Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku

Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku
Episode 25


__ADS_3

Suara bising dan bunyi yang terus terdengar stagnan memenuhi indera pendengaranku. Aku ingin membuka mata tapi entah kenapa rasa kantuk terus menyerang.


***


Mataku mengerjap beberapa kali untuk menghalau silau dan rasa sakit yang menusuk. Samar-samar terlihat bola lampu yang menempel di langit-langit. Badanku terasa sakit dan kaku saat aku mencoba menggerakannya.


"Teh...," antara sadar dan tidak aku mendengar suara mama.


Sesuatu yang hangat menyentuh tanganku, membuatku refleks menggenggam. Dengan perlahan, aku bisa membuat mataku terbuka sedikit demi sedikit.


"Alhamdulillah...."


Aku menatap tidak percaya. Mama ternyata ada disini.


***


Hal yang semula kukira mimpi ternyata kenyataan. Mamaku berdiri tepat di sebelah ranjang tempatku berbaring. Perlahan, aku mulai bisa mengenali keadaan sekitar. Mama, Ibu, Mas Yandri dan Bu Indah ada di ruangan ini.


Mas Yandri memeluk dan membelai rambutku. Ucapan Hamdalah berkali-kali keluar dari bibirnya. Mama, Ibu dan Bu Indah menatap ke arahku dengan air mata yang menderas.


"Lagi pada reuni ya?" adalah kalimat pertama yang keluar dari bibirku sebelum akhirnya aku jatuh tertidur. Lagi.


***


Tubuhku terasa jauh lebih ringan hari ini. Saat membuka mata, hal pertama yang kusadari adalah perutku yang sudah kempes. Mencoba untuk tenang namun ternyata pekikan histeris yang keluar dari bibirku.

__ADS_1


"Perut aku kenapa?!"


Mas Yandri dan Ibu segera menghampiriku.


"Tenang Neng, udah ngga apa-apa. Neng jangan mikir aneh-aneh dulu. Semua aman...." Mas Yandri berkata padaku.


"Neng jatuh mas, kepeleset," laporku padanya.


"Iya, Mas udah tau, makanya Neng sekarang ada di rumah sakit. Tapi tenang. Neng ngga kenapa-kenapa. Bayi kita juga sehat-sehat." Mata Mas Yandri berkaca-kaca.


Perkataan Mas Yandri sontak membuatku terharu dan mengucap Hamdalah.


***


"Saya kaget setengah mati saat tiba-tiba Bu Rere jatuh dan pingsan. Saya buru-buru lari keluar untuk mencari pertolongan. Sayangnya, karena masih belum waktunya pulang kerja, banyak bapak-bapak yang tidak ada."


"Waktu itu untungnya ada ibu-ibu sedang berkumpul di warung Bu Indah. Kami semua langsung bergerak membawa Bu Rere ke rumah sakit karena pendarahan yang tidak berhenti.


Bu Mumun berinisitif untuk mengemudi dan Bu Jejen yang duduk disebelahnya berteriak di sepanjang jalan agar kendaraan lain menepi dan memberi jalan."


Aku menoleh menatap Bu Mumun dan Bu Jejen seraya tersenyum.


"Saya dan Bu Indah memangku Bu Rere. Baju kami ikutan basah kena darah. Sampai di rumah sakit. Bu Mumun dan Bu Jejen kembali berteriak-teriak seperti kesurupan. Minta agar Bu Rere cepat ditangani." Bu RT menutup ceritanya dengan tersenyum.


Aku menangis. Menangis dengan sangat kencangnya dan tersedu-sedu. Disaat jauh dari suami dan keluarga, nyatanya memang orang-orang terdekatlah yang lebih dulu turun tangan.

__ADS_1


"Terima kasih banyak Bu RT, Bu Mumun, Bu Jejen, Bu Indah. Terima kasih banyak atas pertolongannya. Terima kasih juga ibu-ibu semuanya, untuk doanya. Semoga Allah membalas kebaikan kalian beribu kali lipat."


Ucapan Amiin serempak keluar dari mulut para tetanggaku yang ternyata juga ikut menitikkan air mata.


***


Mataku menghangat saat pertama kali melihat bayiku tertidur di dalam inkubator.


"Assalamualaikum jagoan. Lagi apa? Kok tidur terus sih? Nangis dong, mama pengen denger kamu nangis."


Tanpa kusadari, aku yang ternyata menangis.


"Nak, terima kasih banyak sudah menemani mama selama ini. Terima kasih banyak sudah berjuang bersama. Terima kasih sudah lahir. Dan terima kasih juga sudah bertahan. Cepatlah kuat nak, cepatlah sehat, biar kita bisa cepat kembali ke rumah. Sama Papa, Nenek dan Oma."


***


Sudah seminggu lebih bayiku berada dirumah sakit. Aku menengoknya setiap hari sepulangnya dirawat dari rumah sakit. Perawat memberitahuku jika berat badan bayiku sudah bertambah walaupun belum dalam batas normal. Aku juga sudah bisa memberikan asi walaupun belum bisa secara langsung.


***


Rutinitas utamaku setiap hari adalah bolak balik rumah sakit. Terkadang sebelum berangkat kerja, Mas Yandri juga mampir menengok anak kami.


Berita baik kami terima hari ini. Bayi kami sudah bisa pulang dan dinyatakan sehat tanpa gangguan apapun.


***

__ADS_1


"Ya Allah terima kasih banyak. Terima kasih banyak atas nikmat hidup yang Engkau berikan. Terima kasih banyak untuk semua ujian yang menguatkan. Terima kasih banyak untuk semua hal terbaik dari orang-orang disekitar kami. Terima kasih banyak telah memberikan kami kesempatan menjadi orang tua. Dan terima kasih banyak atas semua keberkahanMu untuk keluarga kami."


Aku tidak sengaja terbangun dan mendengar Mas Yandri menangis saat berdoa di sepertiga malam. Ikut menitikkan air mata, kepalaku tanpa sadar menoleh ke sosok mungil yang tidur tepat disebelahku.


__ADS_2