Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku

Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku
Episode 28


__ADS_3

"Takdir adalah ketentuan Allah yang tidak bisa manusia hindari disaat manusia telah membuat banyak rencana. Sejauh apapun manusia melangkah, takdir akan kembali menuntunnya ke jalan dimana seharusnya ia berada." - Author


***


Hujan turun menderas di kota ini. Sesuatu yang jarang kujumpai sejak pertama kali pindah. Sejuknya udara membuatku dan Dre tertidur pulas. Saat bangun, hari sudah beranjak sore.


Aku bergegas mempersiapkan peralatan mandi Dre. Mbak Tinah yang sudah selesai menyetrika pun aku perbolehkan untuk pulang.


Sesudah isya, saat sedang menyusui Dre sambil tiduran, aku baru menyadari jika belum melihat ponselku. Ternyata ponselku habis baterai. Aku bangun dari tempat tidur setelah menunggu beberapa saat kemudian sampai Dre benar-benar pulas.


***


Hampir 30 panggilan tidak terjawab berasal dari nomor Mas Yandri, Ibu dan Lita. Dengan segera, aku menekan tombol telepon untuk membuat panggilan ke Mas Yandri. Tidak diangkat. Aku lalu mencoba menghubungi nomor Ibu, Ana dan Lita. Sama. Semua tidak ada yang mengangkat teleponku.


Entah kenapa perasaanku menjadi was-was. Mas Yandri tidak biasa berkali-kali meneleponku. Jika aku tidak bisa mengangkat panggilan, biasanya dia akan mengirim pesan. Tapi ini? Tidak ada pesan satupun darinya.


Aku memutuskan mengirim pesan ke Mas Yandri setelah berpikir beberapa saat.


[Mas, ada apa?]


Terlihat centang dua namun abu-abu. Aku menaruh ponselku di meja dan bangkit ke dapur untuk menyeduh kopi. Rasa kantuk yang sempat menghampiri, menguap entah kemana.


Sepertinya aku tertidur di sofa kamar saat ponselku bergetar berulang-ulang. Satu panggilan dari Mas Yandri sempat terabaikan. Saat aku hampir menelepon balik, Mas Yandri menelpon.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Neng."


Tunggu, ada apa dengan suara Mas Yandri? Apakah ia sakit? Tadi pagi seingatku dia terlihat sehat.


"Waalaikumsalam Mas, maaf baru bisa angkat telpon Mas."


Hening di ujung sana.


"Neng, Ana udah ngga ada." Suara Mas Yandri yang lirih membuatku harus memusatkan konsentrasi.


"Gimana sih Mas maksudnya?" Aku penasaran. Jantungku berdebar tidak menentu dan rasa dingin menjalar di punggung. Sesuatu telah terjadi.


"Ana meninggal Neng..., Tadi setelah siraman...." Suara Mas Yandri terdengar semakin jauh.


"Innalillahi wainnailaihi rojiun.... Mas, Neng nyusul ke situ ya?"


Terdengar kegaduhan di seberang sana, tidak lama, suara ibu mertua terdengar.


"Re..., Ana Re, Ana meninggal tadi siang...." Ibu mertuaku terisak. Seruan-seruan kencang memanggil nama ibu mertuaku terdengar. Dan sambungan telepon tiba-tiba terputus.


[Nanti Mas telepon lagi ya neng.]


Pesan masuk dari Mas Yandri kubaca dengan tangis tertahan.

__ADS_1


***


Sehabis subuh, Mas Yandri meneleponku. Suaranya sudah terdengar lebih tenang dari sebelumnya. Setelah menanyakan Dre yang masih tidur, ia pun bercerita.


"Siang kemarin tepat sehabis acara pengajian dan siraman, Ana pamit mau pergi ke Alfamart. Beberapa orang sudah mencegahnya pergi. Pamali katanya. Dan beberapa lagi menawarkan untuk menggantikannya membeli apa yang dia butuhkan. Namun, anak itu tetap nekat pergi dengan alasan cuma sebentar aja.


Kami disini lagi sibuk beres-beres sehabis acara saat salah satu tetangga ibu berlari dan mengabarkan kalau Ana kecelakaan. Tadinya kami masih mengira ia hanya sekedar terjatuh dari motor seperti biasa. Tapi saat Mas kesana untuk melihat sendiri, hal pertama yang Mas lihat adalah motornya yang udah hancur, Neng.


Dan Mas melihat Ana terbaring ditutupi koran. Beberapa suara yang berbisik terdengar oleh telinga Mas. Kata mereka Ana sudah meninggal ditempat."


Mas Yandri terdiam sejenak.


"Setelah ambulan datang dan memeriksa. Mereka mengatakan jika memang Ana tewas seketika. Beberapa saksi mata bilang jika Ana terlihat keluar dari tempat parkir alfamart. Saat menyebrangi jalan, dari arah belakang ada mobil yang melaju kencang dan langsung menabrak Ana. Ana terpental cukup jauh dari Alfamart, Neng...."


Aku menahan sesak dalam dada. Air mataku kembali mengalir mengingat saat-saat aku masih tinggal bersama Ana di rumah ibu.


"Harusnya hari ini jadi hari yang membahagiakan untuk dia. Tapi mau bagaimana lagi, hari dimana dia akan melangsungkan akad nikah menjadi hari dimana dia harus dikuburkan," Mas Yandri terisak.


Aku tidak tahan. Aku tidak tahan untuk menahan tangis. Dengan tersedu-sedu aku menghabiskan sisa air mataku, berharap jika sakit di hati ini sedikit membaik.


***


Tidak ada yang bisa disalahkan atas terjadinya takdir yang menimpa manusia. Semua itu telah ditetapkan jauh dari sebelum kita terlahir. Semua yang terjadi merupakan jalan terbaik. Mungkin menurut kita takdir terlampau kejam. Tapi tidak, takdir tidak kejam. Hanya kita saja yang tidak tau apa-apa. Kita tidak tau makna apa yang terjadi pada sesuatu yang menimpa kita.

__ADS_1


__ADS_2