
Merta dan Geof masih berbaring di atas ranjang tidur mereka. Geof melirik Merta yang berbaring membelakangi dirinya. Entah apa yang membuat tangannya membelai helaian rambut Merta yang terurai panjang itu. Geof merasakan hal aneh yang bergejolak di dalam hatinya saat ia membelai rambut Merta. Geof menarik kembali tangannya saat Merta tiba-tiba berbalik menghadapnya.
"Geof, aku ingin pulang ke kampungku! Ibuku sakit dan masih kritis." Kata Merta meminta izin pada Geof.
"Pergilah!" Sahut Geof.
Merta bingung karena Geof begitu mudahnya memberikan izin kepadanya. Merta bangkit dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Geof masih berbaring menghadap langit-langit kamar. Tak lama kemudian ia bangkit dan memakai kembali celananya. Ia duduk di tepi ranjang dengan bertelanjang dada untuk menunggu Merta selesai dari kamar mandi. Geof tampak sedang menghubungi Lutfi sebagai supir pribadi Merta.
"Antar dia ke kampungnya! Tapi kau jangan lupa untuk terus mengawasi apa yang terjadi disana. Jika terjadi masalah yang membuat Merta sedih, cepat beritahu aku!" Perintah Geof pada Lutfi melalu telepon seluler miliknya.
"Baik, tuan!" Sahut Lutfi memiliki peran ganda dalam tugasnya.
Tak lama kemudian, Merta keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang lengkap. Ia sudah terlihat lebih segar dengan pakaian santai yaitu celana jeans panjang dan juga baju kaosnya. Geof masih melirik Merta yang sedang sibuk memasukkan barang-barang keperluannya untuk pulang kampung.
"Geof, aku pergi dulu." Ucap Merta pada pria yang terlibat kontrak padanya.
"Tunggu sebentar!" Kata Geof menahan Merta.
Geof bangkit dan melangkah menuju ke sebuah brangkas besi miliknya. Geof mengambil segepok uang yang akan ia berikan kepada Merta.
"Ambil uang ini untuk biaya keperluan ibumu dirumah sakit." Kata Geof memberikan segepok uang padanya.
"Tidak usah! Uang tabunganku cukup untuk membiayai pengobatan ibuku." Sahut Merta menolak.
"Ambil ini dan pergilah sebelum aku berubah pikiran untuk tidak mengizinkanmu pergi." Kata Geof.
Mau tak mau Merta mengambil uang tersebut dan pulang kampung untuk menjaga ibunya yang sedang sakit. Merta pergi diantarkan oleh Lutfi. Di dalam kamarnya, Geof kembali duduk sambil menghela nafas dengan berat. Ia seakan tidak rela jika Merta berjauhan dengannya. Namun apa yang bisa ia lakukan kepada wanita yang menjadi teman di ranjangnya itu. Ia juga tak tega menahan Merta yang akan menjaga ibunya yang sedang sakit dirumah sakit.
Apartemen yang tampak sepi tanpa kehadiran Merta disana membuat Geof ingin segera tidur setelah ia selesai mandi. Saat akan tertidur lelap, ponselnya berdering. Geof kembali membuka matanya dengan malas. Ia melihat panggilan dari salah satu orang suruhannya untuk menghancurkan Eva.
"Bos, misi selesai! Tempat perjudian itu telah di grebek oleh polisi dan Eva sudah di tangkap polisi karena kasus prostitusi terselubung di tempat itu." Kata orang suruhannya.
"Bagaimana dengan pemilik tempat perjudian itu? Apa dia tertangkap?" Tanya Geof.
"Sesuai dengan keinginan kita, bos! Pemilik tempat perjudian itu melarikan diri sebelum polisi datang." Sahut orang suruhannya.
"Bagus! Dengan begitu rencana kita akan semakin lancar." Kata Geof tersenyum jahat.
"Atur orang untuk memfitnah Eva pada pemilik tempat perjudian itu!" Perintah Geof.
"Siap, bos!" Sahutnya.
Setelah menutup teleponnya, Geof kembali tersenyum jahat sambil menggenggam ponselnya dengan erat.
