Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku

Wahai Suami, Jika Pahalamu Ada Pada Ibumu Maka Dosamu Ada Padaku
Episode 22


__ADS_3

Semakin membesar kandunganku semakin berkurang juga penyiksaan mual muntah yang aku alami. Sekarang aku bisa makan apapun tanpa harus khawatir akan keluar lagi.


Rumah baru kami sudah dalam proses akhir finishing. Sebenarnya sudah bisa ditempati jika kami mau. Namun, Mas Yandri menunda karena ia ingin semuanya sudah benar-benar siap saat kami pindah nanti.


Hari ini Mas Yandri libur, dan kami sedang merencanakan di mana aku akan melahirkan.


"Neng, mau pulang ke Mama atau ke Ibu? Biar pas nanti udah lahiran, ada yang bantu-bantu kamu."


Aku terdiam sejenak dan meminum susu sampai habis.


"Nggalah Mas, Neng disini aja sama Mas. Kalau masalah bantu-bantu setelah melahirkan, kan nanti biasanya dari rumah bersalin suka ada yang dateng ke rumah untuk ngasi tau cara ngerawat bayi baru lahir. Untuk kerjaan rumah juga bisa nyari orang buat bantuin Neng. Yang dateng pagi pulang sore gitu Mas."


Mas Yandri terlihat keberatan dengan keinginanku.


"Mas, Neng itu seorang istri. Ga ada dalam kamus Neng untuk ninggalin Mas apapun kondisinya. Sesulit apapun itu untuk Neng. Selain itu, Neng juga akan menjadi seorang ibu. Neng pengen ngerasain gimana cara belajar ngurus anak Neng sendiri tanpa campur tangan orang lain. Jangan bilang Neng keras kepala ya Mas. Ini udah jadi keputusan Neng."


"Kalau Mas takut Neng kerepotan, Mas ga usah khawatir. Toh Mas juga sering banget bantuin Neng ngurus rumah. Sama halnya nanti dalam urusan ngurus anak. Kita yang harus bekerjasama. Karena apa, karena itu anak kita." Aku menjelaskan panjang lebar sebelum Mas Yandri mengutarakan keberatannya.


"Sebisa mungkin Neng ngga mau ada intervensi dari manapun dan dari siapapun untuk masalah ini."


Mas Yandri menghembuskan nafas panjang. Dari wajahnya terlihat jika ia tidak bisa menolak keinginanku.

__ADS_1


***


Bu Jejen sudah tidak terlalu menggangguku. Entahlah, mungkin karena aku sering membagi cemilan padanya. Sikapnya padaku pun semakin hari semakin baik. Hanya saja, Bu Mumun yang sekarang menjaga jarak denganku. Ia terlihat kikuk jika berpapasan denganku dijalan secara tidak sengaja.


"Eh Re, kamu nanti lahiran dimana?" tanya Bu Jejen saat kami sedang memilih sayuran.


"Disini kayanya bu, saya mau kemana lagi emang? Suami saya kan disini."


Bu Jejen mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Saya kira kamu bakal pulang kampung. Kan kamu disini ga ada sanak sodara, barangkali nanti kerepotan"


Di luar dugaanku beliau mengangguk.


"Iya boleh. Kalau sekiranya kamu butuh bantuan, bisa bilang ke saya kok."


"Iya bu, terima kasih. Mohon bantuannya nanti ya."


Begitulah sifat manusia. Terkadang pepatah yang berbunyi tak kenal maka tak sayang benar adanya.


Manusia makhluk yang istimewa. Mereka tidak akan selamanya berbuat buruk atau selamanya berbuat baik. Perlakuan mereka pada kita juga tergantung dari bagaimana kita memperlakukan mereka.

__ADS_1


Jika dari awal aku terus-terusan diam, mungkin saja Bu Jejen akan terus-terusan juga menggangguku. Tapi tidak, aku berbuat baik pada beliau walaupun sebenarnya jika mengikuti adatku, aku akan membalasnya berkali lipat. Tapi lagi-lagi aku teringat pesan mama.


"Kalau Teteh membalas perbuatan buruk seseorang dengan perbuatan buruk lagi, itu sudah sangat biasa.


Yang luar biasa itu, jika Teteh mendapat perlakuan buruk tapi teteh membalas dengan perbuatan baik. Tapi satu yang harus Teteh ingat, tetap pegang teguh prinsip bahwa harga diri harus diutamakan.


Teteh harus mengambil sikap tegas disaat Teteh sudah membalas dengan perbuatan baik tapi perlakuan yang Teteh terima tetap buruk. Jika sudah seperti itu, membela diri itu harus. Untuk menunjukkan jika kita pribadi yang tidak bisa ditindas."


***


Aku dan Mas Yandri baru saja pulang dari rumah bersalin dekat rumah. Kami melakukan pemeriksaan rutin kehamilan dan juga mulai melihat-lihat kamar perawatan. Di rumah bersalin tersebut selain bidan, ada juga dokter kandungan yang rutin berjaga. Ini bertujuan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, pihak rumah bersalin bisa dengan cepat mengambil tindakan.


Posisi janinku masih melintang, bidan menyarankanku untuk banyak bersujud dengan dada menempel lantai. Selain hal itu, kondisi air ketuban dan plasenta, semua dalam keadaan normal.


***


Mama menelpon untuk menanyakan kabarku. Aku menceritakan pada beliau jika semua baik-baik saja. Aku juga bercerita jika banyak tetanggaku yang memberitahukan pantangan-pantangan ibu hamil dari sisi mitos. Salah satunya penggunaan gunting kecil yang wajib dibawa kemana-mana.


"Kalau Teteh mau ngikutin kata orang tua jaman dulu silakan, kalau ngga juga silakan. Senyamannya Teteh aja. Tapi jangan nanggung. Kalau mitos mau dipake, pake sekalian. Kalau ngga, ngga sekalian.


Dan jangan lupa juga. Di mana tanah dipijak disitu pula langit dijunjung. Teteh harus memahami tradisi dan kebiasaan di suatu tempat. Jikapun menolak, gunakan sikap dan bahasa yang santun."

__ADS_1


__ADS_2