Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku

Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku
Episode 32


__ADS_3

Mas Yandri sudah beberapa hari dirawat. Awal-awal dirawat, trombositnya terus menurun. Aku sudah memberikan beberapa makanan dan minuman yang diberitahu orang-orang bisa menaikkan trombosit.


Aku berusaha keras merawat Mas Yandri sama seperti dia yang banyak merawatku saat sedang mengandung Dre. Ibu, Lita dan para tetangga banyak membantuku. Mereka bergantian mengurus Dre selama aku banyak tinggal di rumah sakit. Kondisi ibu yang sudah tua tidak memungkinkannya untuk merawat Dre terus menerus karena anakku tersebut sangat aktif


Darah memang lebih kental daripada air, tapi tidak perlu sedarah untuk menjadi keluarga. Baru saat ini aku memahami ucapan mama. Pada dasarnya, dimanapun kita berada, jika kita bisa bersikap baik dan menempatkan diri, orang lain pun akan melakukan hal yang sama.


Memutuskan menikah berarti memutuskan untuk berani belajar sesuatu yang baru. Sesuatu yang tidak hanya berpusat pada diri sendiri dan pasangan, melainkan juga pada keluarga besar dan orang-orang sekitar.


***


"Assalamualaikum."


Beberapa karyawan kantor Mas Yandri sedang datang menengok. Mereka membawakan banyak roti dan buah-buahan. Satu diantaranya, ada Siska.


Hal pertama yang terlintas dipikiranku saat melihatnya adalah, penampilan gadis itu cukup santun. Orangnya ramah dan mudah akrab denganku yang notabene baru dikenalnya. Aku bisa melihat jika beberapa kali ia mencuri pandang ke arah Mas Yandri.


"Permisi Ibu, bisa ke meja perawat sebentar?"


Seorang perawat menghentikan kami yang sedang mengobrol. Aku mengangguk dan melangkah keluar ruangan. Ternyata ada obat tambahan yang harus kutebus sendiri karena farmasi di rumah sakit kehabisan stok. Karena kupikir Mas Yandri ada yang menemani, tanpa kembali ke kamar aku langsung keluar untuk menuju apotek terdekat. Untungnya di apotek tersebut, obat yang dimaksud bisa kudapatkan. Dengan segera aku kembali ke rumah sakit.


Tepat saat akan membuka pintu ruangan yang tidak tertutup rapat, kakiku terhenti saat mendengar ucapan salah seorang karyawannya.


"Pak, cepet sehat dong. Siska kehilangan bapak tuh di kantor. Tiap hari nanyain Bapak mulu."


"Iya Pak, sedih loh dia pas tau bapak sakit."


"Siska sampe nangis loh pak mikirin Bapak."


Aku tertegun dan entah kenapa jantungku menjadi berdetak kencang.

__ADS_1


"Kalian ini, kalau kedengeran istri saya nanti dikira saya ada apa-apa sama Siska."


Beberapa dari mereka tertawa sampai akhirnya Siska membuka suara. Aku tau itu dia, karena hanya dia satu-satunya wanita di antara para pengunjung.


"Mau ada apa-apa juga ngga apa-apa Pak, saya malah seneng."


Tawa kembali menggema. Aku menggenggam erat tanganku untuk menahan emosi yang sekarang sudah memenuhi kepala.


Kalian tau? Perselingkuhan bisa terjadi bukan hanya karena ada kesempatan, tapi juga dukungan dari orang-orang sekitar. Yang aku herankan, mereka mendukung hal tersebut seolah-olah hal tersebut wajar dan tidak menyalahi aturan. Dari situ aku bisa mengambil kesimpulan. Orang yang mendukung orang lain dalam suatu kesalahan sebenarnya juga melakukan hal yang sama. Seperti itulah setan, saling mendukung dalam perbuatan dosa.


Aku mundur beberapa langkah menjauhi pintu. Dengan langkah yang sengaja kubuat berisik, aku kembali mendekati pintu ruangan suamiku dirawat. Benar dugaanku, mereka dengan sangat lihainya mengubah arah pembicaraan.


Butuh waktu sampai setengah jam kemudian hingga akhirnya mereka berpamitan.


***


[Pak, besok saya ke rumah sakit lagi ya?]


Pesan tersebut ternyata dari Siska. Mas Yandri menceritakan pembicaraan saat sore tadi aku keluar untuk membeli obat. Sampai sejauh ini, aku masih meletakkan kepercayaanku pada suamiku tersebut.


"Neng yang bales ajalah."


Aku mengangguk dan mulai mengetik.


[Hai Siska, maaf sebelumnya. Ini istri Pak Yandri. Ada kepentingan kantor kah?]


Cukup lama Siska membalas pesanku. Padahal ia sudah membacanya langsung sesaat setelah pesan terkirim.


[Maaf Bu, saya kira Pak Yandri yang pegang ponselnya.]

__ADS_1


[Oh ngga, ini saya pegang, karena Pak Yandri sendiri yang kasih ke saya]


Lama lagi sebelum pesan darinya masuk.


[Oke Bu, maaf mengganggu.]


***


"Jadi bener Siska punya perasaan khusus sama Mas?"


Aku bertanya saat Mas Yandri baru saja meminum obatnya.


"Kayanya gitu Neng. mas tadinya biasa aja tapi lama-lama kok risih ya."


Aku tersenyum sinis.


"Risih tapi suka kan?" tanyaku tanpa ampun


Mas Yandri menatapku lekat.


"Setelah Mas waktu itu mengantar Siska, Siska masih sering meminta Mas untuk ikut menebeng. Tapi ngga pernah Mas ijinkan. Beberapa karyawan yang tau seperti mendukung Siska. Terlihat jelas dari celetukan-celetukan mereka."


Aku menghembuskan nafas pelan.


"Mas harus gimana, Neng?" tanya Mas Yandri lagi.


"Mas harus tegas. Harus tegas menolak. Jangan sampai terbawa arus omongan-omongan orang kantor.


Mas kan disitu pimpinan tertinggi. Mas bisa bersikap tegas dan keras jika diperlukan.

__ADS_1


Jujur aja ya Mas, Neng ga mau masalah ini makin berlarut-larut. Mas harus kasih sikap yang tegas atau Neng yang bakal turun tangan. Dan Mas tau sendiri, jika Neng udah turun tangan, ga akan ada yang bisa menghentikan Neng." Aku menatap matanya tajam.


__ADS_2