"Kau tidak akan selamat jika bosmu itu mengira kalau kau yang membocorkan rahasia di tempat perjudian itu, Eva! Hehehe. Itu adalah harga mati karena kau berani bermain api dengan wanitaku." Gumam Geof sangat murka pada Eva.
*****
Merta tiba di rumah sakit dan bertemu dengan Maya yang menunggu ibunya dirumah sakit. Merta terlihat sangat cemas dengan kondisi ibunya itu.
"Bagaimana kondisi ibu? Apa masih kritis?" Tanya Merta pada Maya.
"Kata dokter kondisinya sudah tidak kritis lagi, namun ia masih belum sadarkan diri." Jawab Maya.
"Apa urusanmu di kota sudah selesai?" Tanya Maya pada keponakannya itu.
"Sudah, tante." Sahut Merta.
Merta berdiri di depan tembok kaca dan melihat ibunya yang terpasang selang di hidung juga tangannya. Air mata Merta mengalir begitu saja. Ia merasa sangat bersalah atas apa yang menimpa ibunya saat itu.
"Ibu maaf! Jika saja aku tidak menjadi wanitanya Geof, mungkin ibu tidak akan seperti ini." Gumam Merta dalam hatinya.
Merta masuk ke dalam ruang tempat ibunya di rawat dengan pakaian yang khusus untuk masuk ke ruangan ICU itu. Merta duduk di samping ibunya sambil memegang tangan ibunya. Merta terus menangis di samping ibunya.
"Ibu maafkan aku!" Ucap Merta menangis dengan sedihnya.
Saat itu Merta merasakan kalau tangan ibunya bergerak. Merta kaget dan menatap wajah ibunya yang terlihat pucat. Merta melihat mata ibunya bergerak seakan hendak terbuka.
"Ibu!" Ucap Merta berupaya untuk membuat ibunya sadar.
Merta beranjak keluar dari ruang ICU itu untuk memanggil dokter. Dokter segera masuk dan memeriksa kondisi ibu Merta yang baru saja siuman. Dokter mengatakan pada Merta kalau kondisi kesehatan ibunya masih lemah. Dokter keluar dari ruangan itu setelah ia melakukan tugasnya.
Merta kembali duduk di samping ibunya. Merta hendak menggenggam tangan ibunya itu. Namun tiba-tiba ibunya menepis tangan Merta.
"Ibu, kenapa? Ada apa?" Tanya Merta pada ibunya.
"Kau bukan anakku lagi!" Ucap ibu dengan nada yang masih lemah.
Merta kaget dengan apa yang barusan ibunya katakan padanya. Merta seakan tidak percaya perkataan itu keluar dari mulut ibunya.
"Ibu, jangan katakan itu! Aku sangat sedih." Kata Merta dengan wajah yang basah karena air matanya.
"Pergi kau bersama pria yang telah menghamili dirimu." Kata ibu lagi membuat Merta terkejut.
"Hamil? Aku tidak hamil, Bu!" Kata Merta.
Ibu memalingkan wajahnya dari Merta. Merta tak sanggup menahan sakit di hatinya. Ia keluar dari ruang ICU dengan tangisan yang tak bisa ia tahanan lagi. Merta duduk di bangku taman rumah sakit sambil menangis sejadi-jadinya. Lutfi mengawasi Merta dari tempat yang tidak begitu jauh. Ia melihat Merta sedang menangis disana. Tak lama kemudian Maya datang menghampiri Merta yang sedang menangis.
"Merta, ada apa? Kenapa kau menangis? Apa kondisi ibumu memburuk lagi?" Tanya Maya panik.
"Tante, apa kau tau apa yang dikatakan oleh Eva saat bertemu dengan ibu?" Tanya Merta.
"Aku tidak tau! Karena saat itu aku sedang ke pasar." Jawab Maya.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Tanya Maya.
"Ibu mengira aku sedang hamil dengan seorang pria di kota. Ibu mengusirku dan mengatakan kalau aku bukan lagi anaknya." Sahut Merta kembali menangis.
__ADS_1
"Apa kau benar-benar hamil?" Tanya Maya.
"Aku tidak hamil, tante! Eva memfitnahku." Jawab Merta kesal.
