Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku

Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku
Episode 46


__ADS_3

"Beberapa keputusan bercerai dengan motif ekonomi yang datang dari pihak para istri itu bukan karena mereka tidak mau hidup susah, tapi karena mereka beralih peran. Dari tulang rusuk menjadi tulang punggung dan masih juga dituntut untuk mengerti." - Author


***


Sehabis makan malam dan setelah Dre tidur, aku dan Mas Yandri kembali membicarakan masalah yang menimpa kami.


"Kita harus keluar dari rumah ini, Mas?"


Mas Yandri menggeleng. "Ngga sekarang, Neng. Sisa waktu rumah ini masih ada 6 bulan lagi. Kita masih bisa tinggal disini sampai waktunya habis. Untuk mobil, karena itu inventaris kantor, secepatnya harus Mas kembalikan setelah ada instruksi dari pusat. Mas juga harus mendata beberapa inventaris lain yang dipakai karyawan sekalian bikin laporan serah terimanya."


"Kalau mobil dikembaliin, kita ngga ada kendaraan berarti ya?" tanyaku lagi.


"Mas dapet uang pesangon plus uang tanda terima kasih, tapi belum tau berapa. Menurut kamu, kita beli mobil bekas atau motor aja ya, Neng?


Aku diam sejenak. "Belum tau Mas, kan belum tau dapetnya berapa."


"Saran Neng mah kita beli motor bekas aja. Kalau mobil kan biaya hariannya lumayan. Paling tepat ya motor. Bekas tapi cash, biar kita ngga pusing mikirin cicilannya."


Mas Yandri mengangguk mengiyakan. Kami memutuskan untuk bertahan di kota ini, dan sementara terus tinggal dirumah ini. Kami belum memberitahukan kabar ini pada ibu. Sebisa mungkin kami akan berusaha mengatasi masalah ini tanpa campur tangan keluarga. Bukannya apa-apa. Walaupun keluarga, mereka juga pasti memiliki permasalahan sendiri. Entah jika suatu saat kami tidak bisa bangkit lagi.


Hampir tengah malam saat kami beranjak untuk masuk ke kamar.


***


Mama menelepon rutin untuk menanyakan kabar kami. Aku rasa ini bukan sekedar kebetulan. Ikatan batin seorang ibu akan terus tersambung walaupun anak sudah dewasa dan terpisah sejauh ratusan kilometer.


"Ada sesuatu Teh?" tanya mama.


"Ngga Mah, ngga ada apa-apa kok. Semua aman terkendali," ucapku lirih.

__ADS_1


"Oh ya udah atuh."


Kami membicarakan hal yang ringan Dari mulai tumbuh kembang Dre sampai ke kabar tetanggaku.


"Udah dulu ya Teh, Mama mau keluar dulu sebentar, ada perlu. Assalamualaikum."


"Iya mah, hati-hati. Waalaikumsalam.


Aku meletakkan ponselku dan bergegas menuju dapur untuk melihat stok sayuran. Mas Yandri sedang ke kantor untuk menyampaikan perihal inventaris kantor yang harus dikembalikan para karyawan.


Aku memutuskan memasak dengan stok yang ada di kulkas. Uang belanja yang kupegang sudah menipis karena gajian masih 3 hari lagi. Gaji terakhir Mas Yandri dari perusahaan. Kami memang punya tabungan, tapi sebisa mungkin untuk sekarang tidak akan kami ganggu. Karena jujur saja, akupun belum tau bagaimana cara untuk bertahan kedepannya.


Ting!


Ponselku berbunyi. Dari jendela notifkasi aku melihat mama mengirim pesan.


Aku menangis saat melihat foto yang dikirimkan mama. Sebuah tanda bukti transfer dengan nominal sepuluh juta rupiah.


***


Mas Yandri baru saja selesai makan dan sedang bermain dengan Dre. Siang ini cuaca cukup mendung. Setelah membereskan meja makan, aku menghampiri mereka berdua.


"Neng dapet kiriman dari mama," aku memberitahu Mas Yandri seraya menyerahkan ponselku.


Aku tidak mau dia salah paham. Dalam kondisi seperti ini, orang bisa berubah sangat sensitif. Aku tidak mau ia mengira jika aku mengadu pada mama. Aku paham, dan aku juga berusaha menjaga harga dirinya di mata keluargaku.


"Alhamdulillah. Bener berarti ya Neng, ikatan batin ibu sama anak tuh ada," ucap Mas Yandri.


Aku hanya tersenyum mengangguk. Kami main bertiga sampai Dre terlihat mengantuk. Mas Yandri membawanya ke kamar dan ikut beristirahat.

__ADS_1


Tok tok tok!


"Assalamualaikum, Re," suara Bu Jejen terdengar.


Aku bergegas membuka pintu, ternyata bukan hanya Bu Jejen. Ada juga Bu Indah.


"Waalaikumsalam, masuk bu. Bentar ya, saya buat es sirop dulu." Aku bermaksud untuk ke dapur saat Bu Jejen menahan tanganku.


"Ngga usah Re, kami ngga lama."


Aku mengerutkan dahi dan heran melihat keduanya. Keduanya membawa kantong plastik besar yang aku tidak tau apa isinya.


"Emang Ibu ngga haus? Abis pada belanja kan? Es sirop seger loh bu," aku menggoda Bu Jejen.


Diluar dugaan, Bu Jejen malah menggeleng dan menarik tanganku untuk ikut duduk.


"Maaf kalau kami lancang ya Neng Rere. Kami ngga bermaksud merendahkan. Ini ada sedikit dari kami. Semoga bermanfaat buat Neng Rere dan keluarga," Bu Indah berkata panjang lebar.


"Emang ada apaan sih Bu?" tanyaku penasaran.


"Mbak Tinah kemarin mampir ke warung. Kami heran karena biasanya jam segitu, dia lagi kerja disini. Tapi, kata Mbak Tinah, dia udah berhenti kerja. Katanya, Neng Rere dan Pak Yandri sedang dalam kondisi yang kurang baik walaupun Mbak Tinah juga ngga tau persis karena Pak Yandri terlihat selalu berada di rumah. Makanya hari ini saya dan Bu Jejen mampir. Membawa beberapa sembako untuk Neng Rere. Jangan tersinggung ya, ini tanda sayang kami."


Mataku pasti berembun karena Bu Jejen berkata, "Jangan sedih Re, kalau kamu butuh sesuatu, bisa bilang ke saya atau ke Bu Indah."


Aku mengangguk mengiyakan dengan perasaan yang tidak bisa kupahami.


***


Kebaikan akan kembali dalam bentuk kebaikan pula, walaupun tidak secara cepat. Kebaikan akan datang tepat disaat manusia butuh sandaran setelah berperang melawan banyak masalah dan tepat saat dibutuhkan.

__ADS_1


__ADS_2