WANITA CEO TAMPAN

WANITA CEO TAMPAN
PANGERAN TAMPAN


__ADS_3

Geof terus mendekatkan wajahnya pada Merta. Ia menempelkan bibirnya pada bibir merta yang sedang tertidur pulas . Saat mengecup bibirnya, tiba-tiba tangan Merta merangkul leher Geof yang membuatnya sedikit kaget.


"Pangeran, kau sangat tampan!" Racau Merta dalam tidurnya.


Geof berhenti mencium Merta dan menatapnya.


"Pangeran, cium aku lagi." Racau Merta lagi dalam igaunya.


"Hehehe, kau yang minta, Merta!" Gumam Geof sambil terkekeh licik.


Geof pun kembali melancarkan aksinya lagi. Ia mengambil kesempatan untuk melakukan keinginannya terhadap Merta di saat Merta sedang mengigau. Lalu tiba-tiba Merta membuka kedua matanya dan saling menatap dengan Geof, namun saat itu ternyata Merta masih belum sepenuhnya sadar.


"Pangeran, kau sangat tampan." Ucap Merta belum menyadari apapun.


Geof tersenyum licik pada Merta.


"Pangeran, kenapa wajahmu berubah menjadi pria yang menyebalkan itu?" Tanya Merta kebingungan.


"Siapa pria yang menyebalkan itu?" tanya Geof.


"Geof!" Jawab Merta.


Lalu Merta melebarkan matanya dan kaget. Sontak saja Merta langsung mendorong tubuh Geof yang masih mendekapnya dengan erat. Akibat dorongan Merta yang terlalu kencang, Geof jatuh dari sofa dan terduduk di lantai. Merta semakin kaget karena Geof jatuh ke lantai karena perbuatannya.


"Kenapa kau mendorongku, hah?" Teriak Geof kesal.


Merta bangkit dari sofa dan berdiri menghadap Geof. Merta berusaha mengingat kembali apa yang terjadi barusan antara dirinya dan Geof.


"Kau menciumku saat aku tertidur kan?" Teriak Merta.


"Kau sendiri yang memintanya! Apa kau tidak ingat?" Balas Geof kembali berteriak.


"Aku....aku yang minta?" Gumam Merta bingung.


"Tadi saat kau sedang tidur kau bilang begini, Geof ciumlah aku lagi!" Kata Geof mencoba untuk mengelabui Merta.


"Tidak mungkin! Tadi aku memimpikan seorang pangeran yang sedang menciumku, bukan kau." Teriak Merta kesal.


"Pangeran dari hongkong! Di apartemen ini aku lah pengarannya. Jadi kau yang minta di cium." Sahut Geof.


"Pangean apa kau? Pangeran katak?" Ujar Merta.


"Iya, aku pengeran katak yang telah berubah menjadi pengeran tampan setelah mencium bibir seorang putri yang cantik, hehehhe." Tukas Geof cengengesan.


"Dasar pria gila." Ujar Merta beranjak hendak masuk ke dalam kamarnya.


"Mau kemana kau? Aku belum selesai nonton. Temani aku!" Teriak Geof pada Merta.


"Bodo amat! Aku mau tidur." Sahut Merta tak perduli dan langsung masuk kedalam kamar.


Geof terkekeh melihat Merta kesal padanya. Ia kembali duduk di sofa sambil senyum-senyum mengingat kejadian yang baru saja terjadi antara dirinya dan juga Merta.


Di dalam kamarnya, Merta berbaring dengan wajah yang sangat merah. Ia mengingat apa yag dilakukan Geof padanya saat di ruang tengah.


Ia mengingat saat Geof mencium dan meraba-raba tubuhnya. Pipinya sangat merah saat mengingat kejadian tersebut.


"Huh! Dasar pria yang menyebalkan! Aku bisa gila jika tinggal seatap dengannya selama 2 tahun." Gumam Merta menarik selimut sampai menutupi kepalanya.


 


 


Keesokan harinya, Merta bangun membersihkan seluruh ruangan dan menyiapkan sarapan untuk Geof yang akan menjadi majikannya selama dua tahun.


Geof masih tidur di dalam kamarnya, padahal saat itu jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi.


Tak lama kemudian, merta mendengar bel pintu berbunyi.


Ia pun segera membuka pintu apartemen miliki Geof itu.


"Anda cari siapa tuan?" Tanya Merta pada Boy yang datang mencari Geof.


"Kau siapa?" Tanya Boy pada Merta.


"Aku pelayan tuan Geof." Jawab Merta.


"Pelayan secantik ini! Yang benar saja." Gumam Boy dalam hatinya menatap Merta.


"Apa Geof ada di sini?" Tanya Boy.


