WANITA CEO TAMPAN

WANITA CEO TAMPAN
GADIS ITALI


__ADS_3

Merta keluar dari kamar mandi setelah ia membersihkan dirinya. Ia melirik pada Geof yang baru saja selesai bicara melalui ponselnya.


"Kau bicara dengan siapa barusan?" Tanya Merta pada Geof.


"Pada Lutfi dan juga asistenku di kantor." Sahut Geof.


"Ada apa? Apa ada masalah di kantor?" Tanya Merta.


"Tidak! Aku hanya menyerahkan tugasku selama beberapa hari kepada mereka." Sahut Geof.


"Memangnya kau mau kemana?" Tanya Merta bingung.


"Aku ingin disini bersamamu selama seminggu! Aku ingin mengenang semua kenangan indah kita, sayang." Sahut Geof memeluk Merta yang hanya menggunakan handuk kimononya saja.


"Kau ingin mengenang atau menindasku?" Tanya Merta dengan tatapan sewot pada Geof.


"Dua-duanya! Hehehe." Sahut Geof seraya melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


"Aku ini sedang hamil, bodoh! Seenak jidatmu saja ingin menindasku!" Ujar Merta kesal pada Geof yang hanya tertawa saat menanggapi ucapan Merta padanya.


Untuk mengenang masa lalu mereka yang penuh lika-liku dalam percintaan, Geof dan Merta pun menginap di apartemen mewah itu selama seminggu lamanya.


 


Beberapa bulan kemudian, Geof pergi ke beberapa negara untuk perjalanan bisnisnya. Saat itu kandungan Merta sudah menduduki usia hampir 9 bulan. Dengan berat hari, Geof terpaksa pergi untuk meninggalkan Merta selama hampir dua minggu lamanya.


"Jangan keluar dulu ya, nak! Tunggu ayah kembali." Ucap Geof sebelum berangkat pergi perjalanan bisnis sambil mencium perut Merta yang membesar itu.


"Jaga dirimu baik-baik ya, sayang? Aku akan selalu menghubungimu di sela-sela waktuku nanti." Kata Geof sembari mencium kening Merta.


"Iya! Fokuslah pada pekerjaanmu disana! Aku akan menjaga diriku disini. Lagipula, disini ada papa dan juga mama yang akan menjagaku." Sahut Merta memeluk mesra suaminya.


Dengan langkah yang agak berat, Geof pun berangkat pergi menjalani perjalanan bisnisnya itu. Merta pun ikut sedih karena di saat kondisinya yang sedang hamil tua dan menantikan kelahiran bayi mereka, ia harus terpisah oleh jarak dan juga waktu dengan Geof.


Seminggu kepergian Geof yang kini berada di negara gingseng itu, membuat Merta duduk melamun dan merindukan sosok suaminya. Merta duduk di dalam sebuah ruangan yang sudah di cat dengan warna pink, dan dihiasi dengan perabot serta pernak-pernik dengan warna yang serupa.


"Aku merindukan ayahmu, nak!" Ucap Merta sambil mengelus perutnya dan menatap keluar jendela.


Saat sedang melamun, Lita masuk ke dalam ruangan yang akan menjadi kamar untuk anak kedua Geof dan Merta.


"Kau merindukan Geof, ya?" Tanya Lita pada menantunya itu.


"Iya, ma!" Sahut Merta lirih.


"Hah, begitulah cinta! Disaat dekat saling menghujat, dikala jauh saling merindukan." Kata Lita.


"Aku juga sering merasakan hal itu pada si kakek peyot itu dulu! Saat dia pergi untuk perjalanan bisnisnya, aku sampai nangis-nangis tak rela di tinggal olehnya, tapi saat dia dekat denganku, aku selalu saja ingin mematahkan tulang lehernya itu!" Sambung Lita lagi.


"Hehehe, kalau tulang leher papa patah, papa jadi teleng dong!" Sahut Merta cengengesan.


"Hehehe, iya kau benar!" Kata Lita ikut tertawa.


"Oh iya ma, Gading mana ya?" Tanya Merta.


