Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku

Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku
Episode 12


__ADS_3

Pukul 10 lebih saat suara mobil mas Yandri terdengar. Aku segera membuka pintu dan melihatnya sedang membuka pagar.


"Neng kenapa belum tidur?" Mas Yandri menyapaku.


"Gimana neng bisa tidur atuh mas, kalau mas baru pulang jam segini. Pulang malem ngga ngasi kabar." Aku berucap seraya tersenyum.


Dari tadi aku mati-matian menahan emosi dan ingin segera mendapatkan penjelasan. Namun, suamiku itu baru pulang kerja. Jika aku nekat bertanya, yang ada kami akan bertengkar dan tujuanku untuk mengetahui hal yang sebenarnya bisa gagal.


"Mas mandi dulu sana, Neng angetin makannya."


Mas Yandri mengangguk dan berjalan menuju kamar kami.


***


"Neng ngga enak badan? Kok kaya yang lesu?" Tanya mas Yandri kepadaku saat ia telah selesai makan.


Aku hanya tersenyum dan menawarinya kopi seperti biasa. Memang, sudah terlalu malam untuk menikmati secangkir kopi, tapi karena besok mas Yandri libur, ia pun tidak menolak.


"Mas, lihat ini," aku membuka suara saat kami sudah sama-sama menghabiskan setengah gelas kopi.

__ADS_1


Aku memberikan padanya ponsel yang dari tadi kugenggam agar ia melihat sendiri foto yang diambil oleh bu Jejen.


Aku menatap tajam wajah mas Yandri dan menunggu jika ada keterkejutan disana. Nyatanya, wajah suamiku itu tetap datar. Dia malah mengambil ponselnya dan menunjukkan sesuatu padaku.


Foto yang kuterima dari bu Jejen menunjukkan jika mas Yandri sedang berdua dengan seorang perempuan. Sedangkan foto yang aku lihat di ponsel mas Yandri adalah foto mas Yandri bersama dengan beberapa orang karyawannya. Dan wanita yang ada di foto bu Jejen pun ada disana.


Kebetulan, foto di ponsel mas Yandri juga memakai tanda air penunjuk waktu. Ada yang sebelum bu Jejen mengambil foto mas Yandri saat hanya berdua dengan seorang perempuan, dan ada juga foto yang diambil sesudah bu Jejen mengambil foto mereka berdua.


Aku mengamati jika foto-foto di ponsel mas Yandri diposting di grup kantornya.


"Scroll aja neng, baca semua dari atas biar neng tau kalo Mas ngga ngapa-ngapain."


Setelah beberapa saat membaca, kelegaan menyelimutiku dan membuatku secara spontan mengucap Hamdalah.


"Mas hari ini harus mengunjungi bos dari perusahaan rekanan yang kebetulan sedang datang ke kota ini. Oleh karena itu, kami pergi berlima. Tepat di Alfamart, kami mampir membeli beberapa minuman. Perempuan yang Neng liat itu namanya Siska. Dia admin mas."


Aku mengangguk mengerti. "Mas, neng minta sesuatu boleh?"


Mas Yandri memegang tanganku, "Apa Neng?"

__ADS_1


"Kalau Mas sekiranya bakal pulang terlambat dari waktu yang biasa, tolong kabari Neng. Bukan Neng ngga percaya sama Mas, tapi biar Neng ngga khawatir. Karena baru kali ini Mas pulang terlambat."


"Iya Neng, lain kali Mas akan ngabarin. Mas ngga ngabarin karena Mas pikir kamu tenang-tenang aja di rumah."


Aku tertawa mendengar perkataan Mas Yandri.


"Mas, Neng sebenernya gatel pengen ngechat Mas. Nanyain kenapa mas pulang telat. Tapi, Neng takut kalau ngeganggu Mas pas lagi kerja."


Gantian mas Yandri tertawa mendengarku.


"Neng, sampai kapanpun Neng berhak untuk bertanya kegiatan Mas. Kalaupun Mas sibuk, Mas ngga akan langsung bales pesen dari Neng, tapi begitu ada waktu, Mas usahakan akan selalu membalas. Kamu berhak sepenuhnya atas diri Mas, kamu bisa mengganggu Mas kapanpun kamu mau Neng."


Aku terdiam beberapa saat untuk merangkai kalimat dan mengumpulkan keberanian menyampaikan isi hatiku.


"Oh iya satu lagi mas. Jika suatu saat nanti mas bosan sama Neng, dan mas menemukan perempuan lain, tolong bilang langsung sama Neng ya mas. Neng lebih bisa nerima kalau mas bicara langsung sama Neng daripada Mas harus sembunyi-sembunyi."


Mas Yandri menatapku lekat. "Sedikitpun Mas ga pernah terpikirkan untuk mengganti Neng dengan yang lain. Tiap kali sholat, Mas berdoa agar bisa sehidup sesurga hanya dengan Neng."


Perkataan Mas Yandri sontak semakin membuat rasa haru dihatiku membuncah. Kesalahpahaman ini sudah terselesaikan dengan baik. Dan kami bahkan sudah sepakat untuk mengkomunikasikan kegiatan kami sehari-hari.

__ADS_1


***


"Banyak manfaat yang didapat dari menahan emosi dan mengutamakan komunikasi, hal yang seringkali luput dan jarang diperhatikan oleh pasangan yang sudah menikah."


__ADS_2