
Mas Yandri tiba di rumah menjelang sore. Saat ia datang, aku baru saja memandikan Dre. Setelah memakaikan baju, aku ke dapur untuk mengambilkan air putih dingin. "Langsung makan, Mas?"
Mas Yandri menggeleng dan meminum airnya sampai habis. "Mau mandi dulu bentar Neng, Mas masih kenyang, tadi sempet makan dulu di jalan."
Aku mengangguk mengiyakan.
***
"Neng, kenapa Neng bawain semua uang sisa tabungan kita? Mas kaget waktu di jalan ngeliat dompet, kan Mas bilang sisanya kita bagi dua buat pegangan Mas sama pegangan Neng di sini." Mas Yandri bertanya padaku setelah ia mandi. Kami sedang duduk di sofa memperhatikan Dre yang sedang bermain.
"Mas, Neng di sini juga masih pegang sisa uang jualan. Lagipula Neng pikir, Mas lebih butuh. Mas pergi jauh, semisal Mas ada keperluan mendadak di Jakarta dan uang Mas habis, Mas mau gimana? Neng di sini aman kok, ada ibu, ada tetangga juga yang bisa dimintain tolong," aku berkata santai.
"Jadi gimana?" lanjutku penasaran.
Mas Yandri menatapku lama. "Alhamdulillah Neng, Mas diterima."
Aku segera menjatuhkan badanku ke lantai dan melakukan sujud syukur.
"Alhamdulillah, beneran Mas?" Aku menatapnya setelah kembali duduk di sofa.
"Iya Neng, ternyata perusahaan ini tuh perusahaan yang mengakuisisi perusahaan Mas yang lama karena pailit. Beberapa karyawan yang di phk dipanggil kembali untuk bergabung sama mereka. Ternyata mereka mengevaluasi hasil kerja Mas selama ini dan menawarkan posisi yang lebih tinggi. Mas juga akan di tempatkan di kantor pusat. Sebentar Neng," Mas Yandri mengambil tas ranselnya dan mengeluarkan beberapa beberapa kertas.
Aku tertegun membaca kertas-kertas yang diberikan Mas Yandri.
"Neng ngga nyangka Mas, bisa kaya gini."
Mas Yandri terkekeh, "Jangankan Neng, Mas juga ngga nyangka. Jadi perusahaan ini tuh perusahaan luar. Dan mereka butuh orang-orang yang kompetibel di bidang ini. Daripada mereka coba-coba membuka lowongan pekerjaan lagi untuk orang yang belum jelas kemampuannya, mereka lebih memilih memanggil orang lama untuk kembali bekerja dan menduduki posisi yang lumayan."
Aku kembali melihat rincian gaji dan fasilitas yang ditawarkan, saat Mas Yandri berkata,
"Bener ya Neng, Allah memberikan hal yang lebih baik, walaupun awalnya Mas ngerasa ngga adil, tapi Allah menggantinya dengan sesuatu yang indah jika sudah saatnya."
Aku menangis, menangis terharu akan semua kebaikan yang Allah berikan. Aku merasa tidak pantas. Aku biasa-biasa dalam masalah ibadah. Tapi Allah tetap memberikan hal-hal terbaik pada kami sekeluarga.
"Jadi, kita pindah ke Jakarta, Mas?" tanyaku dengan suara parau.
"Iya Neng, terhitung tanggal 10 bulan depan, Mas sudah harus masuk. Kita harus berkemas dari sekarang," jawab Mas Yandri.
Aku mengangguk, "Iya Mas, nanti Neng mulai berkemas. Jadi kita berhenti jualan ayam bakar?"
__ADS_1
"Iya Neng, kita berhenti. Harus siap-siap dari sekarang 'kan? Nanti bilang ke bu rt tentang hal ini. Sekalian juga tawarin itu perlengkapan jualan ayam bakar. Bisa buat pegangan sampai nanti Mas gajian. Mas juga mau ngejual motor. Nanti Mas coba tawarin ke bapak-bapak sini, barangkali ada yang berminat," jelas Mas Yandri panjang lebar.
***
"Alhamdulillah Bu Rere, jadi Pak Yandri sudah dapet kerjaan? Alhamdulillah, saya ikut seneng dengernya." Bu rt berkata lirih. Aku bisa melihat jika matanya mulai mengembun.
"Iya Bu, makanya saya mau bilang sama Ibu, kalau kami berhenti jualan ayam bakar. Terima kasih atas bantuan dan ilmunya yang sangat bermanfaat ya Bu," aku memeluk Bu rt.
"Selain itu, saya juga mau ngejual perlengkapan jualan. Barangkali ibu tau kalau ada orang yang butuh, kabarin saya ya Bu?"
"Kebetulan banget Bu Rere. Bu Rere inget waktu keluarga saya ada yang dateng malam-malam ke sini, yang waktu saya pesen ayam bakar ke ibu?" tanya bu rt.
Aku mengangguk, "Kenapa Bu?"