"Cucuku sedang sibuk merayu seorang gadis melalui ponselnya!" Sahut Lita.


"Apa merayu gadis? Siapa?" Tanya Merta.


"Aku juga tak tau siapa? Tapi yang ia katakan padaku, ia berkenalan dengan seorang gadis yang tinggal di Itali!" Sahut Lita.

__ADS_1


"Itali? Siapa sih?" Gumam Merta bingung sekaligus penasaran.


"Aku lihat Gading dulu ya, ma!" Kata Merta mencari putranya yang genit itu.


Merta pun berkeliling rumah yang besar itu untuk mencari keberadaan putranya yang masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak itu. Di ruang kerja ayahnya, dengan santai Gading duduk sambil cengengesan dengan sebuah ponsel di telinganya.


"Ayo kirim fotomu! Aku ingin melihat wajah cantikmu, sayang. Hehehehe." Ucap Gading yang tak sengaja terdengar oleh Merta dari balik pintu ruang kerja Geof. Merta melirik ke dalam dan melihat Gading duduk di kursi kerja Geof dengan posisi kedua kaki naik ke atas meja layaknya bos besar yang sedang duduk santai.


"Ya Tuhan, anak ini!" Gumam Merta sengaja berdiam diri untuk menguping pembicaraan putranya itu.


"Benarkah aku tampan? Hehehe." Ucap Gading lagi cengengesan dengan wajah memerah.


"Kirim fotomu sekarang ya? Aku juga ingin melihat wajahmu!" Kata Gading lagi berbicara dengan seseorang di telepon.


Tak lama kemudian, tiba-tiba Merta mendengar putranya berseru dengan girang sambil menatap layar ponselnya.


"Wah, dia sangat cantik! Hehehe." Seru Gading terus saja cengengesan.


Merta yang sudah tak tahan dengan jiwa penasarannya, jalan berjengkat mendekati putranya itu. Ia terus mendekat dan kemudian merampas ponsel mahal milik Gading. Betapa kagetnya Gading ketika melihat Merta merampas ponselnya. Tak kalah terkejutnya, Merta melihat foto yang ada di ponsel Gading.


"Huh, bunda ini! Selalu saja menggangguku." Ujar Gading sewot.


"Eh, sepertinya aku pernah melihat gadis kecil ini! Tapi dimana ya?" Gumam Merta berpikir keras.


"Bunda, dia itu adalah jodohku dari Tuhan! Setelah aku dewasa, aku akan menikahinya." Kata Gading berlagak seperti orang dewasa.


Ppppeeettaaakk..............


"Apa yang sering aku katakan padamu, Gading?" Tanya Merta setelah membentuk benjolan di kepala putranya itu.


"Bicaralah sesuai dengan usia." Sahut Gading lirih sambil meraba benjolan yang ada di kepalanya.


"Bunda." Panggil Gading.


"Apa?" Tanya Merta.


"Ponselku!" Sahut Gading.


"Bunda akan sita ponselmu!" Ujar Merta melangkah keluar dari ruang kerja Geof.


"TTIIIDDDAAAKKKKK!" Teriak Gading frustasi.


"Huhuhuhu, bunda sangat kejam! Aku saja belum puas melihat calon istriku itu, tapi bunda malah menyita ponselku! Huuuwwwaaaa....." Teriak Gading nangis histeris.


 


 


*****


Beberapa hari kemudian, Merta sedang tidur di atas ranjang senyaman mungkin dengan kondisi perut yang besar itu. Di usia kehamilannya yang kini sudah 9 bulan, Merta sering merasa tak nyaman jika berbaring di ranjangnya. Di tambah lagi ia begitu merindukan sosok sang suami yang selalu mendekapnya ketika tidur. Hal itulah yang menjadi faktor utama bagi Merta sering terbangun tengah malam.


Di saat dirinya baru saja terlelap tidur, Merta merasa seperti ada orang yang sedang mendekapnya. Merta yang belum sepenuhnya terbangun, meraba-raba sesuatu yang ada di sebelahnya.