"Hah, syukurlah!" Ucap Maya menghela nafas lega.
Lutfi mundur teratur setelah ia mendengar masalah yang sedang dihadapi oleh Merta. Ia melirik jam tangan yang menunjukkan waktu sudah tengah malam. Ia berpikir tidak mungkin menghubungi majikannya di waktu tengah malam untuk melaporkan apa yang sedang terjadi pada Merta. Lutfi mengurungkan niatnya dan berniat untuk menghubungi Geof esok pagi.
Keesokan paginya, Geof bangun dari tidurnya saat ia mendengar nada dering ponselnya. Ia meraih ponsel miliknya tanpa membuka matanya.
"Halo! Siapa ini?" Tanya Geof saat mengangkat teleponnya.
"Tuan, ini aku Lutfi! Ada informasi yang penting untukmu mengenai nona Merta." Kata Lutfi.
"Katakan padaku apa yang terjadi padanya?" Tanya Geof.
"Tuan, Eva memfitnah nona Merta dan mengatakan pada ibunya kalau nona Merta sedang hamil." Kata Lutfi.
"Apa?" Ucap Geof segera membuka matanya lebar-lebar.
Lutfi pun menceritakan semua yang terjadi pada Merta malam itu. Ia menceritakan kondisi Merta yang menangis semalaman dirumah sakit. Bahkan Lutfi juga menceritakan kalau Merta di benci oleh ibunya karena fitnah yang di katakan oleh Eva terhadap Merta.
Geof menutup teleponnya dengan kesal. Ia sangat marah karena Merta sedih gara-gara perbuatan Eva. Geof bangkit dari ranjang tidurnya dan segera pergi ke kamar mandi. Setelah ia selesai mandi, Geof melirik pada ponsel yang terus saja berdering. Ternyata itu panggilan telepon dari Luky.
"Ada apa, papa? Aku sedang sibuk." Kata Geof mengangkat telepon dari Luky.
"Kau sibuk apa di pagi hari? Cepat ke kantor! Ada rapat penting hari ini." Kata Luky.
"Papa, aku ada urusan yang lebih penting hari ini! Aku tidak mau ke kantor." Sahut Geof seraya menutup teleponnya.
Luky yang masih berada dirumah, berteriak kesal karena ulah putranya itu. Luky penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Geof pagi itu. Ia mengubungi Lutfi yang bekerja menjadi supir pribadi Merta. Luky terkekeh geli setelah tau apa yang menjadi penyebab putranya menolak untuk pergi ke kantor.
"Hehehe, dia tergila-gila pada Merta! Aku pasti akan segera punya cucu." Gumam Luky berkhayal disaat masa tuanya ia sedang bermain-main dengan cucu-cucunya.
"Dasar gila!" Ucap Lita melihat Luky tersenyum sendirian.
*****
Geof tiba di kampung halaman Merta dengan alamat yang diberikan oleh Lutfi padanya. Merta sangat terkejut melihat Geof datang kerumah sakit itu. Merta menarik tangan Geof untuk menjauh dari ruang rawat ibunya.
"Kenapa kau kemari? Keluargaku akan tau tentang hubungan kita nanti." Kata Merta panik.
"Aku kesini untuk menyelesaikan masalahmu. Minggir sana! Kau menghalangi jalanku." Sahut Geof dengan angkuhnya.
Geof kembali berjalan mendekat pada ruang rawat ibunya Merta. Merta mengejarnya dengan perasaan yang sangat panik. Saat itu Maya menghampiri Merta yang terlihat sangat panik.
"Merta, ada apa?" Tanya Maya.
Geof kembali mendekati Merta yang berdiri kaku bersama Maya.
"Hei, dimana ruangan ibumu?" Tanya Geof pada Merta.
Merta diam seribu bahasa dan tidak bisa berkutik di hadapan Maya.
"Merta, dia siapa?" Tanya Maya seraya menatap Geof.
Merta masih diam dan menundukkan wajahnya karena takut.
"Tante yang cantik, perkenalkan aku adalah bos Merta dari kota. Aku ingin menjenguk ibu Merta yang sedang sakit." Kata Geof tersenyum ramah pada Maya.
