
"Kaifa akhofu minal faqr wa ana abd al-Ghaniy. Bagaimana aku akan takut dengan kemiskinan. Sedangkan aku adalah hamba dari Yang Maha Kaya." - ( Dapet dari internet - Author )
***
Mas Yandri sudah resmi berhenti kerja, uang pesangon pun sudah kami terima. Hanya saja kami masih bingung harus digunakan untuk apa. Jujur saja, aku tidak memiliki keterampilan yang bisa digunakan untuk mencari uang, begitupun dengan Mas Yandri.
***
Mas Yandri sedang pergi ke rumah mantan karyawannya untuk melihat motor bekas yang dijual. Karyawannya itu menjual motor yang selama ini dipakai untuk menambah modal usaha setelah berhenti kerja.
***
Aku memotong buah melon untuk cemilan siang Dre. Anakku itu sedang anteng di depan televisi melihat tayangan Cocomelon. Aku berpikir untuk mencabut fasilitas wifi di rumah ini. Sebisa mungkin pengeluaran yang tidak penting harus ditekan mulai dari sekarang.
Setelah melon dalam piringnya habis, Dre menghampiriku untuk minta digendong. Aku membawanya ke kamar dan kemudian berusaha menidurkannya.
***
Tangisan Dre membangunkanku yang ikut tertidur. Anakku sudah dalam posisi duduk dengan ceceran muntah di sekitarnya.
Bergegas, aku bangkit dan membawanya ke kamar mandi. Selain muntah, Dre juga ternyata diare. Badannya pun mulai menghangat tanda tubuh mulai kekurangan cairan.
Aku membersihkan tubuhnya dengan cepat dan membalurkan minyak telon. Setelah selesai, Dre kugendong dengan kain panjang dan menuju ke dapur.
Karena tidak memiliki persediaan oralit, aku berinisiatif membuat larutan gula garam untuk kuminumkan pada Dre. Setelah satu liter air hangat siap, aku mencampurkan enam sendok makan gula dan setengah sendok makan garam.
Setelah berkali-kali menolak untuk minum, Dre akhirnya menyerah juga dan meminum habis isi gelas yang kusodorkan.
***
Mas Yandri pulang dengan menggunakan motor yang sudah dibeli. Keningnya berkerut saat melihatku menggendong Dre.
"Dre kenapa Neng? Tumben digendong pakai kain." tanyanya.
__ADS_1
"Lagi kurang sehat Mas. Barusan muntah sama diare. Udah berkali-kali," jawabku.
"Ya udah Mas ke apotek ya, beli obat buat Dre." Mas Yandri berdiri menuju pintu.
"Hati-hati Mas," sahutku lirih.
***
Dre tertidur dari sejak minum obat. Aku bisa beristirahat sejenak setelah sepanjang siang terus menggendongnya.
Selepas isya, hujan turun dengan deras. Mas Yandri sedang menonton televisi sambil memakan cemilan.
"Mas, Neng istirahat dulu ya. Bahu Neng pegel karena ngegendong Dre. Kalau Mas mau makan, udah Neng siapin di meja."
Mas Yandri mengangguk mengerti.
***
Tepat menjelang tengah malam saat Dre kembali menangis. Aku bangun dan melihatnya muntah-muntah lagi. Mas Yandri yang ternyata belum tidur, membuka pintu kamar, dan masuk.
Aku langsung mengangkat Dre dan menuju kamar mandi. Setelah bersih, aku meminumkan air putih hangat pada anakku itu namun tidak lama kemudian dia kembali memuntahkan apa yang baru saja diminumnya.
Aku memperhatikan keadaan Dre. Badannya semakin panas dan lesu. Selain itu aku bisa melihat jika tatapan matanya sayu. Instingku sebagai seorang ibu tidak bisa dibohongi.
"Kita ke rumah sakit, Mas."
Mas Yandri langsung bersiap begitupun aku. Aku memakai jaket dan membungkus Dre dengan rapat.
Hujan menyambut kami saat keluar komplek. Aku bersyukur hujan yang turun hanya gerimis. Dre kupeluk erat agar ia tidak kedinginan terkena angin malam. Tidak berapa lama, ia pun tertidur.
***
Hatiku miris memikirkan keadaan kami. Tengah malam, anak sakit, hujan dan juga uang yang tidak seberapa. Aku hampir menangis saat melihat beberapa orang sedang tidur di emperan toko bersama gerobak mereka. Seketika aku tersadar, banyak manusia lain yang nasibnya masih kurang beruntung dibandingkan aku.
__ADS_1
***
Mas Yandri berhenti tepat di depan ruang IGD. Dengan cepat aku turun dan langsung disambut satpam yang berjaga.
"Sebelah sini, bu," beliau mengarahkanku ke sebuah bed kosong untuk membaringkan Dre.
"Nanti kalau Bapak sudah selesai parkir, ke tempat pendaftaran ya bu. Saya tinggal dulu."
Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih banyak atas bantuannya.
Tidak lama setelah kepergian pak satpam, dokter yang berjaga menghampiriku.
"Adek kenapa bu?" tanyanya ramah.
Aku menceritakan dengan lengkap apa yang dialami Dre. Dokter mendengarkan sambil memeriksa tubuh anakku.
"Ini dehidrasi ya, untung ibu cepat kesini," ucapnya.
Mas Yandri menhampiriku yang berada tepat di sebelah Dre.
"Mas udah daftar?" tanyaku. Mas Yandri menganggukkan kepala.
Kami terdiam melihat Dre yang masih diperiksa.
"Ini adek harus dirawat ya. Soalnya sudah dehidrasi. Takutnya kalau pulang, nanti drop pas di rumah." Dokter membalikkan badan menghadap ke arahku dan Mas Yandri.
"Iya dokter," sahutku lirih. Aku tidak bisa memikirkan apa-apa. Aku hanya ingin Dre sembuh.
***
Dre sudah sangat lemas. Saat suster menusuk tangannya untuk mengambil darah dan memasang infus ia tidak menangis sama sekali.
"Anak pinter ya, ngga nangis loh," suster tersenyum dan berkata pada Dre.
__ADS_1
"Ditunggu sebentar ya bu, maksimal 30 menit sampai hasilnya keluar."
"Terima kasih suster," ucapku dan Mas Yandri berbarengan.