"Apa ini?" Gumam Merta membuka matanya secara perlahan.


Merta kaget ketika ia melihat dada bidang yang begitu dekat dengan dirinya. Merta pun mendongak ke atas dan melihat wajah Geof yang tersenyum lebar padanya.


"Sayang?" Ucap Merta menatap Geof.

__ADS_1


"Iya! Kau terbangun." Sahut Geof.


"Kapan kau kembali? Kenapa tidak bilang padaku?" Bukannya kau pergi selama dua minggu?" Tanya Merta.


"Aku merindukanmu! Aku sangat ingin mendampingimu ketika kau melahirkan nanti." Sahut Geof seraya memberikan ciuman hangatnya pada kening Merta.


"Aku juga sangat merindukanmu, sayang!" Balas Merta membenamkan wajahnya pada dada bidang Geof.


"Kembalilah tidur! Aku akan mandi sebentar." Kata Geof pada Merta.


"Iya." Sahutnya.


Geof yang baru saja tiba dari perjalanan bisnisnya melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum ia menemani sang istri tidur bersamanya. Keesokan paginya saat sedang sarapan, Geof melihat wajah murung sang putra yang bahkan tak berselera untuk makan sehingga Lita kewalahan dibuatnya.


"Ada apa denganmu, nak?" Tanya Geof pada Gading.


"Ponselku!" Sahutnya dengan wajah yang menyedihkan.


"Kenapa ponselmu? Rusak? Nanti ayah belikan yang baru!" Kata Geof sambil mengunyah makanannya.


"Disita bunda! Huuuwwwaaa......" Sahut Gading lagi yang tiba-tiba saja nangis histeris.


Geof, Lita dan juga Luky menatap kesal pada Merta yang duduk makan dengan santai.


"Apa? Kenapa menatapku begitu?" Ujar Merta seakan tak perduli dengan tangisan putranya.


"Kenapa kau menyita ponselnya?" Tanya Geof pada Merta.


"Ingin saja!" Sahut Merta masih santai.


"Ayah tanya padamu, kenapa bunda sampai menyita ponselmu, Gading?" Tanya Geof pada putranya.


"Eeeemm, bunda cemburu karena aku sudah memiliki calon istri!" Sahut Gading yang membuat Luky tersedak makanan.


"Uhuk...uhuk....uhuk!" Luky tersedak makanan saat mendengar perkataan bocah yang berusia 5 tahun itu.


"Hah, dasar kakek peyot!" Ujar Lita menggebuk punggung Luky yang sedang tersedak makanan.


"Hei, kau memukul pungguku terlalu kuat, Lita! Dasar istri durhaka, kau!" Teriak Luky kesal pada Lita yang enggan menanggapi teriakannya itu.


"Siapa calon istrimu?" Tanya Geof pada Gading.


"Seorang gadis yang tinggal di Itali! Hehehe." Sahut Gading cengengesan.


"Wah, apakah dia gadis bule yang sexy? Hehehehe." Bisik Geof pada telinga Gading namun masih terdengar oleh Merta.


"Hehehehe, iya!" Sahut Gading dengan wajah yang memerah.


"Wah, kalau begitu aku merestuimu, nak!" Seru Geof yang memancing amarah wanita hamil yang duduk di sebelahnya.


"Baiklah! Aku akan menikahinya jika aku sudah dewasa nanti." Sahut Gading antusias.


Pppplllleeetttaaakkkk.............


Pppplllleeettttaaaakkk............


Geof dan Gading yang semula cengengesan seketika terdiam dan fokus pada sarapannya setelah mendapatkan amukan dari Merta yang tak tahan lagi mendengar perbincangan ayah dan anak itu. Luky dan Lita hanya bisa menghela nafas melihat benjolan pada kepala putra dan cucunya yang somplak itu.


"Sudah tau Merta itu garang, malah mancing keributan!" Gumam Luky sambil melirik sang menantu yang duduk tegak dalam mengunyah makanannya.

__ADS_1


"Dasar bodoh!" Gumam Lita yang melirik pada Geof dan juga Gading.


__ADS_2