"Ada, dia masih tidur!" Jawab Merta.


"Aku ada perlu penting denganya.Tolong bangunkan majikanmu." Kata Boy.


"Baiklah tuan, silahkan masuk." Merta mempersilahkan Boy masuk kedalam.


Merta menuju kamar Geof untuk membangunkannya. Merta mengetuk pintu kamar Geof dengan perlahan sambil memanggilnya.


"Tuan." Panggil Merta pada Geof.


"Berisik!" Teriak Geof kesal di bangunkan.


"Tuan, ada tamu yang ingin bertemu denganmu, katanya ada urusan penting." Kata Merta.


Sambil berdecak kesal geof bangun dan membuka pintu kamarnya.Pipi merta memerah melihat geof telanjang dada saat itu.


Merta menundukkan pandangannya.dan Geof tersenyum mesum kepada Merta.


"Apa kau terpesona melihat tubuhku, Mertarya?" Ucap Geof.


"Dasar gila." Ujar Merta.


"Hahaha." Geof tertawa lebar melihat Merta kesal dan pergi menuju dapur.


Dengan rambut yang masih acak-acakan, Geof pergi menuju ruang tamu dan kaget melihat Boy menunggunya duduk di sofa.


"Ternyata kau! Mau apa kau menemuiku?" Tanya Geof ketus pada Boy.


"Hei, kau masih marah padaku karena aku bertunangan dengan Gaby?" Tanya Boy pada Geof.


"Kau tau aku sedang mengejar Gaby saat itu, tapi kau malah main belakang denganku." Ujar Geof.


"Geof kita bersahabat dari kecil hanya gara-gara satu wanita kau mau bermusuhan denganku? Lagian keluarga kami yang ikut andil dalam pertunangan kami." Kata Boy.

__ADS_1


"Cepat katakan! Apa yang kau inginkan dariku?" Tanya Geof pada Boy.


"Aku ingin menjalin bisnis dengan perusahaan keluargamu, kata om luky itu urusanmu, makanya aku datang mencarimu." Sahut Boy.


"Aku sedang malas!" Ujar Geof.


"Ayo lah kawan, mau sampai kapan kau akan begini terus! Kasihan orang tuamu." Kata Boy.


Geof terdiam sejenak mencerna perkataan Boy.


"Pergilah! Aku akan menemuimu di kantor papaku." Kata Geof.


Boy tersenyum pada Geof.


"Hei, siapa pelayan barumu itu? Apa dia memang benar-benar seorang pelayan? Atau dia pelayan hanya untuk di ranjangmu saja?Hehehe." Tanya Boy.


"Pergi sana! Nanti aku akan menemuimu di kantor." Sahut Geof yang tak ingin berbagi cerita pada Boy.


Boy berlalu sambil cengengesan. Boy pun pergi dari apartemen itu dan memutuskan untuk menunggu Geof di kantor Luky.


Geof masuk ke kamarnya dan berbaring di atas ranjangnya lagi.


Ia menatap langit-langit kamarnya.


"Tak terasa usiaku sudah 27 tahun sekarang! Sudah cukup main-mainnya,sekarang waktunya aku membalas kebaikan orang tuaku." Gumam Geof dalam hatinya.


"Tapi aku sangat malas, aku lebih suka bermalas-malasan dirumah saja.itu lebih menyenangkan dari pada menatap layar laptop di ruang kantor." Kata Geof.


Di dapur Merta melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 10 pagi.


saat Geof dan Boy sedang berbincang di ruang tamu, tanpa sengaja Merta mendengar perbincangan mereka.


"Apa dia tidak jadi untuk pergi menemui temannya di kantor? Jangan-jangan dia tidur lagi!" Gumam Merta dalam hatinya.


Merta pun berjalan menuju kamar Geof, ia kembali mengetuk pintu kamar untuk memastikan Geof kembali tidur atau tidak.


"Tuan! Tuan Geof." Panggil Merta sambil mengetuk pintu kamarnya.


"Heemm." Sahut Geof masih memejamkan matanya.


Ternyata Geof tidur lagi di kamarnya setelah Boy pergi dari apartemennya.


"Tuan, tadi aku dengar katanya kau ingin pergi ke kantor, ada janji dengan temanmu." Kata Merta mengingatkan Geof.


Geof membuka matanya lebar-lebar dan melompat turun dari ranjang. Ia langsung berlari ke kamar mandi.


"Kenapa tidak bangunkan aku dari tadi sih?" Teriak Geof pada Merta yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.


"Dasar pria gila! Dibangunkan salah,Tidak di bangunkan juga salah. Menyebalkan!" Merta ngedumel sendiri melihat sikap Geof padanya.


Setelah selesai mandi, geof buru-buru memakai pakaiannya.


