anak pemilik rumah makan kembali masuk.


[Ada kak, terima kasih banyak ya. Totalnya berapa? Saya belum sempet ngambil uang, saya mbanking aja boleh?] ketikku.


[Boleh kak, apa sih yang ngga buat langganan]

__ADS_1


Aku keluar dari aplikasi chat dan mencari aplikasi pemutar drama.


***


Mas Yandri pulang dari kantor dengan wajah yang ditekuk dan tanpa banyak bicara. Setelah makan malam pun ia mengabaikanku yang bertanya beberapa hal padanya. Fix! Ada sesuatu yang tidak beres terjadi.


***


Aku sedang tersenyum dan menatap layar ponsel yang menayangkan drama favoritku saat Mas Yandri masuk ke kamar. Tatapan tidak suka bisa kulihat dengan jelas.


"Kenapa sih Mas, jutek banget mukanya?" Aku bertanya karena jujur saja, aku tidak suka dengan suasana yang terjadi.


Mas Yandri melirikku sinis.


"Kamu berulang kali bilang sama Mas tentang batasan seseorang yang sudah menikah tapi kamu melalaikan hal yang sama!"


Aku cukup terkejut dengan ucapan Mas Yandri. Ada apa ini? Seingatku, aku tidak melakukan hal-hal yang bisa membuatnya emosi.


"Gimana sih maksudnya? Tolong, kalo ngomong yang jelas, Mas," ucapku.


Kalian tau rasanya jika tiba-tiba disudutkan padahal kalian tidak merasa melakukan sesuatu yang salah? Nah, seperti itulah rasanya. Aku sebisa mungkin sabar dan menahan emosi untuk menyerang balik perkataan Mas Yandri.


"Mas ngga suka. Kamu kalau ngomong pinter tapi pada kenyataannya nol besar!"


"Mas mau cerita atau Neng harus nyari tau sendiri!?" Tanpa sadar aku meninggikan suaraku.


"Kamu ngebentak Mas? Berani kamu sekarang?! Gara-gara pengaruh dia?!"


Dia? Dia siapa? Sumpah, aku masih tidak paham kemana arah pembicaraan Mas Yandri. Aku ingin meledak tapi sebisa mungkin mencoba bersabar.


"Cerita sama Neng, kenapa? Ada apa?"


Mas Yandri terdiam. Wajahnya sudah sepenuhnya merah.


"Tadi siang, Mas lewat depan rumah saat Mas ngeliat ada laki-laki yang keluar dari rumah ini!"


Satu. Aku mulai menghitung dalam hati untuk meredakan emosi.


"Bisa-bisanya kamu masukin laki-laki ke rumah disaat kamu cuma berdua dengan Dre!"


Dua. Aku masih menghitung.

__ADS_1


"Kamu ga mikir kalau tetangga liat akan bagaimana efeknya?!"


Tiga. Tanganku sudah terkepal dan mulutku hampir berteriak.


"Jangan-jangan setiap Mas ngga ada dirumah, kamu sering bawa laki-laki!"


Cukup sudah.


Bug! Aku melempar bantal tepat ke wajah Mas Yandri.


"Kurang ajar kamu, Neng!" serunya.


"Diem!" Aku berkata dengan suara pelan tapi mengintimidasi.


"Bisa ngga, Mas nanya baik-baik? Bisa ngga, selalu berprasangka baik? Semua yang terjadi selalu ada alasannya! Kalau Mas ngga tau kejadian yang sebenarnya, sebaiknya mas tau diri untuk ngga langsung menuduh Neng!


Bisa-bisanya seorang Yandri Saputra menuduh tanpa bukti yang jelas!"


Nafas Mas Yandri tidak teratur. Aku tau, emosi sedang memenuhi kepala kami berdua.


"Ibu tadi pagi pamit untuk pulang dengan Lita. Itu artinya kamu cuma berdua dengan Dre dirumah! Dan Mas liat dengan mata kepala Mas sendiri kalau ada laki-laki yang entah siapa keluar dari rumah!" Mas Yandri hampir berteriak.


Aku menghembuskan nafas panjang.


"Kalau Mas memang liat, kenapa Mas ga turun dan mengecek sendiri? Kenapa Mas cuma melihat terus pergi lagi tanpa mampir kerumah? Bisa jawab pertanyaan Neng?!


Karena kalo Mas tadi mampir, Mas akan melihat sendiri jika Neng ngga hanya berdua dengan Dre dirumah! Ada Ibu dan juga Lita saat laki-laki itu kesini! Dan biar Neng kasih tau, laki-laki itu anak dari pemilik rumah makan langganan Neng yang mengantarkan pesenan Neng!


"Bohong!" Mas Yandri menyentakku.


"Terserah Mas mau percaya atau ngga, tapi itulah yang sebenarnya terjadi." Pembicaraan ini sungguh membuatku lelah. Energiku terkuras habis dibabat oleh emosi yang tidak bisa kutahan.


Tok tok tok!


Seseorang mengetuk pintu kamar kami, Mas Yandri beranjak untuk membukanya dan ternyata itu ibu.


"Yan, anter Ibu pulang yuk. Ibu tadi siang ngga jadi pulang kerumah. Soalnya banyak barang yang mau Ibu ambil. Jadi Ibu nunggu kamu bisa nganter aja, biar ngga repot bawanya."


Skak!


Mas Yandri menoleh ke arahku dengan wajah yang sudah dipenuhi rasa bersalah.

__ADS_1


"Dasar blegug," makiku pelan


__ADS_2