
Aku baru saja kembali dari dapur dan membawa dua gelas minuman dingin untukku dan ibu saat terdengar seseorang berteriak di depan pintu.
"Permisi!"
Ibu bangkit dan berjalan ke luar. Setelah meletakkan gelas di meja, aku pun ikut ke luar.
"Ibu, kenapa jahat sama anak saya? Anak saya langsung nangis pulang dari sini. Katanya diusir dan dilarang main ke sini sama ibu!" Ibu si anak itu berbicara dengan nada yang tinggi.
Wow, bukan sikap yang patut ditiru. Sekesal apapun, ada yang namanya adab berbicara dengan orang yang lebih tua.
"Maaf, bukannya saya melarang anak ibu main ke sini. Saya ngga melarang sama sekali. Saya cuma bilang, jika mau main disini jangan rebutan dengan cucu saya. Jangan masuk-masuk ke kamar. Cucu saya tadi dua kali nangis karena dilempar mainan sama anak ibu, terus dicubit juga," Ibu menjelaskan.
"Ya namanya juga anak-anak bu, maklumin aja. Masih belum tau apa-apa. Kasian anak saya, sampai kaget karena diusir dan dilarang main!
Ini dia! Tipe orang tua seperti ini, yang selalu memaklumi perilaku anaknya sekalipun salah yang justru membuat tingkah sang anak susah dikontrol.
"Anak saya mana ngerti, Bu! Mana dia tau kalau apa yang dia lakukan itu salah! Namanya juga anak-anak, ya yang dewasa dong yang maklum! Mimpi apa saya semalam, baru aja pindah malah dapet tetangga yang ngga ngerti tingkah anak kecil!" Wanita itu mengomeli ibu. Dan sebelum ibu membalas kata-katanya, ia sudah berbalik badan dan berlalu meninggalkan kami.
***
"Lita, kalau main sama Dre, perhatiin baik-baik ya. Takutnya anak sebelah ikut main. Kalau ga nakal sih ngga apa-apa, ini nakalnya pake banget," Ibu berkata pada Lita yang sedang memangku Dre.
"Iya Bu, tenang, ada Lita. Lama-lama nanti Lita jitak itu anak."
"Teteh juga pengen nakol, kesel liatnya," aku menyahuti.
__ADS_1
Sebenarnya, anak-anak memang belum mengerti apa-apa. Mereka cenderung berbuat sesuka hati. Tugas orang tua-lah untuk memberitahu mana yang salah dan mana yang benar serta mengajarkan adab sedini mungkin pada anak agar anak menjadi terbiasa.
Sebagai contoh, jika seorang anak dibiasakan masuk rumah dengan mengucap salam. Ia akan terbiasa walaupun belum mengerti jika itu adalah salah satu adab memasuki rumah. Atau, jika anak dibiasakan untuk berlaku santun di rumah orang lain, anak akan menjadikan itu kebiasaan dan terus bersikap santun ketika ia bertamu di rumah siapa saja sehingga tanpa sadar ia sudah belajar tentang adab bertamu.
Intinya, walaupun anak belum mengerti apa-apa, tidak mustahil untuk mengajarkan mereka perbuatan terpuji sejak dini agar terbiasa. Lambat laun, mereka akan bisa karena biasa, bukan karena mengerti.
***
Dre sedang memakan coklat pemberian Lita di depan televisi saat anak sebelah muncul. Tanpa basa-basi, ia merebut coklat yang sedang dipegang Dre. Terlihat jelas jika anakku itu terkejut, untungnya tidak sampai menangis. Lita yang juga melihat kelakuan anak itu segera menghampirinya dan kembali merebut coklat yang dipegang. Masalah besar! Anak itu berteriak kemudian menangis, lalu melempar bantal yang berada di dekatnya.
Aku segera maju untuk mengamankan Dre dari lemparan bantal, dan si anak masih tetap mengamuk. Lita menatapku bingung.
"Biarin aja. Paling ntar emaknya kesini," aku berkata santai.
Benar saja tidak lama kemudian, tetangga sebelah datang dan langsung mencak-mencak.
"Ngga saya apa-apain kok," jawab Lita. Wajahnya sudah pias.
"Bohong! Anak saya bisa nangis kaya gitu pasti kamu kasarin! Ngaku, kamu cubit anak saya kan!?"
Lita menggeleng, "Sumpah, saya ngga ngapa-ngapain anak ibu. Anak ibu aja tuh yang tadi tau-tau nyelonong masuk terus ngerebut coklat ponakan saya."
"Terus coklatnya kamu ambil lagi?!" Matanya menatap coklat yang Lita pegang.
"Ya iyalah, orang ini punya ponakan saya," jawab Lita.
__ADS_1
"Tega kamu sama anak kecil! Anak saya ngerebut karena dia belum ngerti apa-apa! Maklumin aja! Namanya juga anak kecil! Selain itu kamu juga nyubit kan?! Ngaku?!"
"Ngga, saya ngga cubit anak Ibu."
"Bohong kamu! Saya bisa laporin kamu ke polisi ya! Pakai kekerasan sama anak kecil!"
"Lapor aja silakan," aku menyahut.
Wanita itu balik menghampiriku yang masih menggendong Dre.
Aku menatap Lita dan memberi tanda padanya agar ia mengambil Dre. Dengan sigap Lita langsung menghampiriku.
"Silakan lapor polisi aja, di rumah ini ada cctv. Kita bisa liat sama-sama nanti di kantor polisi."
Wanita di depanku terdiam. "Halah buang-buang waktu!" ucapnya seraya menghampiri sang anak yang sudah berhenti mengamuk. Sepertinya dia ingin membawa anaknya pulang.
"Kok buang-buang waktu? Kan Ibu sendiri yang tadi bilang mau ngelaporin. Saya mah hayu aja, kebetulan ada cctv di sini. Bisa jadi bukti kan? Kalau adik saya salah, dia siap menerima hukumannya. Tapi kalau ngga, ya ibu siap-siap aja saya laporin balik," aku berkata santai.
"Atas dasar apa kamu mau ngelaporin saya?!" tantangnya.
Aku melipat tanganku di dada dan tersenyum sinis. "Atas dasar pencemaran nama baik karena tuduhan yang tidak berdasar. Atas dasar perlakuan yang tidak menyenangkan karena tanpa sebab ibu marah-marah disini. Dan satu lagi atas dasar masuk tanpa ijin ke properti milik orang lain karena ibu tadi saya liat langsung masuk sebelum saya ijinkan. Dan saya memiliki cctv disini sebagai bukti yang kuat."
Sumpah, aku mengarang indah untuk hal ini. Hal-hal yang aku sebutkan itu aku lihat di drama favoritku.
Selain itu, aku juga menggunakan trik yang dulu kugunakan untuk Bu Jejen. Padahal tidak ada satupun cctv di rumah ini.
__ADS_1
"Jadi mau ke kantor polisi? Ayo, saya ganti baju dulu ya?" Aku tersenyum lebar.
Wanita dihadapanku hanya diam. Dengan sekali sentakan, ia menarik anaknya keluar dari rumah.