Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku

Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku
Episode 21


__ADS_3

Aku sedang duduk dan memakan gorengan di warung Bu Indah saat Bu Jejen dan gengnya mendekat. Begitu melihatku, mereka bertiga sempat menghentikan langkah. Aku pikir mereka akan membalikkan badan, nyatanya mereka tetap mendekat.


Ada sesuatu yang harus kuperiksa, dan aku bertekad untuk mendapatkan jawabannya hari ini juga.


"Eh ada Bu Jejen, Bu Mumun dan Bu Romlah. Tumben baru keliatan nih." Aku tersenyum ke arah mereka.


Bu Jejen mendelik dan mencebikkan bibirnya.


"Halah, kamu itu yang jarang keluar rumah! Jelas aja baru ngeliat kita-kita!"


"Eh Bu Jejen, mau tau ngga?" ucapku dengan nada yang membuat penasaran.


"Apaan?! Kamu mah senengnya main tebak-tebakan mulu! Tinggal cerita aja apa susahnya sih?!"


"Saya dapet kiriman paket dari mama saya loh. Isinya makanan, banyak banget."


Selama berbicara, aku mengamati tingkah Bu Mumun dan Bu Romlah. Mereka berdua hanya diam menyimak sembari memakan gorengan.


"Makanan apaan? Kamu tuh kalo cerita-cerita tentang makanan, mending bawain sekalian deh, kali saya bisa nyoba!"


Aku tergelak.


"Iya tenang, nanti saya bawain buat Bu Jejen deh. Kan Bu Jejen forever saya."


"Forever? Besti?" tanyanya penasaran.


"No, rival." Aku mengakak dan kemudian bangkit membayar gorengan yang sudah kumakan.


"Nanti sore kumpul disini lagi yak, saya bawa cemilannya," ucapku seraya berjalan pulang.


***


"Sini-sini kumpul," aku berkata agak kencang untuk memancing perhatian para ibu-ibu. Tidak lupa aku membawa beberapa cemilan favorit yang aku beli secara online dan juga sisa coklat kiriman dari tanteku.


"Ini cemilan khusus hari ini, silakan dicobain Bu Jejen," aku berkata pada beliau.


Bu Jejen menerima pemberianku dengan senyum sumringah.


"Kamu dapet kiriman dari mana ini Re? Enak loh ini coklatnya."

__ADS_1


Aku tersenyum semanis mungkin. Para ibu-ibu lain sudah mengerubungi tempatku duduk dan juga mulai memakan cemilan.


Coklat yang dimakan Bu Jejen adalah kiriman dari tanteku yang tinggal di Qatar. Adik papaku itu mengirimkan banyak coklat kesukaanku segera setelah mengetahui kabar aku hamil.


"Itu kiriman dari mama saya bu. Coklat luar negeri loh itu. Dari Qatar. Tuh liat tulisannya aja tulisan arab kan?"


Bu Jejen mengangguk-anggukkan kepala sambil terus memakan coklat tersebut.


"Mama kamu tinggal di Qatar ya Neng?"


"Di Qatar kerja?"


"Kamu sering ke Qatar ngga Neng?"


Banyak pertanyaan yang bernada keingintahuan dari para ibu-ibu yang mengerubungi. Aku hanya tertawa dan menunggu.


"Saya sering sih dapet kiriman cemilan dari mama. Nanti kalau dikirim lagi, saya bagiin lagi deh disini." ucapku masih tersenyum.


"Halah, tukang bohong! Orang itu kiriman dari Bandung kok!"


Skak! Wow, aku cukup terkejut mendengar perkataan itu keluar dari mulut seorang ibu yang tidak pernah akan kusangka.


***


"Besok-besok kalau dapet kiriman dari Qatar lagi, saya dibagi ya! Mayan bisa buat pamer di status WA!" Bu Jejen beranjak untuk bersiap pulang ke rumahnya.


Aku menunggu sampai warung cukup sepi. Saat melihat targetku sudah akan meninggalkan warung, aku bergegas memanggilnya.


"Bu Mumun, sini bentar deh."


Dengan muka jutek Bu Mumun mendekatiku.


"Apaan lagi sih Re? Saya kan mau pulang! Ga usah sok akrab sama saya deh."


Aku tersenyum dan melipat tanganku di dada.


"Bu Mumun 'kan, orang yang udah mengacak-acak paket saya?"


Wajah dihadapanku langsung terlihat pucat, tapi hanya sebentar karena detik berikutnya dia mulai marah.

__ADS_1


"Ga sopan! Kamu nuduh saya?! Kamu punya bukti apa?!"


Bu Indah selaku pemilik warung hampir beranjak ke dalam rumah saat aku berkata padanya.


"Temenin saya di sini, Bu Indah."


Bu Indah menganggukkan kepalanya dan kembali duduk.


"Saya bisa laporin kamu kalau kamu nuduh saya tanpa bukti." Suara Bu Mumun terdengar penuh dengan emosi.


"Ada seseorang yang liat Ibu waktu beliau kebetulan keluar buat beli martabak."


Wajah wanita dihadapanku sudah merah sepenuhnya, nafasnya juga ngos-ngosan karena menahan amarah.


"Kamu mau mancing saya kan?! Kamu pikir saya bodoh?! Mana ada orang yang keluar beli martabak subuh-subuh!!"


Dua skak! Wow. Sumpah, aku tidak habis pikir.


"Subuh? Ibu ngapain di luar rumah subuh-subuh?"


Pertanyaanku membuatnya gelagapan


"Ibu juga satu-satunya orang yang tau kalau paket itu kiriman dari Bandung, disaat ibu-ibu yang lain percaya jika itu kiriman dari Qatar. "


Hening beberapa saat.


"Maaf...." suara lirih terdengar dari mulutnya.


"Entah maksud Ibu apa dengan berbuat seperti itu. Tapi tolong, lain kali jangan di ulang."


Bu Mumun menundukkan wajahnya.


"Maaf Re, saya khilaf. Tolong jangan bilang ke ibu-ibu yang lain."


Aku menghela nafas. Bu Mumun lebih takut akan penilaian dan tekanan dari ibu-ibu lain daripada dosa karena sudah berbuat hal yang tidak baik kepadaku.


"Asal kejadian ini merupakan yang pertama dan terakhir kali. Kalau ibu masih mengganggu saya, akan saya ceritakan kelakuan ibu yang sebenarnya. Bu Indah saksinya, ya 'kan Bu?" Aku menengok ke arah Bu Indah yang setia menyimak jalan cerita dari awal sampai akhir.


Bu Indah mengangguk.

__ADS_1


"Maaf ya Re," Bu Mumun menatapku sesaat dan membalikkan badannya keluar dari warung.


Akupun pamit pada Bu Indah dan melangkahkan kaki menuju rumah.


__ADS_2