Sangking terburu-burunya, ia ke ruang makan untuk sarapan dengan kemeja yang belum di kancing dengan benar.


Merta melihat kemeja Geof yang tampak aneh saat itu.


Ia mendekat pada Geof yang makan roti isi sambil berdiri.


"Kancingnya salah." Kata Merta mencoba untuk membenarkan kancing kemeja Geof.


Wajah Geof merona merah saat merta mengancingkan kemejanya.


"Sudah selesai!" Seru Merta ceria dengan ceria.


"Eh, maaf tuan! Aku hanya membantu memperbaiki kancing kemejamu." Kata Merta sedikit menjauh dari Geof.


Geof meletakkan roti isi di atas piring dan meraih tubuh Merta dengan cepat.


"Kau sangat menggemaskan, Merta." Ucap Geof.


Geof kembali mencium Merta saat itu juga. Merta mencoba mendorongnya, namun Geof terus memaksa untuk menciunya. Setelah puas menciumnya dengan paksa, Geof mengelus pipi Merta yang sudah sangat merah saat itu.


"Makanya jadi wanita jangan terlalu cantik! Aku kan jadi khilaf. Hehehe." Kata Geof seraya melepaskan dekapannya dari tubuh Merta.


Sambil terus cengengesan, Geof mengambil jasnya dan pergi dari apartemennya. Sementara Merta berdecak kesal karena Geof terus-terusan menciumnya dengan paksa. Hari itu Merta terus saja kesal sambil mengerjakan pekerjaannya sebagai pelayan di  apartemen Geof. Saat sedang masak untuk makan siang, Merta membayangkan wajah Geof yang tersenyum mesum padanya. Kala itu Merta sedang memotong sayuran, Merta kesal memotong sayuran dengan pisau dan menganggap sayuran itu adalah tubuh Geof.


 


* * *


Saat menunggu kedatangan Geof, Boy duduk di dalam ruang kerja Geof sambil membaca beberapa berkas yang ia bawa. Luky membuka pintu ruangan Geof dan melihat Boy di sana.


"Aku pikir Geof berada di ruanganya." Kata Luky kemudian masuk dan duduk di hadapan Boy.


"Sebentar lagi dia akan datang, om." Sahut Boy.


"Oh begitu! Sudah berhari-hari dia tidak pulang kerumah ataupun datang ke kantor." Kata Luky.


"Dia sedang berada di apartemennya." Kata Boy.


"Iya. Om juga berpikir seperti itu." Sahut Luky.


Tidak lama kemudian, Geof masuk ke dalam ruangannya itu dan melihat Luky juga Boy di sana. Geof langsung duduk di samping Luky saat itu.


Ppllleeettaaakkkk.............


Luky menjitak kepala Geof dengan rasa kesalnya.


"Aduh! Kenapa papa memukulku?" Tanya Geof pada Luky.


"Sudah berhari-hari kau tidak pulang kerumah bahkan kau tidak masuk ke kantor! Apa saja yang kau lakukan selama beberapa hari ini?" Teriak Luky kesal pada putranya itu.


"Aku tidur di apartemenku, pa." Sahut Geof.


"Apa kau tau, mamamu hampir setiap malam menangis karena khawatir padamu." Kata Luky lagi.


"Iya, nanti aku pulang kerumah." Kata Geof.


"Bagus kalau begitu!" Ujar Luky sembari keluar dari ruangan Geof.


Setelah Luky keluar dan menutup pintunya, Boy duduk mendekati Geof.


"Hei, kalau kau pulang kerumahmu, bagaimana nasib wanita cantik yang ada di apartemenmu itu?" Tanya Boy sambil meledek Geof.

__ADS_1


"Dia itu hanya pelayan. Biarkan saja dia di sana." Sahut Geof.


"Pelayan secantik itu? Kau ini yang benar saja!" Kata Boy tidak percaya pada ucapan Geof.


"Dia memang pelayan." Sahut Geof lagi.


"Hei, aku rasa dia cocok untuk kau jadikan kekasihmu, Hehehe." Kata Boy.


"Hehehe. Aku juga berpikiran seperti itu." Kata Geof.


Boy mengerutkan dahinya menatap Geof yang cengengesan.


"Hei, maksudku, kau jadikan dia kekasihmu yang sebenarnya bukan wanita yang kau giring ke atas ranjangmu." Ucap Boy.


"Hehehe." Geof hanya cengengesan saja sambil memutar pulpen yang ada di tangannya.


"Otakmu hanya bisa mesum saja." Ujar Boy pada Geof.


Pria yang sedang berbincang di dalam ruangan itu tidak menyadari kalau Luky sedang menguping pembicaraan mereka di luar pintu. Luky melebarkan senyumnya saat tau alasan Geof yang tidak pulang kerumahnya selama berhari-hari.