"Nah, sepupu saya itu tertarik untuk ikut jualan, karena mereka tau kalau orang tua saya juga dulu jualan ayam bakar ini. Dan kebetulan juga, kedatangannya malam itu ke sini karena dia sekeluarga pindah ke kota ini karena suaminya pindah tugas. Nanti saya coba tawarkan ke dia ya, semoga ini jadi jalan keluar yang baik untuk Bu Rere dan sepupu saya." Bu rt berkata panjang lebar.
"Aamiin," ucapku lirih.
Sungguh, aku sangat bersyukur karena sampai detik ini Allah mempermudah jalan kami.
***
"Ibu juga sudah memisahkan untuk biaya kuliah Lita. Rencananya setelah Lita lulus, kami akan kembali ke Bandung, Re."
Aku menatap ibu dalam diam.
"Ambil!" Ibu mertua mengambil tanganku dan meletakkan uang yang tadi dipegangnya.
"Ibu ngga mau ditolak, ngga mau dibantah! Kalian butuh ini untuk pegangan sampai nanti Yandri gajian."
Aku menunduk, "Maaf bu, kami selalu menyusahkan," ucapku lirih.
"Sekali lagi ngomong kaya gitu, Ibu tapok mulut kamu Re! Ibu ngga akan diem aja ngeliat kalian susah! Kalau kalian ngerasa ngga enak, bangun! Bangun dan bangkit! Tunjukin ke ibu jika kalian bisa kembali mandiri! Jangan terus-terusan sedih dan ngerasa ngga enak! Ibu yang akan nyesel seumur hidup kalau ngga bisa ngelakuin apa-apa di saat kalian butuh bantuan! Ngerti kamu!?"
Aku mengangguk, "Iya ibu mertua paduka ratu, Neng ngerti," aku tersenyum pada beliau.
***
Aku berada dalam mobil yang akan membawaku, Mas Yandri dan Dre ke bandara. Sepanjang jalan, ingatanku kembali ke saat pertama kali menginjakkan kakiku di Bumi Lancang Kuning ini. Di kota ini aku menemukan orang-orang yang sudah kuanggap seperti keluarga. Di kota ini aku mendapat pelajaran berharga untuk selalu bersyukur sekalipun sedang dalam posisi dibawah. Dan di kota ini, aku mendapatkan Dre.
__ADS_1
***
"Terima kasih banyak ya ibu-ibu, sudah menerima saya dan keluarga dengan sangat baik disini. Sudah membantu saya tanpa pamrih, dan sudah menyayangi saya layaknya keluarga," aku berpamitan pada ibu-ibu di warung Bu Indah.
Bu Jejen dan gengnya serta semua yang hadir menangis.
"Terima kasih banyak atas semua kebaikannya. Saya tidak bisa membalasnya dengan hal serupa, semoga Allah yang membalas kebaikan ibu-ibu semua berkali lipat.
Maafkan kalau saya banyak salah. Maafkan atas semua perkataan yang menyinggung."
Aku menangis di antara para orang-orang baik yang Allah hadirkan di sekitarku.
"Neng, sering-sering kirim kabar ya. Ibu pasti bakal kangen sama Neng, apalagi sama Dre." Bu Indah terisak seraya memeluk anakku.
"Kalau ada umur panjang dan rejeki, tengok kami di sini ya Re," ucap Bu Jejen.
"Jangan sedih-sedih lagi ya. Semoga sehat seterusnya, berkah di tempat yang baru."
Aku mengangguk, mencium tangan dan memeluk satu persatu ibu-ibu yang hadir disana.
***
Beberapa tetanggaku datang bergantian disaat aku sedang mengemas pakaian. Mereka membawakan buah tangan untuk kami. Ucapan mereka teruntai dalam sebaris doa yang ku Aamiinkan. Aku juga mendoakan hal yang sama untuk mereka.
***
"Ngga nyangka ya Neng, kita harus pindah dari kota ini." Mas Yandri membuka suara setelah sekian lama diam. Sepertinya ia juga sedang memutar kenangan akan kota ini.
"Iya Mas. Ngga pernah Neng sangka, kita akan pindah ke kota ini dan sekarang kita harus pindah dari kota ini. Kota ini ngasih banyak banget memori indah buat Neng. Suatu saat nanti, entah kapan, kalau Allah mengijinkan, Neng akan kembali lagi ke sini."
Mas Yandri mengangguk.
***
Panggilan untuk memasuki ruang tunggu khusus penumpang sudah terdengar. Aku berdiri menggandeng Dre mengikuti langkah Mas Yandri. Setelah pemeriksaan tiket dan barang-barang yang dibawa, kami kembali menunggu sebentar untuk siap memasuki pesawat.
Pesawat perlahan melaju, awalnya pelan hingga kemudian dengan kecepatan penuh sedikit demi sedikit mengudara. Aku melihat dari jendela jika semakin lama rumah-rumah dan jalan raya semakin mengecil hingga posisiku sejajar dengan awan-awan.
'Terima kasih Bumi Lancang Kuning, atas semua pengalaman berharganya. Sampai bertemu lagi suatu saat nanti,' aku berucap haru dalam hati.
__ADS_1