Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku

Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku
Episode 45


__ADS_3

"Badai dalam rumah tangga tidak pernah memberi tanda kapan akan datang. Kebanyakan pasangan baru sadar, saat perahu telah karam." - Neng Rere


***


Hidup manusia akan selalu dihampiri oleh masalah. Apapun itu, akan selalu ada setiap waktu. Jika hidup terasa tenang tanpa ada hambatan, aku sarankan untuk waspada. Zona nyaman memang menenangkan, tapi hidup kita akan terus dituntut untuk keluar dari zona tersebut.


***


Di suatu hari yang berjalan seperti biasa, Mas Yandri pulang ke rumah pada jam yang tidak kuduga. Kali ini, bukan wajah kusut yang terlihat. Seketika ia langsung memeluk dan menangis. Dan aku sudah tau, ada sesuatu yang terjadi.


"Neng, perusahaan mengalami pailit." Mas Yandri langsung membuka suara saat masih memelukku.


Jujur saja, aku cukup shock mendengarnya. Tapi sebisa mungkin kutahan reaksiku. Aku harus menenangkan suamiku, dalam hal ini, dia yang pasti lebih terpukul.


"Sini duduk dulu Mas. Jangan bicara dulu ya. Tunggu sebentar."


Aku bergegas mengambilkan air putih dingin dan juga sepiring nasi beserta lauk pauknya. Jam belum terlalu lama beranjak dari waktu makan siang. Bisa kupastikan Mas Yandri belum makan.


Aku menemaninya makan di ruang tamu. Selain untuk memberinya waktu menenangkan diri, aku pun butuh waktu untuk menenangkan diriku sendiri. Aku juga merasakan khawatir akan kehidupan kami selanjutnya jika hal yang buruk sampai terjadi.

__ADS_1


Setelah Mas Yandri selesai makan, aku membereskan semuanya dan membawa piring kotor ke dapur. Mbak Tinah yang sedang membereskan dapur dan hampir akan mencuci piring bekas makan aku suruh untuk pulang saja. Hal ini cukup privasi, aku tidak mau ada pihak luar yang tau.


***


"Cerita pelan-pelan sama Neng, maksud Mas dengan perusahaan pailit itu gimana?" Aku menguatkan mental untuk mendengar hal yang akan Mas Yandri sampaikan.


"Perusahaan tadi mengumumkan melalui email resmi jika perusahaan pailit. Perusahaan akan diakuisisi oleh perusahaan lain. Beberapa kantor cabang akan ditutup dan beberapa karyawan akan diberhentikan. Mas juga pulang karena perintah dari pusat. Kantor tidak akan beroperasi hingga ada keputusan selanjutnya." Mas Yandri menjelaskan dengan wajah dan suara yang lesu.


Aku tersenyum, "Terus kenapa Mas kusut sendiri? Kan belum ada keputusan resmi. Belum tentu kantor cabang disini yang akan ditutup. Dan belum tentu juga Mas jadi bagian dari karyawan yang diberhentikan," ucapku.


Aku tidak bisa menjelaskan dengan tepat bagaimana perasaanku. Aku sangat khawatir dan cemas, tapi aku harus tampak kuat agar Mas Yandri tidak semakin terpuruk, ya walaupun kekhawatirannya belum terbukti.


Berkata memang mudah, pada kenyataannya pikiranku langsung bercabang kemana-mana.


***


Setelah hampir seminggu berada di rumah. Kabar tentang kepastian posisi Mas Yandri kami terima. Aku sedang membereskan kulkas, saat mendengar isakan kecil berasal dari kamar kami.


Terlihat olehku, Mas Yandri sedang menangis sembari memeluk Dre erat. Dre tadi memang sedang di kamar menemani Mas Yandri.

__ADS_1


Dengan perlahan aku mendekat dan memeluk keduanya. Dari reaksi Mas Yandri yang aku lihat, aku sudah tau berita apa yang dia terima.


***


"Kita bertahan di kota ini atau pulang ke Bandung, Mas?" Aku bertanya saat Dre sudah tidur siang dan Mas Yandri sudah terlihat lebih tenang.


"Mas ngga mau ngomongin ini , Neng," ucapnya lirih.


"No. Kita harus bersiap dari sekarang. Kabar yang Mas terima jangan sampai membuat Mas terpuruk terus dan meratapi nasib. Neng ngga suka," aku mengungkapkan keinginanku.


Mas Yandri menatapku lekat.


"Maafin Mas, Neng."


Aku menggelengkan kepalaku.


"Maaf kalau Neng harus ngomong ini Mas. Neng ngga suka dengan sikap Mas. Ga perlu minta maaf ke Neng, karena Neng tau ini bukan kesalahan Mas. Daripada Mas meminta maaf, Neng lebih suka jika Mas bergerak cepat dan memutuskan apa yang harus kita lakukan. Ga usah takut, Neng selalu ada di samping Mas. Selain itu juga ada Dre. Kami berdua akan terus menemani Mas melangkah. Jadi, janganlah lemah oleh ujian. Karena Allah memberikan kita ujian dengan maksud menguatkan."


Mas Yandri tertunduk. Buliran air mata bisa kulihat jelas dari tempatku duduk.

__ADS_1


"Neng siap berjuang jika Mas juga semangat. Jadi, bangun Mas! Angkat kepala Mas! Kita hadapi sama-sama." Aku menghampiri Mas Yandri dan memeluknya erat.


__ADS_2