"Di..di..dia bilang aku cantik!" Ucap Maya melayang karena pujian Geof padanya.
"Tante....tante!" Pekik Merta untuk menyadarkan Maya.
"Apa kau yang bernama Geof?" Tanya Maya.
"Kau benar!" Sahut Geof.
"Hah, dia sangat tampan!" Ucap Maya menatap wajah Geof.
Merta menjadi sewot saat Maya memuji ketampanan Geof saat itu. Merta berkali-kali menyadarkan Maya yang terbius oleh ketampanan Geof.
"Dimana ruangan ibumu?" Tanya Geof tak sabar.
"Mau apa kau?" Tanya Merta kembali panik.
"Huh, banyak tanya! Katakan saja padaku, dimana ruangan ibumu, Merta!" Ujar Geof menahan kesalnya.
"Aku tidak akan memberitahukannya padamu!" Kata Merta sewot.
"Hah, ya ampun! Ingin sekali aku mencekik leherku itu, Merta!" Kata Geof menahan kesalnya berkali-kali.
Maya bingung sambil menatap Merta dan Geof secara bergantian. Maya melihat adegan pertengkaran antara Merta dan Geof disana. Maya mengira kalau Geof itu benar-benar bos di tempat Merta bekerja. Maya kesal saat Merta berani melotot pada Geof.
Ppplleeettaakk.....
Maya menghitam kepala Merta dengan keras. Geof kaget melihat Maya menjitak kepala Merta di hadapannya. Geof menarik garis senyumannya.
"Kenapa tante menjitak kepalaku?" Ujar Merta seraya mengusap kepalanya.
"Beraninya kau bersikap tidak sopan pada bosmu ini! Apa kau lupa kalau dia sudah menolongmu waktu itu? Kau juga memiliki hutang padanya kan?" Kata Maya kesal pada keponakannya.
"Huh, tante Maya menyebalkan!" Gumam Merta dalam hantinya.
Maya mengantar Geof untuk bertemu dengan ibu yang sudah dipindahkan keruang rawat biasa. Geof masuk dan melihat kondisi ibu Merta yang masih terbaring lemah. Geof berdiri di samping ibu dan tersenyum ramah padanya.
__ADS_1
"Kau siapa, tuan?" Tanya ibu pada Geof.
"Aku adalah bos di tempat kerja Merta." Jawab Geof sembari duduk di kursi yang diberikan oleh Maya.
Merta masuk ke dalam ruang itu dan berdiri agak jauh dari ibunya. Geof melihat ibu memalingkan wajahnya ketika Merta masuk. Merta tertunduk sedih saat ibunya memalingkan wajah darinya.
"Bu, aku kesini untuk menjengukmu sekaligus untuk meluruskan sesuatu mengenai Merta." Kata Geof.
Jantung Merta berdetak kencang saat Geof berbicara pada ibunya.
"Ada apa?" Tanya ibu.
"Apa Eva datang bertemu denganmu? Apa dia bilang kalau Merta sedang hamil?" Tanya Geof.
"Iya. Aku sangat malu dengan perbuatannya itu. Dia hamil dengan pria yang sudah beristri dan memiliki anak!" Sahut ibu menangis.
"Itu tidak benar! Merta tidak hamil." Kata Geof.
"Tapi foto itu menunjukkan kalau Merta keluar dari ruang dokter kandungan dirumah sakit kota." Kata ibu.
"Saat itu aku menyuruh Merta untuk mengantar temanku yang sedang hamil untuk melakukan pemeriksaan. Semua hanya salah paham dan Eva telah memfitnah Merta." Kata Geof terpaksa membohongi ibu.
"Apa itu benar? Jadi Merta tidak hamil?" Tanya ibu lagi.
"Iya, benar!" Sahut Geof.
"Oh, syukurlah!" Ucap Ibu.
"Tapi untuk apa Eva melakukan hal itu? Merta dan Eva berteman baik." Kata Maya.
"Eva dan aku tidak berteman lagi, tante. Dia selalu iri dengan apa yang aku dapatkan." Sahut Merta.
"Oh, begitu! Aku tak menyangka kalau Eva memiliki sifat yang tidak baik." Kata Maya.
