
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." ( Al-Insyirah : 5-6 )
***
Mas Yandri keluar untuk mencari kamar kosong dan mendaftarkan Dre sebagai pasien rawat inap. Aku mengingat percakapan kami sesaat setelah dokter selesai memeriksa Dre.
"Kalau di kamar kelas 3 ngga apa-apa ya Neng?" tanya Mas Yandri. "Takutnya uang di tabungan kita ngga cukup."
"Iya Mas, ngga apa-apa. Yang penting Dre sehat," aku tersenyum mengerti.
***
Tidak lama menunggu, Mas Yandri kembali.
"Alhamdulillah Neng, ternyata asuransi masih aktif, masih bisa dipake. Dan berdasarkan limit dari asuransi, kata petugasnya tadi, kita dapat kamar VIP."
Mataku mengembun mendengar ucapan Mas Yandri. Banyak kemudahan yang kuterima membuatku bersyukur dan terharu. Allah Maha Pengasih dan Penyayang.
"Alhamdulillah," aku tidak bisa berkata-kata lagi.
***
Suster menghampiri kami dengan beberapa kertas di tangannya dan mendorong kursi roda. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 2 dinihari.
"Adeknya di pangku ya bu, ibu duduk di kursi roda."
Aku langsung mengangkat Dre, sedangkan suster mematikan aliran infus. Setelah aku duduk, suster mendorongku dan kami meninggalkan ruang IGD menuju ke kamar perawatan.
__ADS_1
***
Suster berpamitan pada kami setelah serah terima berkas kepada suster yang berjaga.
"Terima kasih suster, atas bantuannya." Suster itu tersenyum mengangguk dan keluar ruangan.
Ruang perawatan Vip anak-anak tidak sebesar ruang perawatan orang dewasa. Ada sofa panjang yang bisa dibuka menjadi tempat tidur, dispenser, kulkas kecil, serta meja.
"Neng sana istirahat dulu mumpung Dre tidur. Mas besok pulang buat ambil baju ganti."
Aku mengangguk dan berdiri untuk ke kamar mandi saat pintu diketuk.
Tok tok tok!
"Permisi." Suster yang berjaga masuk ke dalam ruangan dengan membawa segelas teh dan sebotol air mineral.
Aku terharu. Sungguh. Aku kuat jika menghadapi perlakuan yang tidak menyenangkan. Tapi, jika mendapat perlakuan yang seperti ini, aku lemah.
Banyak sekali orang-orang baik di dunia ini. Jika kalian tidak bisa menemukannya, jadilah salah satu bagian dari mereka.
***
Setelah langit terang, Mas Yandri pulang untuk membawa baju ganti milikku dan beberapa perlengkapam Dre. Dre sendiri tidak perlu membawa baju ganti. Tadi, tepat jam 6, suster datang untuk membersihkan tubuh Dre dan memberi pakaian khusus pasien.
"Nanti Mas mampir ke ibu sebentar ya. Sekalian ngasih tau, nanti ibu ngamuk kalo sampe ngga tau. Kamu butuh apalagi Neng? Kalau banyak mending ditulis aja terus kirim ke WA Mas, biar Mas juga ngga lupa."
Aku memikirkan barang yang akan diambil seraya mengetikkannya di ponsel. Tidak lupa aku memfoto Dre dan mengabarkan pada mama. Pesanku sudah diterima tapi belum dibaca. Biasanya jam segini, mama sedang berjalan pagi sekalian ke tukang sayur.
__ADS_1
***
Dokter mengunjungi Dre dan membawa hasil lab darah.
"Ini dehidrasi, selain itu ada infeksi ya karena Leukositnya cukup tinggi. Besar kemungkinan di pencernaannya. Nanti saya akan kasih antibiotik untuk terapinya."
Aku mengucapkan terima kasih pada dokter perempuan yang ramah itu. Setelah dokter pergi, aku mengambil ponselku. Banyak notifikasi masuk di aplikasi WA. Kebanyakan dari tetanggaku dan menanyakan kabar Dre. Selain itu mereka juga menanyakan jika ada bantuan yang bisa mereka lakukan serta barang-barang yang kubutuhkan.
Pesan untuk mama juga sudah dibaca. Dan benar saja, tidak lama kemudian ponselku bergetar tanda masuknya video panggilan dari beliau.
***
Mas Yandri tiba saat hampir menjelang dhuhur dengan banyak kantung plastik.
"Ibu bawain buat makan siang, ada cemilan juga sama roti. Yang lain dari Bu Jejen dan kawan-kawan. Tadi pas pulang, Mas cerita kalau Dre dirawat."
Aku membuka satu persatu kantung plastik dan tertegun melihat isinya. Berbagai macam makanan, minuman ada disana.
"Ini, dari Ibu." Mas Yandri memberikan sebuah amplop coklat yang sudah bisa kuterka isinya.
"Nanti sore Ibu ke sini, nunggu Lita pulang kuliah. Mungkin para tetangga juga akan ke sini Neng, soalnya mereka maksa Mas buat ngasih tau di ruang mana Dre dirawat.
"Iya Mas. Sekarang Mas makan dulu ya, ini Ibu bawain banyak lauk sama Nasi." Aku menyiapkan makan untuk Mas Yandri.
"Kamu juga belum makan 'kan Neng, makan bareng ayo?"
Aku menggeleng, "Neng masih kenyang. Tadi ngabisin sarapan Dre dari rumah sakit sama makan snack juga."
__ADS_1
Aku melanjutkan aktifitas merapikan pemberian makanan dari Ibu dan tetangga, sedangkan Mas Yandri sedang menikmati makan siangnya tepat di sebelah Dre yang sedang tidur.