"Siapa wanita yang mereka bicarakan? Aku harus cari tau." Gumam Luky dalam hatinya.


 


 


Sore itu Geof pulang kerumah orang tuanya. Lita yang telah berhari-hari tidak melihat putra kesayanganya itu menyambut kepulangan Geof dengan gembira. Lita memeluk putranya yang baru saja pulang dari kantor bersama Luky.


"Kenapa kau baru pulang? Darimana saja kau?" Tanya Lita pada Geof.


"Aku menginap di apartemenku, ma." Jawab Geof.


"Aku sangat khawatir karena kau tidak pulang dan tidak mengabari apapun padaku." Kata Lita.


"Iya, ma. Maaf!" Ucap Geof.


Lita dan Geof berjalan sambil berangkulan untuk masuk kedalam rumah, sementara Luky masih bengong melihat istri dan putranya yang tidak perduli dengan keberadaan dirinya.


"Huh, mereka mengacuhkan aku!" Ucap Luky berdengus kesal.


 


Geof makan malam dirumah dengan kedua orang tuanya. Saat itu Luky dan Lita memperhatikan sikap Geof yang sedikit gelisah sambil melirik jam dinding berulang kali. Lita menyenggol siku Luky sebagai kode untuk menanyakan apa yang telah terjadi pada putranya itu.


"Ada apa denganya?" Bisik Lita pada Luky.


"Dilema!" Sahut Luky berbisik.


"Huh, jawabanmu selalu saja membuatku semakin bingung!" Ujar Lita.


Luky hanya menahan tawanya saat Lita kesal dan kebingungan melihat putranya yang sedang gelisah.


"Geof, ada apa? Kelihatannya kau sangat gelisah." Tanya Luky.


"Tidak! Biasa saja." Sahut Geof.


"Jika kau gelisah hubungi saja dia." Kata Luky.


"Dia siapa maksud papa?" Tanya Geof gugup sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Ya untuk saat ini sih aku belum tau siapa yang kau gelisahkan itu. Hehehe." Jawab Luky membuat Geof semakin gugup.


"Hahaha, tiba-tiba aku kenyang! Aku pamit ke kamar duluan ya, pa, ma." Kata Geof langsung melarikan diri.


Lita bengong melihat anaknya yang saat itu tidak menghabiskan makan malamnya. Luky cengengesan melihat putranya yang berlari menaiki anak tangga.


"Hahaha, dia langsung kabur!" Kata Luky tertawa.


"Ada apa sih?" Tanya Lita.


"Kita akan segera punya menantu!" Sahut Luky.


"Benarkah?" Tanya Lita antusias dan kegirangan.


Luky mengangguk.


"Baiklah, kalau begitu aku akan segera mempersiapkan pernikahan untuk putraku." Kata Lita.


"Hei..hei, mereka itu belum saling jatuh cinta! Jangan terburu-buru begitu." Sahut Luky.


Lita kembali bingung mendengar ucapan Luky.


"Bagaimana mungkin itu terjadi? Kau bilang kita akan segera punya menantu." Ujar Lita puyeng.


"Hah, aku lupa kalau aku memiliki istri yang bodoh." Gumam Luky.


"Hei, aku ini tidak sebodoh yang kau pikirkan!" Teriak Lita tidak terima di bilang bodoh oleh Luky.


 


Di dalam kamarnya Geof teringat akan Merta yang sendirian di apartemen. Geof mengambil ponselnya dan menghubungi telepon yang ada di apartemen tersebut.


"Halo." Ucap Merta mengangkat telepon dari Geof.


"Ini aku!" Sahut Geof yang mengagetkan Merta.


"Oh tuan. Ada apa tuan?" Tanya Merta.


"Malam ini aku tidak pulang." Jawab Geof.


"Hore!" Seru Merta girang, sedangkan Geof kesal.


"Apa kau terlalu senang jika aku tidak pulang, hah?" Teriak Geof.


"Hehehe, maaf tuan, bukan begitu maksudku." Sahut Merta.


"Ya sudah kalau begitu." Kata Geof mematikan sambungan teleponnya.


Geof berdengus kesal mengetahui kalau Merta sangat gembira bila tidak ada dia di apartemen.


"Awas kau Merta, jika aku kembali ke apartemen akan aku ***** kau sampai habis!" Ujar Geof kesal.


Semetara di apartemen Merta melompat-lompat kegirangan karena Geof tidak akan mengganggunya untuk sementara waktu.

__ADS_1


"Yes...yes! Akhirnya malam ini aku akan tidur nyenyak semalaman. Hahaha." Ucap Merta jejingkrakan senang.


__ADS_2