Ibu melirik Merta yang berdiri jauh darinya. Ibu memanggil Merta untuk mendekat padanya. Merta berlari kecil dan segera memeluk ibunya sambil menangis.
"Maafkan ibu, nak! Ibu terlalu percaya pada ucapan orang lain daripada ucapan anak ibu sendiri." Kata ibu menangis memeluk Merta.
"Tidak ibu! Aku lah yang harus minta maaf padamu, karena masalahku dengan Eva, ibu menjadi sakit begini." Sahut Merta.
"Kondisi ibu memburuk bukan karena kesalahanmu, tapi memang penyakit ibu yang sudah menggerogoti tubuh ibu." Kata ibu.
"Ibu harus sembuh! Aku menyayangi ibu." Kata Merta.
Ibu menatap pada Geof yang masih duduk di samping ranjang rumah sakit. Ibu menggenggam tangan Geof dengan penuh harap.
"Tuan, aku mohon jagalah Merta saat dia berada di kota. Aku takut dia terpengaruh dengan hal-hal yang buruk di kota." Pinta ibu pada Geof.
"Baiklah! Aku janji akan menjaga Merta selama ia berada di kota. Ibu tidak perlu khawatir." Sahut Geof melirik Merta yang berdiri di depannya.
*****
Setelah bertemu dengan ibu Merta di dalam ruangan rumah sakit, Geof dan Merta berbicara di bangku taman rumah sakit. Merta menghela nafas lega setelah semuanya menjadi lebih baik. Geof menghembuskan asap rokok yang sedang ia hisap saat itu.
"Terima kasih ya Geof! Tadi kau sudah menyelamatkan hubungan antara aku dan ibuku." Ucap Merta.
"Hal itu tidak gratis, Merta!" Bisik Geof.
"Apa mau mu?" Tanya Merta pasrah.
"Hehehe, pasrah sekali kau!" Ujar Geof.
"Apa yang bisa aku lakukan? Kau itu pria pemaksa!" Kata Merta.
"Ikut aku melakukan perjalanan bisnis bulan depan!" Kata Geof.
"Kemana?" Tanya Merta.
"Nanti kau juga akan tau!" Jawab Geof.
"Aku tak janji!" Sahut Merta.
"Tidak ada bantahan!" Ujar Geof memaksa.
"Ibuku sakit, Geof! Bagaimana mungkin aku pergi denganmu?" Kata Merta.
"Apa kau budek? Aku bilang bulan depan! Aku sempat bertemu dengan dokter tadi, katanya 2 haru lagi ibumu sudah bisa pulang." Kata Geof.
"Ya sudah!" Sahut Merta.
"Mau menolak juga tidak bisa! Dasar pemaksa." Gumam Merta.
"Jangan mengeluh! Itu sudah menjadi tugas wanitaku!" Kata Geof.
"Eh, ngomong-ngomong kenapa kau mau melakukan hal ini padaku? Kenapa kau mau membantuku?" Tanya Merta.
"Karena aku sayang padamu!" Gumam Geof dengan suara yang pelan.
"Apa? Kau bilang apa tadi? Kau bilang sayang padaku kah?" Tanya Merta terkejut.
"Tidak! Kapan aku bilang aku sayang padamu? Dasar tukang mengkhayal!" Ujar Geof berdalih.
"Ya sudah aku mau balik ke kota, ada urusan yang ingin aku bereskan! Kau jangan lupa untuk kembali secepatnya ke apartemen setelah ibumu keluar dari rumah sakit." Kata Geof.
Merta masih diam saja menatap kepergian Geof dari rumah sakit itu.
"Perasaan aku tadi mendengar dengan jelas, kalau dia bilang dia sayang padaku tadi." Gumam Merta.
__ADS_1
"Ah, mana mungkin dia suka padaku! Dia pria kaya yang tampan dan aku hanya wanita kampung yang miskin! Tidak mungkin kan menjalin hubungan yang sebenarnya. Hah, Merta! Lebih baik kau tepis perasaan apapun terhadap Geof. Dia hanyalah pria yang terlibat denganmu selama dua tahun, dan setelah masa kontrak habis aku dan dia akan berpisah selamanya!" Gumam Merta lagi.